
Mutia sudah kembali keperaduannya, menyusul Pras yang sudah terlebih dahulu mengembara di alam mimpinya. Butuh waktu kurang lebih 45 menit bagi Mutia untuk sungguh kembali, dalam upayanya menyusul Pras. Berharap bertemu suaminya, mengulang adegan saling bergandengan seperti di Mall beberapa jam yang lalu. Tetapi gagal. Bukan Pras yang terlihat duduk dengan senyum di antara padang bunga indah itu. Melaiankan sosok pria tengil yang baru saja berhasil menentukan tempat pertemuannya di esok siang. Ya … Dirga berhasil memaksanya untuk makan siang bersama di salah satu tempat makan favoritnya tak jauh dari kampus Dirga.
Walau terjaga di tengah malam. Mutia tetap bangun sebelum sinar matahari masuk ke celah gorden kamarnya. Membangunkan anak-anaknya dan membantu menyiapkan keperluan pagi mereka sudah semacam tugas rutin baginya. Tak lupa mengisi box penyimpan makanan untuk bekal Radit dan Raisa. Sebab mereka tak langsung pulang siang ini. Karena sudah mepet waktunya dengan jam les tambahan. Sehingga pulangnya sore. Itulah sebabnya, Mutia setuju saat Dirga mengajaknya makan siang bersama hari ini. Dan Pras, sudah pasti akan makan di luar atau bersama Indah sekretarisnya.
“Maaf ya … tempatnya sederhana, tan. Maklum ini tempat makan anak kuliahan.” Mutia lebih dahulu datang di tempat yang Dirga janjikan. Ia nampak terburu-buru menenmui Mutia di warung makan itu. Jika di lihat dari pakaiannya, nampaknya brondng itu baru selesai dengan jadwal perkuliahannya.
“Santai saja Ga. Tempatnya bersih dan nyaman kok.” Jawab Mutia yang tidak pernah mempermasalahkan di manapun ia duduk bertengger untuk makan.
“Udah pesan Tan … Sop buntut di sini enak banget. Mau coba?” tawar Dirga ramah.
“Boleh lah.” Jawab Mutia sembari mengirim chat pada suaminya. Hanya sekedar mengingatkan untuk makan siang.
“Mas … makan siang di kantor?”
“Tidak. Di luar sama klien.” Begitu jawabnya.
Fix. Suaminya tidak pulang makan siang kan. Artinya aman. Dia bisa berlama-lama dengan Dirga siang ini. Entah, rasanya memang ingin memghabiskan waktu lama bersama brondong ketceh ini.
“Mau bicara apa sih Ga, semalam?” Mutia tidak sabar. Ingin segera tau apa yang akan di sampaikan Dirga.
“Tante … Otak Dirga baru kemasukan materi kuliah 2 Mapel. Boleh kita makan dulu?” tolak Dirga, sengaja menunda waktu. Sebab hatinya juga sedang berbunga-bunga, jika siang ini. Ia sedang makan di temani emak beranak dua, idolanya.
Idolanya?
Iya, Dirga itu suka sama Mutia.
Waktu pun meraka habiskan untuk menikmati sop buntut yang di rekomendasi oleh Dirga. Dan benar saja, rasnaya memang segar. Sesegar pengelihatan Mutia yang menikmati Sop itu bersama brondong ranum di hadapannya. Konyol.
__ADS_1
“Tante ke sini pake mobil …?” tanya Dirga celingukan ke area parkiran memastikan emak beranak dua itu datang sendiri.
“Iya.”
“Parkir di mana?”
“Di antar supir.” Jawab Mutia santai.
“Tante ga bisa nyetir?” tanya Dirga kepo.
“Bisa.”
“Terus kenapa harus di antar?”
“Emak beranak dua ini kadang malas mikir rute jalan Ga.” Jawabnya logis.
“Maaf merepotkan tante. Lain kali biar Dirga yang jemput deh.” Hah … lain kali. Memangnya akan ada pertemuan selanjutnya? Bercanda anak ini.
“Ya kemana aja. Asal tante suka. Supaya ga bete di rumah.”Jawabnya sederhana. Iya sederhana. Tapi kok manis ya. Kenapa Dirga terdengar ingin membantunya keluar dari rutinitasnya sebagai IRT yang membosankan.
“Makanan kita sudah habis Ga, dan di depan sana. Terlihat beberapa orang yang lebih berkepentingan duduk di sini untuk mengisi perutnya. Menurutmu, apakah kita tidak menganggu jika berlama-lama di sini?” Maksud Mutia, pertemuan mereka di sudahi saja.
“Bentar … kita pindah ke belakang. Di sana bebas mau berlama-lama, walau agak panas karena outdor, tapi ada gazebonya kok. Yuks.” Ajak Dirga sembari mergoh sakunya untuk membayar makan siang mereka.
“Tante aja yang bayar Ga …” Mutia ingin melangkah mendahului Dirga.
“Jangan … yang ajak tante itu Dirga. Jadi aing yang bayar.”
__ADS_1
“Tapi kamu itu mahasiswa.”
“Tante juga cuma IRT.” Kekeh Dirga mengedipkan satu matanya tanda bercanda pada Mutia. Huh. Huru-hara deh hati Mutia, hanya dapat kedipan. Mutia benci dengan perasaan menjijikan yang muncul di hatinya ini.
“Tan … tante Nunuk itu serius mau sama Dirga ?” Oh … brondong ini mau bicara tentang Nunuk. Kirain mau bicara tentang apa.
“Ya … Gimana ya Ga?” Mutia tidak mendapat ide yang briliant untuk menjawab pertanyaan Dirga, tentang Nunuk. Takut jatuhnya gibah atau fitnah.
“Bukannya tante Nunuk itu teman tante. Masa Tante gak tau perasaan atau maksud tante Nunuk?”
“Iya … sejak awal jumpa kamu. Dia udah kasih bilang ke kami, kalo dia mau kamu jadi miliknya.” Akhirnya Mutia dengan lantang berkata pada Dirga.
“Menurut tante … Dirga terima gak?” tanya Dirga seolah meminta pertimbangan.
“Kenapa tanya tante …? yang ngejalani itu kamu. Senyaman kamu saja, kalau rasanya gak risih punya hubungan sama tante-tante. Ya silahkan.” Mutia berusaha di pihak netral. Tidak berusaha melarang Dirga menjalin hubungan pada Nunuk, sebab ia sadar Dirga bukan siapa-siapanya. Lalu untuk apa ia repot menahan seorang Dirga untuk memiliki hubungan spesial dengan Nunuk atau siapapun.
“Tan … hubungan antar tante-tante dan brondongan itu, di jaman ini bukan hal aneh lagi dan bukan perkara luar biasa. Tinggal milih kan Dirga mau sama yang mana?" Kenapa terdengar brondong ini memang ingin memasrahkan dirinya pada tante-tante.
“Ya sudah … jatuhkan saja pilihanmu.” Jawab Mutia yang sesungguhnya tidak konsen dengan arah bicara meraka. Hati Mutia tuh tidak rela. Mulut dan hatinya saling berkhianat sekarang. Sementara dadanya bergemuruh, ikut demo jika Dirga sungguh kan jatuh kedalam pelukan Nunuk si buaya betina. Diam-diam hati Mutia retak.
“Dirga maunya sama tante Mutiara Andini.” Tegasnya. Ya Tuhan. Irama jantung Mutia tidak lagi terdengar seperti SKJ 88, tapi ini sudah irama Zumba yang extra cepat, bergelora dan mendebarkan.
“Bercanda gak gini juga Ga. Kamu norak!!" Mutia berusaha sekuat tenaga menahan hatinya yang mendadak dangdut. Orkes buuuk.
“Ini yang buat Dirga mau ketemu tante empat mata. Dirga udah sering bilang ini via chat, call juga. Tapi nihil. Kenapa tante gak coba, kasih celah dikit aja buat Dirga boleh mampir di hati tante. Pliis, ijinin Dirga ngekost bentar lah, tante. Jangan di tolak.” Permintaan apa ini. Dirga nembak Mutia.
Heey … terakhir di tembak cowok itu saat Mutia masih seragam abu-abu. Setelahnya, Mutia langsung di lamar jadi istri oleh Pras. Tanpa pacaran dan di tembak-tembak dengan kata-kata beginian. Kebayang ga sih, Mutia shock dengan permintaan brondong ketceh ini.
__ADS_1
Tolooong …
Bersambung …