PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 18 : MOVE UNDERGROUND


__ADS_3

Kau hanya ingin di temani


Bukan dimiliki


Aku sudah pernah patah


Tumbuh lalu patah lagi


Itu adalah potongan lagu yang Dirga dan Mutia sama-sama dengarkan dari headset yang sengaja mereka bagi pada salah satu telinga masing-masing. Saat keduanya sudah berada di atas kendaraan roda dua. Dirga yang berkeras mengantar Mutia pulang kerumah. Dengan modus biar tau rumah tante idolanya.


Nekat.


Itu adalah kata yang tepat untuk nyali seorang brondong ketceh ini.


Untuk alasan, dia itu siapanya Mutia. Jika nanti bertemu dengan Pras atau anak-anak Mutia. Di pikir kemudian saja. Yang pasti, kini keduanya sedang menikmati lajunya kuda besi, yang dengan gesit menerobos jalan raya. Dengan suasana hati yang sama-sama aneh. Saling getar. Keduanya sama-sama terlena dalam lingkaran rasa yang tak seharusnya di salurkan.


Effort Mutia untuk kuat menjadi istri setia itu gagal total. Hanya karena chat receh yang kerap di kirim brondong meresahkan ini.


[Tante Imuut. Bangun.... Waktunya masak buat anak-anak tante]. Pukul 5 pagi. Saat para bujang lanang lainnya masih meringkuk dalam selimut. Dirga terniat sekali mengirim chat untuk Mutia. Setelah kemarin mereka menganggap sudah jadian.


Bohong saja Mutia tidak GR dengan perhatian itu. Mutia baru akan mengetik balasan, sudah masuk chat selanjutnya.


[Pasang headset. Aing mau VC] Perintahnya pada wanita yang hampir 18 tahun lebih tua darinya. Buseeet dah. Parahnya, Mutia patuh. Segera beranjak untuk memasang alat bantu dengar itu ke lubang telinganya.


[Udah?]


[👌]


"Tante cantik banget siih pas bangun tidur" haduuh melenyot itu hati Mutia. Ingin manjawab jika itu hanya gombal. Tapi, apa kabar pak suami yang masih bobo manis di sebelahnya.


"Tante ga usah jawab. Om Pras ada di samping kan? Aing cuma mau liat wajah tante sebelum tidur lagi. Buat modal mimpi tanteku sayang." Huh.

__ADS_1


Mutia buru-buru keluar kamar. Menuju dapur saja, tempat kerja IRT yang sesungguhnya. Sembari melarikan diri untuk menyamarkan obrolannya with brondong nekat itu.


Demikianlah hari-hari Mutia sekarang. Yang sepertinya kemana-mana harus bawa lakban. Takut hatinya jatuh kececer, akibat serangan mendadak yang di bombardir brondong.


'Selamat pagi duniaku. Sudah sarapan sama yang nyelimutin tiap malam? Atau sama yang lagi selimutan via vicallan' SW Mutia pagi itu. Celakanya, Mutia lupa menyortir siapa saja yang dapat melihat status itu. Kecuali Pras, Mutia tidak pernah mau SWnya di lihat suaminya. Karena ga ngefek. Gak pernah buka.


“Mut … weekend ke puncak yuks.” Ajak Shane vie telepon. Sebab sudah seminggu Mutia memutuskan tidak pergi ke sanggar. Ia masih kagok dengan keputusannya menerima Dirga seperti keinginan brondong itu.


“Ngapain?”


“Cek lokasi.”


“Nginap …?” Mutia memastikan.


“Kayaknya iya deh. Gak puas kalo pulang pergi.” Jawab Shane.


“Boleh bawa anak-anak atau suami?” Walau secara verbal, mungkin Dirga dan Mutia bisa di katakan sudah ‘jadian’ tetapi. Sumpah, Mutia tuh masih bercita-cita jadi istri yang baik untuk Pras.


“Ih … hang out kok bawa krucil. Skip aja mereka. Lain kali aja, kalo mau liburan keluarga. Ini ajangnya kita senang-senang, Mut.” Tegas Shane.


Dada Mutia bergemuruh, saat melihat orang-orang yang kini berada di Villa di Puncak milik Nunuk. Di sana ada Dirga dan Desti. Rupanya Nunuk gagal mengajak Dirga seorang, ke tempat lokasi pernikahan putrinya nanti. Dirga yang memang menghindar untuk datang sendiri. Dia perlu Desti agar perjalanan ini terlihat profesional. Berharap Nunuk sadar jika Dirga menganggapnya hanya sebagai patner bisnis, tidak lebih.


[Tante ada bawa baju lebih gak?] Setiba Mutia di Villa itu dan bertemu mata dengan Dirga berondong kekasih rahasianya itu. Ponsel Mutia sudah bergetar saja, akibat notif chat yang masuk.


[Ada, kenapa ? mau pinjem? 🤪] Balas Mutia di akhiri emot tertawa ngakak.


[Tante ga cocok pake baju motif itu. Floralnya terlalu besar. Tante jadi tampak makin besar. Masa kesayangan Aing bajunya gitu] Nyesss… hati Mutia dapat komen soal penampilannya. Sebenarnya Mutia tersinggung donk, di cermati lalu di koreksi penampilannya. Tapi ini sama sekali gak bikin dia tersinggung. Tersungging malahan, merasa ada yang peduli dengan penampilannya. Sebab nunggu Pras bisa komen gitu tuh sama aja kayak nunggu lebaran monyet.


[Ini bukan tante yang beli. Tapi di kasih mbak Nunuk. Oleh-oleh. Gak sopan kalo gak di pake, Ga.] balas Mutia membela diri.


[Sekali ini aja pakenya. Besok-besok ga boleh!] tegas sekali brondong ini pada tante idolanya.

__ADS_1


[Biarin aja kali Ga. Kan dengan begini, tante jadi tambah jelek.] Mutia mulai apik bercanda pada brondongnya ini.


[Supaya apa mau jadi jelek?] Chat mereka terus berlanjut, di tengah ruangan Villa yang semakin ramai di masuki tamu-tamu Nunuk.


[Supaya ga ada yang lirik tante. Cukup kamu yang gilak, naksir tante gak kira-kira!] Jawab Mutia ketus dengan bibir yang di jepit, pertanda ia hanya sedang bercanda. Dan itu masih dapat di lihat oleh Dirga yang berjarak cukup jauh dengannya.


[Biarin … orang cinta itu buta.] Balas Dirga menahan senyum sendiri.


“Ga … tamunya banyak. Kita sekamar ya.” Desti datang mengangkat sebuah kunci kamar, ke wajah Dirga.


“Hah … ngaco. Masa Villa segede ini kamarnya dikit. Harus banget yaah kita tidur satu kamar?” Dirga tidak semudah itu tidur dengan lawan jenis. Apalagi itu adalah Desti.


“Namanya juga kita lagi kerja. Gak usah belagu deh, semalam doang.” Jawabnya cuek lalu membawa tas pakaiannya menuju kamar yang sudah di siapkan untuk mereka.


Desti bukan hanya bosnya di tempat kerja. Tapi juga cewek yang selalu caper dengannya. Tetapi, Dirga gak bedenyut sama Desti. Dan Dirga curiga, jangan-jangan masalah sekamar ini hanya akal-akalan Desti saja. Dirga langsung membuat laporan berupa chat pada kekasih rahasianya. Tante imutnya.


[Tan … masa aku dan Desti di kasih kamar cuma satu. Pliis tan… selamatkan aku dari Desti. Tante mau, keperjakaan Dirga di renggut Desti malam ini] Kali ini Mutia tidak bisa membalas chat dari Dirga. Otaknya gercep melakukan panngilan suara pada Dirga, sedikit melipir dari kumpulan teman-temannya yang sedang berbahagia. Sebab ternyata itu adalah ajang mereka membawa ‘pasangan haram’ mereka masing-masing.


“Sekamar gimana?” tanya Mutia tak sabar, dengan suara yang di pelankan agak tertahan.


“Kata Desti, kami cuma dapat satu kamar. Jadi malam ini aing bobo sama Desti.” Jawabnya. Eh bukan jawaban. Lebih tepatnya laporan.


“Villa ini tuh besar Ga, banyak pula kamarnya. Gak mungkin kalian cuma dapat satu.” Hardik Mutia merasa sedikit jelous.


“Pliis cariin kamar lain Tan. Atau aing bobonya sama tante Imut aja, gimana?” heey bocah, jangan kesempatan dalam kesempitan yaaak.


“Katanya ga mau kontak fisik.” Mutia memgingatkan perjanjian awal mereka.


“Yang kontak fisik siapa? Kita cuma bobo dalam kamar yang sama tante. Belum tentu kontak juga.” Kekeh Dirga norak.


“Kamu gilak.”

__ADS_1


“Emang … tergila-gila sama tante Imut kesayangan akuuh, muuaaach.” Eh … jangan bilang Dirga sudah lupa dengan janjinya sendiri perihal tidak ada kontak fisik ya. Itu benda pipih kenapa di cium-cium gak jelas.


Bersambung …


__ADS_2