
Pernikahan Cintya dan Arfan memang hanya secara siri. Namun sebagai orang yang tergolong mampu. Tetap saja di desa itu di laksanakan semacam syukuran. Yang mengundang warga desa dan tentunya mahasiswa/mahasiswi yang sedang berKKN di sana untuk ikut mendoakan yang terbaik untuk pasangan yang baru halal tersebut.
Mendadak suasana desa itu lumayan ramai dengan datangnya para tamu yang datang untuk memberikan restu. Acara selamatan itu di laksanakan di rumah tempat kelompok Dirga menginap, hal itu tentu cukup mengganggu tatanan jadwal kebiasaan yang sering mereka lakukan. Anak-anak seangkatan Cintya merespon dengan baik, sebab dengan adanya acara tersebut mereka bisa mangkir dari tugas untuk sementara. Berbeda dengan Dirga. Yang setiap saat. Kerjaannya hanya melotot pada ponselnya yang tidak pernah bisa tersambung untuk menghubungi kekasihnya Mutia.
“Tante Nunuk … apa kabar?” Dirga sudah hilang akal. Saat sudah tiga hari Mutia tidak berkabar. Semua chatnya centang satu abu-abu. Ratusan kali ia lakukan panggilanpun. Sangat jelas terdengar. Bahwa ponsel itu tidak aktif. Dirga benar-benar frustasi di buatnya.
“Tadinya gak baik. Tapi setelah kamu call. Tante langsung baik. Ada apa tampan?” Nunuk dengan noraknya menerima panggilan dari si brondong targetnya tersebut. Sayangnya Nunuk saja yang tidak tau. Targetnya itu mendekatinya, setelah di campakan oleh Mutia.
“Ah … tidak ada apa-apa tante. Iseng saja, Dirga lagi KKN di desa. Dan kebetulan sedang ada acara nikahan. Jadi inget deh gak lama lagi acara nikahan anak tante.” Dirga berbasa-basi.
“Oh … kamu sedang gak ada di kota. Pantesan gak pernah mampir ke Sanggarnya Shane. Kirain kamu lagi janjian sama Mutia. Ha … ha …Ha”
“Janjian sama tante Mutia? Gimana?” Ulang Dirga yang tetiba merasa denyut jantungnya berdebar saat mendengar nama Mutia di sebut.
“Ya … kalian berdua kan yang sekarang paling jarang nongol di sanggar. Kali aja, emang niat gak so an sama kita-kitra di sanggar.” tanya Nunuk tak mau melewatkan kesempatan ngobrol dengan Dirga.
“Woooh. Gak terniat lah tante. Dirga udah hampir satu bulan di desa. Kalo kabar tante Mutia, Dirga gak tau.” Ini sebenarnya topik utamanya Dirga menelpon Nunuk. Ingin tau saja, apakah teman-temannya ini juga tau jika ponsel Mutia mati.
”Eh .. iya lho. Sudah lama banget Mutia gak ke sanggar. Hampir dua pekan rasanya. Bentar ku tanya yang lain. Atau kami emang semua gak sadar akan kehadirannya, yang hanya tukang diam aja kalo lagi ngumpul.” Kekeh Nunuk. Dirga tidak menjawab.Walau hatinya ingin teriak untuk bilang kalo Mutia sedang libur di rumah bundanya. Dan beberapa hari lalu bilang putus ke dia. Tapi gimana cara bilangnya, mereka pacaran aja diam-diam.
Dirga tidak mengerti akan hasrat terpendamnya saat melihat Mutia pertama kali di sebuah pesta anniversarynya yang 17 beberapa bulan lalu. Terutama saat perkenalan pertama mereka di sebuah balkon hotel, saat Mutia malam itu mengenakan pakaian tipis.
Di mata Dirga malam itu. Pada bola matanya Mutia menyimpan banyak beban yang tak terungkap. Usia pernikahan mereka memang sudah tujuh belas, bahkan baru mereka rayakan. Tetapi Dirga tidak mendapat pancaran bahagia yang sesungguhnya dari seorang Mutia. Di tambah lagi respon Mutia padanya baik. Terpikirlah bagi Dirga untuk lebih dekat dengan wanita yang hampir seusia ibunya itu.
__ADS_1
“Kenapa di sini aja, gak makan lah berkali-kali. Mumpung banyak makanan.” Pundak Dirga di tepuk seseotang dari belakang.
“Eh … ngagetin aja kamu. Udah penuh perutku, makan banyak sejak tadi.” Jawab Dirga seadanya pada teman satu kelompoknya.
“Kamu ada apa, kelihatan murung beberapa hari ini. Santai saja bro. Tugas kita bisa di kerjakan sama-sama kok. Atau jangan bilang kamu patah hati karena Cintya udah di nikahi Ustadz itu.” Canda lawan bicara Dirga itu.
“Ngomong apa sih. Malah bagus kalo Cintya udah nikah. Tuh … kalo bisa tuh si Inge lagi tuh yang nikah mendadak, biar hidupku tenang.” Jawab Dirga dengan nada sedikit nyaring dari sebelumnya.
“Ha … ha… iya. Iya , yang pesonanya ke mana-mana, ga ada obat. Gimana rasanya sih di kejar cewek, sampai gelud dan berakhir jadi korban nikah dadakan kayak gitu.” Kekeh teman Dirga lagi.
“Bodo.”
“Sumpah loe borring banget lho, Ga. Loe beneran baik-baik aja?” rupanya teman Dirga satu kelompok ini lumayan peka.
“Haaaa … basi banget sih. Di putusin pacar, langsung se Bete ini. Ga … elu itu tampan. Tuh, si Inge nganggur. Udah main sosor mulu lagi sama kamu. Penghulu belom pulang, susul Cintya gih. Biar kalian juga jadi pasangan halal part 2.” Gustav terbahak karena ide yang baru saja ia cetuskan. Dia sering jadi saksi, kalo pipi Dirga sering di serang oleh Inge.
“Amit-amit deh.” Dirga langsung merasa jijik dengan ide temannya tersebut.
“Ya … elu sih. Jangan kayak orang jelek donk. Masa di putusin pacar langsung down begini. Eh … tapi gue penasaran juga sih. Ada gitu, cewek yang minta putus sama loe. Ga nyesel ngelepasin orang kayak elo. Bukannya elo limitied edition. Udah tampan, OTW mapan pulak.” Puji Gustav pada Dirga.
“OTW mapan pala loe.” Jawab Dirga spontan.
“Cuma loe di kelompok kita, yang mahasiswa nyambi kerja. Gimanapun, elo udah selangkah lebih mapan kan dari kami. Yang taunya Cuma dapat kiriman dari ortu.” Gustav tau jika Dirga sering di sibukkan urusan pekerjaannya.
__ADS_1
“Gue kerja, karena gak pernah dapat kiriman kayak kalian bro.” jawab Dirga melipat-lipat daun hijau di tangannya.
“Ya … setidaknya elu udah jadi anak yang mandiri kan. Rokok Ga?” tawarnya pada Dirga yang wajahnya masih kusut kayak pakaian blom di setrika.
“Gue gak ngerokok.” Tolak Dirga cepat.
“Sesekali aja, kali bisa buang bete loe tuh.” Rayu Gustav lagi.
“Gak … gue takut candu.” Jawab Dirga tenang.
“Sebatang ini gak bakalan buat loe candu kok.” Tawar Gustav lagi.
“Hah … semua juga berawal dari sebatang. Lama-lama nyari deh sekotak.” Tolak Dirga tegas.
“Heem. BTW … elu yakin cewek loe beneran udah putusin elu tanpa rasa sesal?” pancing Gustav lagi sambi menyesap nikotin di tangannya.
“Mana gue tau … bis bilang putus tiga hari lalu. Sampe sekarang ponselnya mati. Hampir gila gue mikirin dia.” Sarkas Dirga seolah sungguh sedang dalam kepatahatian akut.
“Wadidaaaw. Turut berduka cita gue kalo gitu.”
“Siapa yang mati? Kok turut berduka, cewek gue Cuma mutusin gue, gak mati juga, Tav.” Klarifikasi Dirga pada Gustav.
“Laaah … lu bilang tadi ponselnya mati kan?”
__ADS_1
Bersambung …