PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 48 : DIA ITU TOXIC


__ADS_3

Pras hanya pendiam tapi tidak buta. Ia selalu terluhat dingin, tetapi bukan berarti tidak memperhatikan orang lain, apalagi istrinya. Ia melihat bahkan sejak awal, jika ponsel istrinya dibl rebut dan tak langsung di kembalikan. Ia juga melihat upaya Mutia ingin mendapatkan kembali ponselnya. Hanya karena jauh, ia tidak dapat mendengar. Jika tadi ponsel istrinya sempat berbunyi dan sempat di VC oleh si brondong.


“Lelaki yang tadi menyerahkan ponselmu dari kantongnya, siapa?” Pras merasa perlu mendapatkan info dari sang istri.


"Itu Dino." Jawab Mutia cepat.


"Kenal dimana?"


"Dia kekasihku waktu kuliah dulu, Mas." Mutia jujur.


"Oh." Sudah begitu saja responnya.


"Mas ga papa, tadi aku sempat bicara sama dia?" Mutia mau lah liat suami cemburu.


"Orang punya mulut kok. Di larang bicara." Jawab Pras datar.


"Ya kali ... cemburu gitu. Kan dia mantanku Mas." Ucap Mutia agak manja. Sungguh ingin melihat wajah marah suaminya, saat memergokinya dekat dengan laki-laki lain, bahkan mantannya. Mutia lupa, jika lawan bicaranya itu Pras, bukan Dirga yang pandai bermain kata.


"Kan kamu dulu siapnya menikah denganku, bukan dia." Jawab Pras terdengar percaya diri.


"Ya itu kan, karena hanya Mas yang serius melamarku. Bukan dia." balas Mutia menatap serius bola mata suaminya. Ingin mencari tatapan takut atau gentar pada manik sang suami.


"Gak papa dia gak serius sama kamu. Toh, kamu juga gak di apa-apakannya sebelum halal." Pras menarik Mutia kedalam pelukannya. Rupanya Pras terlampau yakin pada Mutia. Sebab mendapatkan Mutia, masih segelan di malam pertama mereka. Bahkan tak perduli akan perasaan Mutia waktu itu. Apakah cinta dia atau belum. Baginya, seorang yang bersedia menikah dengannya, bahkan masih virgin. Adalah wanita yang bisa menjaga diri, dan masih memiliki keyakinan dalam diri untuk akan siap mengabdi pada lelaki yang akan di ambil sumpah untuk hidup bersama selamanya dalam suka dan duka.


"Terima kasih kepercayaannya." Jawab Mutia. Kemudian tidak ada lagi terdengar percakapan di antara mereka. Yang ada justru decakan berbalasan. Ya, pasangan suami istri itu menggantikan kegiatan malam mereka di siang hari. Sebab malamnya, mereka hanya beradu punggung. Karena Mutia sok mikirin anak-anak yang di tinggal mendadak.


Kegiatan bercinta mereka tidak lama, mungkin hanya berdurasi 20 menit saja. Rupanya hanya memastikan, jika cairan yang sejak kemarin tertunda untuk keluar sudah cukup bagi Pras. Pun dengan Mutia, yang hanya melakukannya atas dasar melayani. Bukan penikmat seperti sebelumnya. Sebab pikirannya sedang ada di sebuah desa, tempat di mana Dirga berada.


Ponsel Mutia berdering. Ada nama 'Dedeg' di sana. Mutia hanya memastikan jika panggilan itu dari brondongnya. Mutia tak berani menerima panggilan Dirga, sebab ada Pras di sisi kanannya. Sehingga, hanya membiarkan panggilan itu terus berdering, hingga terputus dengan sendirinya.


Bukan Dirga jika mudah menyerah.

__ADS_1


"Siapa?" rupanya waktu istirahat pasca bercintanya Pras terganggu oleh berisiknya suara panggilan di gawai Mutia.


"Dirga. Itu orang EO beberapa hari lalu." Jawab Mutia datar. Seolah tenang, dan merasa jika yang memanggilnya bukan orang penting. Padahal, hatinya ketar ketir ingin segera menerima panggilan dari kekasihnya.


"Kenapa tidak di jawab." lanjut Pras.


"Ah ... Gak penting." Jawab Mutia masih ingin berlama-lama di atas tempat tidur.


"Jangan begitu. Mungkin dia memang ada perlu." Saran Pras kemudian.


"Biar saja." Mutia sok malas-malasan. Sebab ada jeda pada panggilan tersebut.


Tapi kemudian tidak, saat panggilan ke 3 Dirga. Juga saat Pras beranjak dari tempat tidur. Bisa saja suaminya itu yang berinisiatif menerima panggilan tersebut. Lalu nama 'dedeg' itu. Bagaimana ia menjelaskannya.


"Selanat Sore, ada yang bisa di bantu?." Sapa Mutia dengan kalimat formal juga sedikit tegas.


"Ayank, lagi sama siapa?" Dirga mana peduli dengan sapaan formal kekasihnya di ujung gawai.


"Ada om Pras deket tante? Atau mantan tante tadi?" tanya Dirga lagi.


"Iya ... Kami semua berkumpul di sini. Mungkin sepulang ini. Kami bisa konsul lagi ke pihak EO kalian ya." Lagi ... Jawaban Mutia tidak sesuai dengan pertanyaan.


"Ada Om Pras?" ulang Dirga.


"Iya ... " baru ini jawaban yang sesuai pertanyaan Dirga.


"Ga sama Dinosaurus tadi lagi kan, yank?" ini brondong memang sulit di yakinkan.


"Mbak Nunuk memang penuh kejutan. Kami tiba-tiba di undang dengan pasangan masing-masing ke sini. Untuk acara ultahnya.


"Pindahkan ke mode VC, yank. Janji, ku ga keluar suara. Kalo di situ ada Om Pras." Lanjut Dirga yang ngeyel. Mutia segera mengganti jenis panggilan tadi ke mode VC.

__ADS_1


Sehingga brondongnya bisa melihat sendiri jika benar, ada Pras di kamar itu bersama kekasihnya. Parahnya, saat ponsel itu on cam. Pras yang hanya menggunakan boxer, berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Dirga menjaga mulutnya, untuk tetap diam. Seolah panggilan itu sudah berakhir.


"Mandi bareng, Mama Ra-Ra." tawar Pras sebelum masuk ke kamar mandi itu.


"Mas duluan saja, aku masih mau rebahan." tolak Mutia, masih dengan panggilan yang masih tersambung dengan kekasih gelapnya.


Tubuh Pras sudah hilang di balik pintu kamar mandi. Dan Mutia pun sudah merubah mode panggilan tadi ke panggilan suara.


"Tante sama Om habis bercinta?" tebak Dirga kepo.


"Masalah buat loe?" tanya Mutia sudah berani meladeni pertanyaan Dirga dengan sesuai.


"Gak siih. Wajar aja ... Asal sama Om." Jawab Dirga datar.


"Terus ... Kamu curiganya tante sama siapa begituan?"


"Sama Dinosaurus. Itu tadi kenapa sih, dia yang angkat VC ku?"


"Gak sengaja. Waktu dia minta no tante." Jawab Mutia jujur.


"Tante kasih?"


"Ya gimana lagi, terlaksa di kasih lah." Jawab Mutia lagi.


"Langsung di blokir aja, yank. Jangan sampai dia deket sama ayank lagi. Ingat dulu ... Dia yang ninggalin ayank tanpa alasan. Dia yang bikin ayank patah hati. Dia itu toxic." Halaaaaah... Brondong udah kayak paling bener aja ngenalin Mutia dan segala rasa dalam hatinya. Sehingga mulutnya sudah lebih resek dari Pras, suami Meutia sendiri.


"Ha ... Ha ... Jangan bilang dedeg cemburu dengan pria matang berusia 45 itu gg ..." Mutia justru merasa senang tetrdengar diposesifi oleh brondongnya."


"Ya iyalah. Dia itu mantannya ayank. Dia bukan hanya matang, tapi mapan dan masih tampan juga. Jangan sampai ayank oleng, mo CLBK sama dia. No tante, big no. Gak Boleh!!!." ketegasan macam ini justru yang membuat hati Mutia girang bukan kepalang. Sunggyh merasa di cemburui itu, bagi Mutia bagai presrastasi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2