PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 37 : ABG LABIL


__ADS_3

Berto akhirnya bosan pada obrolan satu arah dengan Pras di puncak datar bangunan yang mereka pilih untuk lomba menghisap lintingan tembakau. Satu demi satu tembakau terbakar sirna. Namun rangkaian kata pun tak tertangkap oleh rungunya.


“Sampaikan salamku pada Mutiara. Katakan padanya … aku sangat bangga dan salut padanya yang masih kuat bertahan dalam 17 tahun hidup bersamamu. Sebab belum 60 menit saja kita di sini aku sudah bosan bersamamu. Semoga Mutiara benar wanita yang setia mendampingi lelaki dingin seperti kamu.” Berto menepuk bahu Pras, dan memilih beranjak pergi dari tempat mereka berada. Hampir gilak di buatnya, selalu bertanya tapi tak mendapat jawaban.


“Apa cinta kenal kata bosan?” tiba-tiba Pras menyeletuk.


“Bukan hanya bosan. Tapi cinta pun bisa berubah menjadi benci. Tergantung caramu merawat dan memeliharanya.” Berto mana tega tidak menjawab celetukan dari manusia pelit bicara itu.


“Hah … benci itu hanya akan muncul pada seorang yang pernah berbuat jahat.” Sambung Pras seolah menertawai dan merasa jika tingkahnya pada Mutia itu sudahsangat benar.


“Dan kamu kira kamu adalah orang yang tak penah jahat pada Mutiara?” Berto mengurungkan langkahnya untuk meninggalkan Pras di atas sana.


“Kita ini sudah tua, Ber. Tak ada alasan untuk saling membenci.” Jawab Pras yang malah justru lebih cepat menemukan pintu keluar. Pras yang ternyata lebih cepat melangkah pergi, agar tak hanya berdua-duaan di rooftop itu.


“Jangan kamu kira karena usia tua, manusia menipis rasa. Justru semakin tua, rasa itu semakin peka. Berdoa saja agar istrimu tak menemukan pembanding, agar hatinya hanya tertuju padamu.” Berto membalap langkah Pras, dan kini mereka sedang berada dalam sebuah lift. Tangga berjalan yang membawa mereka kembali ke ruang pesta.


Jangan lupa, Berto pernah melihat Mutia bersama Dirga di tempat makan berdua. Dan malam ini, ia kembali melihat Mutia hanya berdua-duaan di rooftop itu dengan orang yang sama. Hanya alam semesta saksinya, apa sesungguhnya yang mereka berdua lakukan. Berto tidak mau menuduh, hanya seikit curiga. Berharap respon Pras terhadap obrolan mereka tadi berlanjut dengan sebuah penyelidikan dari sang suami. Sebab Berto menyadari, ia hanya sahabat. Dan Berto adalah penganut kesetiaan harga mati. Tidak benar rasanya, saat iris matanya melihat istri sahabatnya terlihat jalan berdua dengan pria lain. Berto ingin cemburu untuk Pras. Tapi apa haknya?

__ADS_1


“Mutiara itu tipe setia.” Simpul Pras percaya diri. Hadoooh … kecewa pemirsah. Tanya reader deh Pras, entuh istrimu udah oleh hati dan bibir juga. Jangan menyesal jika suatu saat Mutia memang lebih memilih brondongnya daripada kamu. Atau tingkat kepercayaan diri Pras memang terlampau di atas rata-rata.


Kalau sudah si suami sepercaya ini pada sang istri. Lalu orang lain bisa apa? Pras terlalu yakin dengan rumah tangga yang ia jalani baik-baik saja dan tanpa cacat cela. Di matanya Mutia adalah sosok istri setia dan ibu hebat bagi buah hati mereka. Sehingga ia merasa tak punya alasan untuk sekedar curiga pada sang istri yang hanya sekali pernah ia lihat bersama dengan pria asing.


Sekembalinya Pras dan Berto ke ballroom tempat pesta berlangsung, mereka sudah di sambut dengan pemandangan Dirga dan Hasan yang terlihat sedang terlibat dalam obrolan hangat. Maka Berto dan Pras pun memilih bergabung, sekedar berbasa basi menciptakan keakraban di antara mereka. Dengan formasi, Berto, Hasan dan Dirga sebagai pembicara yang berganti-ganti dan Pras tetap sebagai pendengar yang sejati.


[Cieee … yang lagi berusaha akrab sama Om Pras.] chat iseng Mutia pada sang kekasih yang terlihat berada dalam satu tempat dengan suaminya.


[Iya dong yank … lagi nego nih. Kali istrinya mau di serahkan tanpa syarat buat si dedeg.] Jawab Dirga melipat bibirnya, berusaha menyimpan tawa yang sungguh membuat hatinya meletup-letup sendiri.


[Pe-De banget siih si dedeg Tengil. Apapun alasannya, tante Imutmu akan selalu jadi istri Pras Mahendra selamanya lhooo] balas Mutia dengan bibir yang di buat kekiri dan ke kanan.


[Jaman ini, yang good looking akan kalah sama yang good rekekning, Ngil.] Mutia tak sadar menutup mulutnya dengan tangan satu, sungguh sulit ia menyembunyikan keceriaan pada paras cantiknya malam ini.


[Ntar dedeg jual diri sama tante Nunuk deh, biar cepet good rekening] Dirga bingung harus menyembunyikan ke gokilan obrolannya denganm sang kekasih.


“Tuh … liat ekspersi pemuda yang lagi jatuh cinta. Tarohan deh, pasti chatting sama pacar tuh.” Tembak Berto yang berada masih tak jauh dari Dirga yang tidak dapat mengelabui wajah bahagianya dari para senior.

__ADS_1


“Jangan bilang itu chatting sama Inge ya, Ga. Dia itu playgirll.” Peringat Hasan yang paham betul dengan tabiat buruk keponakannya.


“Hah … Tidak Pak. Nomornya saja tidak punya.” Jawab Dirga jujur. Sekaligus ngeri membayangkan pertemuannya dengan cewek gilak itu tadi. Belum 30 menit saja, tangannya sudah di antar ke daerah rawa. Itu tiga jam kemudian sungguh, Dirga beneran hilang keperjakaannya oleh Inge si cewek gilak.


“Inge … siapa? Tanya Berto kepo.


“Itu … ponakan Vena. Yang kemarin studi di Inggris. Pindah ke sini sekarang.” Oh … bapak-bapak doyan gibah juga ternyata mereka. Untuk inilah Pras tentu lebih memilih jadi pendengar saja, baginya ada di dekat Mutiara dan teman temannya tak jauh beda dengan Berto dan Hasan yang doyan ngomong. Malas banget.


[Mimpi si dedeg tengil ketinggian ah, Halu banget] Mutia terkikik sendiri, membaca chat Dirga yang akan jual diri demi uang.


“Eh sumpah, kamu udah kayak orang gila deh Mut. Bisa ketawa sendiri looh sekarang. Hanya bermodalkan liat hape doank.” Celetuk Nabila yang sedari tadi memperhatikan Mutia yang sibuk dengan ponselnya. Merasa aneh dengan sikap Mutia malam ini, yang datang dengan kecantikan maksimal, bentuk tubuh yang jauh lebih proporsional dari tahun lalu. Lalu tiba-tiba hilang di antara mereka saat acara berlangsung, dan seperti memiliki dunia sendiri saat bersama mereka bahkan dalam keramaian.


“Oh … gak. Ada yang lucu saja di grup emak-emak rempong.” Bantah Mutia. Ga mungkinkan ia jujur jika Dirga sok sokkan sedang bernegosiasi dengan suaminya dalam hal kepemilikan Mutia yang seolah besok bisa berpindah begitu saja.


“Masa … ku gak percaya deh. Sejak tadi lhoo ku perhatiakan. Kamu sibuk mantengin benda itu sambil nahan senyum. Kayak ABG labil lagi jatuh cinta aja.” Sambung Nabila merasa ada yang berbeda dari Mutia yang ia kenal sebelumnya.


“Huuh … ngomong apa seeeh. Kita udah pada tua Bil. Udah kepala empat, jatuh cinta apa coba?” Mutia tiba-tiba merasa panas walau berada dalam ruangan suhu yang cukup sejuk larena bantuan mesin pendingin udara di ruangan tersebut.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2