PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 52 : KORBAN PESONA


__ADS_3

Dirga memang berasal dari sebuah desa yang kemudian merantau sendiri karena ingin mendapatkan pendidikan dan pengalaman yang berbeda dengan anak-anak seusianya di tempat asalnya. Tidak sedikit orang di desanya mencibir keputusannya yang memilih untuk melanjutkan studi di kota besar. Melihat keadaan sang ibu yang sudah janda dan masih memiliki dua tanggungan yaitu kedua adik Dirga. Dita dan Desta. Yang kini sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Entah, apakah kedua adiknya nanti juga akan mengikuti langkahnya untuk berkuliah di kota. Atau memilih tetap menjadi anak desa, menjalani hidup dengan sederhana karena keterbatasan uang.


Walau berasal dari sebuah kampung kecil, namun tidak berarti Dirga memiliki wajah yang ndeso. Perbedaan pergaulan dan permaian anak desa dan anak kota tentu berbeda. Itu yang membuat kulit Dirga tidak lah putih namun juga tidak legam. Sebagian anak kota lebih akrab dengan permaianan yang mengasyikkan di dalam rumah, barang elektronik. Sedangkan Dirga adalah tipe anak Bolang. Yang dulunya sering bermaian sambil bekerja di bawah terik matahari. Dan celakanya itu malah membuat kulitnya eksotyis bikin terlihat ketceh. Menemani sang ibu memelihara kebun sayur, memanen serta membantu memasarkan. Mereka juga memiliki peternakan ayam petelur yang harus selalu di pastikan asupan makanan dan keadaannya. Agar selalu bisa menghasilkan telur dan bisa di jual untuk menyokong kehidupan mereka.


Dirga bukan sombong, saat bersikeras memutuskan untuk kuliah di kota. Namun ia yakin, jika ia hanya terus berada di kampung. Nasibnya tak akan bisa berubah. Menurutnya kemungkinan besar ia akan hanya menjadi petani dan peternak saja. (Toh, benar saja. Sebab ialah kini yang di ternak oleh tante.)


Kebiasaan Dirga yang ringan tangan saat masih tinggal di desa itu menjadi baik efeknya saat ia tinggal sendiri dikota. Ia bisa cepat menyesuaikan diri, hidup hemat juga pandai melihat peluang pekerjaan walau hanya bermulai dari buruh angkut, juga penjaga toko. Apapun Dirga lakukan, asal tidak merong-rong sang ibu untuk mengirimkan uang lebih untuknya. Berapapun yang ibunya berikan harus selalu cuckup, sampai masa ia berkirim di bulan berikutnya.


Di awal, Dirga hidup dalam kebersahajaannya. Terkadang memang harus berpuasa saja, saat tak ada uang dan makanan yang dapat ia makan lagi. Sehingga mencari peluang pekerjaan yang lebih banyak menghasilkan uang pun harus ia dapatkan. Dan itu berhasil, namun hampir mengorbankan kuliahnya. Dirga yang terlalu fokus kerja, hingga sering melewatkan jam mata kuliahnya. Karena merintis pekerjaannya di sebuah Event Organizer yang cukup sering di gunakan jasanya dalam semua acara besar juga kecil.


Untuk itu, kali ini Dirga tak boleh menunda jadwal KKNnya. Sebab masa kuliahnya harus sudah berakhir dalam tahun ini. Dirga sudah masuk dalam daftar mahasiswa yang akan di DO. Karena sering tak masuk kuliah, juga terkenal sering terlambat bayar kuliah. Hal itu yang membuat Berto sedikit mengenal Dirga. Di tambah lagi ia pernah dua kali mendapatkan mahasiswanya itu bersama istri sahabatnya. Maka, mengirim Inge yang saat itu pun tepat masanya untuk ikut berKKN, adalah cara Berto untuk memastikan hubungan antara Mutia dan Berto. Namun, hanya Berto, otor dan reader yang tau. Inge sendiri tidak tau apa maksudnya tiba-tiba di minta untuk langsung ikut KKN.


“Berto … kamu kenal Nani adikku?” tanya istri Hasan dipenghujung acara pesta minggu lalu.


“Siapa yang bisa lupa dengan adikmu sang idola kampus itu?” Jawab Berto sambil memegang tangan Nabila istrinya.


“Ini … Inge anaknya. Agak berbeda dengan mamanya. Jika mamanya idola kampus, kalo Inge ini malah mau jadi penunggu kampus. Orang tuanya sudah angkat tangan mengalirkan dana untuknya menyelesaikan kuliahnya di Ausy. Kebanyakan mau dan pergaulannya cukup bebas di sana. Boleh titip dia di kampus mu?” Vena agak serius bicara pada Berto malam itu. Apalah arti kekayaan mereka yang mungkin gak habis 7 turunanan, kalau punya keponanakan sehancur itu.

__ADS_1


“Oke … besok suruh dia menemui aku di kampus.” Jawab Berto cepat. Kemudian, jadilah Berto membantu Inge Lestari dalam urusan perkuliahannya. Lalu menyelipkan keponakan sahabatnya tersebut untuk mengikuti jadwal Kuliah Kerja Nyata yang baru saja bermulai.


Dua pekan berlalu, Inge masih tampak jinak. Mengikuti kegiatan seperti mahasiswa lainnya dengan baik dan normal. Hanya Ia tak hanya mengekor Dirga yang sudah sangat risih ia dekati. Karena kadang Dirga tiba-tiba ia peluk dari belakang, kadang pipi Dirga memang selalu ia cium kapan suka dan di mana saja. Tak terkecuali setelah mereka selesai berdiskusi dan saat Dirga baru saja memberikan pendapatnya.


“Inge … sumpah ku gak suka kamu kegatelan sama Dirga.” Sore itu Cintya sudah tak dapat lagi menahan rasa kesalnya, saat melihat Inge yang tak berjarak di atas kuda besi bersama Dirga. Perut Dirga ia lingkari dengan tangannya erat. Mereka di minta meminta data dari rumah Sekretaris Desa.


“Gatel apanya, gue gak ada alergi makanan apa-apa kok.” Jawabnya menanggapi pertanyaan Cintya. Mereka sedang berada di sebelah Langgar tak jauh dari tempat mereka menginap. Suasana sepi saat itu. Hanya ada Inge yang memang di tunggu Cintya untuk di ajaknya bicara.


“Gatel itu gak cuma di sebabkan oleh alergi makanan. Tapi kelakuan kamu yang gak bisa liat cowok ketceh itu juga masuk kategori gatel, tau …?” Geram Cintya menjelaskan.


“Ouuwh … ini masih tentang pacar gue, Si Dirga itu?” Kekeh Inge senang.


“Tau … pacarnya udah dua juga sih, katanya.” Jawab Inge santai sesantainya.


“Dua …?” ulang Cintya.


“Katanya gitu …” Jawab Inge cuek. Lalu berjalan akan meninggalkan Cintya yang berada dalam mode bingung. Namun, otaknya masih bisa berpikir cepat. Cintya merentangkan kakinya saat Inge akan melangkah.

__ADS_1


Terhalanglah.


Dan Gedebuk.


Inge terjatuh di atas tanah, akibat ulah Cintya. Lalu berusaha bangkit, dan menarik kraj pakaian yang Cintya pakai. Adu aduan ala cewek pun terjadi, kini tubuh Inge menghimpit tubuh Cintya, memepetkan pada dinding Langgar.


“Maksud loe apa, sampe bikin gue jatuh. Hah?” tantang Inge pada CIntya yang juga berusaha melawan dengan dua tangan pada rambut Inge.


“Kamu ganggu usaha ku yang udah lama jatuh cinta sama Dirga, Paham…!!!” Jawab Cintya tanpa malu apalagi ragu.


“Jatuh cinta ya jatuh cinta aja, kenapa gue yang loe buat jatuh ketanah. Beg0.” Inge makin mendesak tubuh Cintya, juga. Dengan tangan tak lepas dari rambut Cintya.


“Dirga milik ku …!!!”


“Elo emaknya? Dasar gatel!!!” Inge tak mau kalah.


“Kamu yang gatel, ngapain peluk-peluk. Cium-cium dia terus. Hah. Ga tau malu.” Suasana samping langgar itu makin sengit dan terlihat makin serius.

__ADS_1


“Kucing kampung yang manis aja gua cium-cium. Apalagi Dirga yang tamvan itu.” Tangan Inge pindah ke mulut Cintia, ia cengkram. Agar Cintya sulit bicara.


Bersambung …


__ADS_2