
Mutia dan Cia tenggelam dalam rasa duka nestapa yang di lahirkan oleh kehadiran Cia. Bagaimana Mutia tak ikut menangis. Rumah tangga Cia kandas karena orang ketiga. Dan itu bukan wanita, namun sesama pria. Dunia memang makin edan.
Cia hampir gilak di buatnya. Mutia bahkan ingat betul, bagaimana dulu Cia mempertahankan Rafael saat kedua orang tuanya tak setuju dengan lelaki pilihannya itu. Orang tua Cia itu trah bangsawan, masih ada keturunan ningrat. Nama asli Cia adalah Ajeng Ciawisesa Sudibyo. Mana bisa menikah dengan orang biasa, yang bibit, bobot dan bebetnya tak jelas.
Tapi Cia keras kepala, memilih kabur dan rela di buat hamil duluan oleh Rafael kekasihnya tersebut. Dan itu yang membuat Rafael di atas angin. Merasa Cia terlalu bucin dengannya, sehingga dia yang pegang kendali. Wanita yang katanya keturunan ningrat. Tapi rela di tiduri sebelum halal, waktu itu Rafael belum mengalami penyimpangan s3ksual parah, yang ternyata kesininya ia tergolong dalam kalangan h0mos3ksual.
“Mut … dikhianati itu sakit. Apalagi pelakunya adalah orang yang paling kita cintai.” Cia masih dalam tangis yang menderu-deru.
Heey … kenapa Mutia jadi teringat dengan Pras, suaminya. Apa yang ia lakukan dengan Dirga sudah tergolong pengkhianatan bukan. Lalu apakah nanti Pras sekecewa itu jika perbuatannya di ketahui.
“Aah … tapi Mas Pras kan tidak mencintaiku.” Bisik suara hati eh bukan ding, suara setan menyesat yang bersemanyam dalam hati seorang Mutia.
“Trus … kamu sekarang maunya gimana?” Mutia mencba menenangkan Cia.
“Pliis carikan aku rumah sewa atau tumpangan dan kalo bisa carikan aku lowongan pekerjaan. Aku sedang butuh uang banyak untuk naik banding. Anakku harus aku yang mengasuhnya. Nanda akan rusak mentalnya jika di asuh oleh begundal itu, Mut.” Isaknya masih memenuhi organ penciumannya.
“Kamu bisa tinggal di sini. Jika kamu mau. Kamu juga boleh ikut bekerja di Salonku ini. Terserah kamu bisa bagian mana? Menjadi kasir pun boleh, jika kamu tak punya basic sebagai penata rambut atau apapun. Hanya, aku tak bisa memberimu gajih yang besar. Maaf, usaha ini baru ku miliki dan di rintis. Jadi, aku pun masih mencari cara agar tempat ini ramai.” Mutia itu baik hati. Ia selalu tulus menolong orang lain, hanya si brondong tengil itu saja, yang membuatnya oleng. Bahkan sudah miring, sinting.
“Tidak masalah kamu bisa gajih aku berapapun. Aku boleh tinggal di sini pun bagiku sangat beruntung. Walaupun pintu rumah mama papa masih terbuka untukku. Tapi … nyaliku tak besar untuk pulang. Aku akan kembali saat bersama Nanda, suatu saat nanti.” Ucapnya dengan mata berbinar, sedikit lenyap rasa sedihnya tadi. Mendapati sahabat yang masih layak menyandang gelar sebagai teman baiknya.
__ADS_1
“Di atas ada kamar kosong. Pemilik sebelumnya memang tinggal di sini. Kemudian mendapatkan jodohnya, dan memutuskan untuk ikut suami. Sudah ada lemari dan perlengkapan tempat tidurnya. Kita hanya akan membersihkan sedikit dan memasang alat tidur sebentar. Maka sudah layak huni.” Jelas Mutia dengan mata yang tertuju pada ponselnya yang tak berbunyi tapi menyala.
[Mumut sayang … ku sudah di kost, muuach] Lakban … lakban mana lakban. Jantung Mutia hampir copot. Masa baru sekali dapat c1pokan. Dirga sudah amnesia kalo Mutia itu lebih tua 18 tahun darinya. Mana panggilan tante yang biasa ia sematkan sebagai tanda hormatnya. Dasar TenGiiiL.
[Gak sopan, Ga] balas Mutia cepat.
[Tante Imutku sayank. Si tamvan sudah sampe kost dengan selamat 😘] Dirga merevisi ketikannya dengan mengembalikan gelar tante dan mengganti kata Muaach, dengan emt cium. Hiiih. Bikin merinding disko saja. Mutia hanya menarik nafas dalam. Berusaha menyembunyikan rona kasamarannya. Tak sopan menurutnya, menyampir pias bahagianya, sementara sahabatnya baru saja kehilangann suami.
“Sudah berapa lama kamu miara brondong itu?” Cia peka. Walau Mutia menyembunyikan kuat-kuat ekspresi bahagianya. Cia tetap bisa membacanya.
“Miara …? ayam kali.” Tepis Mutia. Berusaha tidak mengaku.
“Truus namanya apa kalo bukan miara? Ingat umur Mut. Kita ini sudah kepala empat. Lah dia …? Dari kulit wajahnya saja sangat jelas, kita bahkan sempat jadi ibunya.” Sinis Cia muncul kembali. Geregetan hatinya melihat kelakuan sahabatnya itu.
“Kamu bisa bohongi Pras atau siapapun. Tapi tidak dari aku.” Jawab Cia yang memilih naik ke atas untuk memastikan keadaan caln kamar barunya.
“Dirga terlalu manis untuk di abaikan.” Ucap Mutia lirih.
“Apa yang kamu cari dari pemuda labil itu Mut? Apa kurangnya Pras sebagai suami yang bahkan sudah 17 tahun membersamaimu.” Cia jelas di pihak Pras. Baginya cukup rumah tangganya yang hancur, tapi tidak dengan Mutia.
__ADS_1
“Aku lelah belajar untuk mencintainya. Kamu tidak pernah berada di posisiku. Aku selama ini hanya berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Dan titik jenuh itu muncul.” Mutia mungkin bisa bungkam pada Shane, Vinsha juga Nunuk. Tapi tidak dengan Cia.
“Tidak. Kamu tidak sedang jenuh. Kamu hanya sedang bertemu dengan mainan baru yang mengalihkan fokusmu. Dan itu menjadi bahan perbandinganmu. Kamu tidak akan tau terong mana yang lebih besar, jika kamu hanya memiliki satu terong bukan? Tetapi saat banyak terong yang pernah kamu lihat, hal itu menjadi alasanmu untuk memilih dan lupa betapa berharga yang telah lama kamu punyai.” Entah lah, kenapa Cia harus mengambil terong sebagi ilustrasinya.
“Tolong … jangan terong objeknya. Aku dan Dirga tidak sejauh yang kamu pikirkan Cia.” Mutia ingin bilang mereka main bersih, tapi bukankah. Baru beberapa jam yang lalu ia melanggar batas.
“Ada apa dengan Pras? Apa terongnya memang sudah layu?” Oh … Cia seprontal itu ternyata.
“Bicara apa sih …?” Mutia berusaha menghindar.
“Kita sudah dewasa. Hal ini wajar kita bahas. Jangan lupa aku cerai karena tak lagi di sentuh dengan benar oleh Rafael. Dan itu sangat menyiksa batin. Rafael tak pernah mau berpisah denganku, asalkan aku tetap mau ia ajak bercinta seperti binatang. Cinta tidak harus jadi budak bukan. Sebagai wanita normal, jelas aku gatal.” Cia mengakui perasaannya dengan terang benderang.
Mutia menggeleng.
“Tidak … Mas Pras memang kadang masih memberikan hakku sebagai seorang istri.” Ucapnya pelan.
“Kadang … artinya tidak rutin?”
“Mas Pras sekarang jarang pulang tepat waktu Ci. Seandainya pulang pun sudah tampak lelah dan tidak bergairah. Belum lagi sejak dulu, aku ada rumah itu adalah hal yang setara dengan benda mati. Yang hanya ia gunakan saat di perlu. Aku melayaninya dengan hati, tapi dia bagai tak punya hati. Baginya makanan di meja makan itu semua simsalabim tanpa perjuangan dalam hal pengolahannya. Sisi hatiku butuh pujian, sanjungan bahkan celaan sekalipun. Dan Mas Paras tidak sepeka itu.” Mutia menguras perasaannya.
__ADS_1
“Kamu kekanak-kanakan.”Simpul Cia tegas dan sinis.
Bersambung