
Cintya dan Inge bukan anak baru gede, sebab usia mereka sudah 22. Tapi itu termasuk dalam kategori muda, yang kadang masih labil. Walau pun sangatlah norak di usia tersebut harus rela gelut demi seorang lelaki incaran keduanya.
Jika sebelumnya mereka hanya berhimpitan dan jambak-jambakan. Kini Inge dan cintia sudah gantian guling-gulingan di atas tanah.
“Gatel ya gatel aja, ga ada obatnya …!” Cintya masih saja menyuarakan apa yang ada di isi kepalanya.
Inge itu udah jadi ahklaknya, main ciam cium sama orang-orang. Ga perduli itu sesama jenis atau lawan jenis. Baginya itu biasa saja. Bukankah ia sudah lama tertelan budaya di daerah darat sana, Sehingga meresa ekspersinya itu ia anggap hal biasa.
“Gatel darimana … sini loe. Tempat lho di sini, kalo cuma ciuman aja loe bilang salah. Sini …!!!” Inge sudah berdiri dan menyeret tubuh Cintya mendekati pintu Langgar tak jauh dari mereka.
“Ini … cocok nih buat lho yang sok suci.” Dengan sekuat tenaga Inge menyeret Cintya. Rupa mereka sudah tidak seperti manusia. Hampir mirip kebo yang lagi bajak sawah.
“Ada apa ini …” seru seseorang terdengar dekat dengan dua gadis udik, yang ga bisa liat cowok cakep sedikit.
Keduanya berhenti dan sama-sama menoleh keasal suara. Seketika keduanya berdiri tegak, dan saling melepas cengkraman yang amat sangat kuat di antara keduanya.
“Eh …Uhm …” Inge tergagap saat melihat pemilik suara yang terdengar asing di telinganya.
“A … ehm. Anu.” Cintya ikutan jadi gagap. Setelah manik matanya menangkap sosok indah di depan mereka yang sedang kucel.
“Itu … tadi dia kepleset, n gue maksud nolongin. Eh … kebawa jatoh.” Jangan lupa Inge itu spesialis pengarang yang sangat cepat. Dalam otaknya terdapat ribuan bahkan jutaan ide yang sesuka dia mau kapan di keluarin untuk bela diri.
“Astagafirullahaladzim … kasihan sekali. Silahkan membersihkan diri.” Jawab sosok indah bermata hazel, berpakaian koko juga berjambang. Sialnya hidung itu orang udah ngalahin menara Eifel saking mancungnya. Buseeet.
__ADS_1
Cintya dan Inge dorong-dorongan. Hingga Cintya terjatuh menimpa tubuh kekar yang baru saja mempersilahkan mereka membersihkan diri.
Uwaaaau … kini tubuh Cintya justru terlihat nyaman dan tentram di atas tubuh pria gagah gak ada obatnya tersebut. Celakanya, Inge tidak terima melihat tubuh Cintya yang jelas sangat mengambil kesempatan akan momen kejatuhan pria tampan di depannya. Sekuat tenaga, Inge menarik tubuh Cintya, agar terlerai.
Di sela bulu-bulu yang hampir menutupi wajah pria tampan tadi, jelas terlihat rona merah tersampir di area wajah dan telinga pria yang tibuhnya sudah di peluk oleh Cintya. Fix dia sudah tertular Inge kalo begini.
“Kalo cium cium itu gatel, lalu meluk itu apa namamya?” Inge berbisik geram di telinga Cintya. Murka juga hatinya saat kesempatan itu di gunakan oleh rivalnya.
“Ada apa ini. Pak Ustadz.” Suara seseorang yang datang tidak sendiri. Mereka adalah warga desa yang akan melaksanakan sholat Azar di langgar tersebut.
“Astagafirullahaladzim … Astagafirullahaladzim … Astagafirullahaladzim. Saya akan bertanggung jawab.” Lelaki yang tubuhnya di timpa Cintya tadi berusaha bangkit dan memisahkan tubuhnya dengan Cintya. Tanpa berani memandang ke arah lawan bicaranya. Ia hanya tertunduk melihat lantai.
“Gak … apa-apa kali. Gue yang salah. Gue yang dorong Cintya sampe bikin kalian jatoh gitu. Jadi gak ada yang harus elo kasih tanggung jawab.” Inge menarik tangan Cintya untuk menjauh dari selasar langgar. Dan warga lainnya mendekati pria yang mereka sebut Ustadz tadi.
“Benar itu Gus Arfan …?” tanya warga mendekati pria yang tingginya kurang lebih 180cm itu.
“Eh … tiang listrik. Kalian Cuma jatoh. Gak bakalan buat temen gue hamil juga, jadi gak perlu tanggung jawab.” Inge memundurkan langkahnya untuk merespon ucapan lelaki yang ketiban Cintya tadi. Sedangkan Cintya sudah tak bisa berkata-kata. Jika saja itu dalam film cartoon. Mungkin kini keluar tanda love-love merah dari biji matanya. Seketika selera Cintya berubah dari Dirga incarannya yang sudah hampir 2 tahun itu.
“Saya minta maaf atas kejadian tadi. Dan Insya Allah besok malam saya akan menghalalkanmu.” Arah tubuh pria itu menghadap Cintya, tapi tidak dengan tatapan matanya. Ia tetap tertunduk menatap ubun yang kedua kakinya injak.
“Hah …?” Cintya syok. Terbelalak kedua matanya mendapat jawaban yang mirip sebuah janji atau lamaran dari manusia tampan maksimal ini.
“Sabar Gus Arfan. Ini mungkin hanya kecelakaan. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan.” Warga menenangkan Pria yang mereka panggil Gus Arfan itu.
__ADS_1
“Saya sudah menyentuh wanita yang bukan mahram saya. Maka itu menjadi dosa. Karena itu saya harus segera menghalalaknnya bagiku.” Jawab Ustads itu tegas menatap warga desa yang berjenis kelamin laki-laki.
“Loe serius mau ngawinin Cintya. Elo tadi Cuma jatoh, n karena gue dorong.” Inge maju selangkah dan tangannya ingin menyentuh dada pria itu dengan telunjuknya.
Tapi Cintya gerak cepat langsung berdiri di depan tubuh pria yang baru mereka kenal tadi. Sehingga telunjuk Inge hanya terkena dada Cintya.
“Jangan sentuh calon suamiku!!!” Cintya menangkap telunjuk Inge yang memang nyaris mengenai dada bidang Gus Arfan.
Dengan terus berdzikir, Arfan memundurkan tubuhnya. Menciptakan jarak agar tidak lagi tubuhnya terkena tubuh orang lain yang bukan pasangan halalnya.
“Huh … Gilak.” Kesal Inge. Kali ini merasa jika ia sudah kalah dari Cintya. Walau targetnya adalah Dirga, tapi kenapa pesona lelaki yang di panggil Gus arfan ini terlihat lebih menantang. Haruskah dia menerkam pria yang terlihat alim ini.
“Hai namaku Cintya Nurima. Kamu?” Cintya menjulurkan tangannya ke arah Arfan. Menurutnya ia perlu berkenalan pada lelaki yang bahkan besok akan mengajaknya menikah.
“Iya … saya Arfan.” Jawabnya masih dengan mata yang tertuju kelantai. Dengan jarak yang cukup jauh. Dan kedua tangan yang hanya ia pertemukan di depan dadanya.
“Maaf … beneran besok kita nikah?” tanya Cintya lagi penasaran. Kenapa pria ini tak berani menatapnya seperti saat melerai ia dan Inge tadi.
“Insya Allah jika Allah mengijinkannya terjadi, maka terjadilah.” Jawab Arfan cepat dengan suara tegas.
“Ngapain tanya Allah. Kan bisa langsung tanya ke akunya. Mau gak kamu halalkan.” Cintya memang tidak se bar-bar Inge. Tapi masih satu frekuensi, rada –rada slebew.
“Allah itu pemilik manusia, yang dapat membolak balikkan hati ciptaannya. Maka apapun yang akan terjadi, biarlah sesuai dengan jalan-Nya. Permisi Assalamualaikum.” Pamit Arfan sopan. Segera melanjutkan tujuan awalnya yang ingin sholat. Namun harus mengalami kecelakaan terlebih dahulu.
__ADS_1
“Oke … kalo gitu aku juga akan minta Allah gak robah keinginanmu untuk besok harus segera halalin aku.” Buseeet nih Cintya. Modal tampang doang ini cowok udah main terima di halalin saja.
Bersambung …