PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 8 : IMING-IMING


__ADS_3

Mengincar lelaki atau berburu pria, bagi seorang Nunuk bukan hal yang aneh. Bangga saja jika bisa mendapatkan sesuatu yang menjadi bahan gunjingan mereka, kalangan ibu-ibu hebring. Bukan hanya tas, berlian atau benda mati lainnya yang jadi target mereka. Tetapi kaum adam juga bisa jadi bahan yang bisa mereka gilir. Pernah dengar arisan berondong ? Yess. Mereka bagian dari pelaku arisan menjijikan itu.


Jangan bicara tentang zinah atau dosa dengan mereka. Sebab mereka punya seribu satu alasan untuk membenarkan yang mereka lakukan.


“Ingat umur …”


“Ga usah di ingetin, umur itu Cuma angka.” Jawabnya


“Ingat kubur …!”


“Weeeks. Semua juga mati. Trus, mereka yang udah mati duluan emang bilang rasanya gimana? Ga ada yang balik ke dunia kan? Itu artinya di sana baik-baik saja.” Pungkasnya.


“Ntar karma ke anak cucu lho.”


“Hidup tuh cuma sekali. Bebas donk ku mau rasakan apapun yang menurut aku bisa buat ku bahagia. Jika kalian bilang zinah itu dosa, dan karena dosa. Aku akan jadi penghuni neraka jahanam. Maka, minimal selama hidup di dunialah ku nikmati sorga dengan versiku.” Itulah prinsip seorang Nunuk yang sangat keras kepala.


Namun walau demikian. Ia tak pernah mengajak siapapun mengikuti jejaknya. Hanya, orang sekitarnya lah yang terpengaruh dengan hal yang ia lakukan. Dan celakanya itu adalah Shane dan Vinsha. Tanpa tutorial yang lengkap, kini mereka juga sudah jadi pelaku perzinahan. Saing-saingan bisa punya slengkian masing-masing. Luar biasa.


Mutiara.


Mutiara satu-satunya orang yang tetap merasa nyaman dalam sirkle pertemanan itu. Tanpa melakukan hal serupa. Walau rumah tangganya tak semanis gulali bersama Pras. Namun, itu tidak menjadi alasan untuknya berkhianat pada ikatan suci pernikahannya. Yang suam-suam kuku.


Tapi …


Itu kemarin. Tepat di saat usia pernikahannya masuk dalam angka 17 tahun. Sebelum si ketceh Dirga itu menawarkan minuman padanya di balkon sebuah hotel bintang lima.


Dirga tidak menggodanya.


Hanya, entah. Rupanya membuat Mutia resah.

__ADS_1


Dirga tidak menunjukkan tanda, jika sedang berusaha menarik perhatiannya.


Tapi Mutia merasa terngiang-ngiang akan senyum charmingnya.


Dirga berlaku sopan, baik di saat jumpa juga melalu chat mereka.


Tapi, kini jantung Mutiara serasa berdebar lebih cepat. Berharap tiap notif yang masuk adalah dari Dirga.


Mengapa begitu …?


“Pokoknya … ku ga mau tau ya Mut. Kamu harus bisa persatukan aku sama Dirga. Berapapun uang yang dia perlu, bilang aja. Kalo dia sekarang hanya anak kost. Bilang, aku sanggup beri dia rumah. Kalo dia perlu uang untuk selesaikan kuliahnya. Aku bahkan siap membiayai studinya hingga bergelar doktor sekalipun. Asalkan dia mau jadi milikku.” Tukas Nunuk tegas dan lugas.


“Hah … mbak serius?” Mutiara merasa irama jantungnya tidak baik-baik saja. Tidak jelas itu mengapa. Apa karena tawaran Nunuk yang lebay. Atau karena merasa tak rela jika Dirga yang kini jadi target nyonya dewan direksi tersebut.


“Kapan aku bercanda, Mut ?” Nunuk balik bertanya.


“Heem … oke. Tapi pelan-pelan ya mbak infonya. Sebab itu bukan spesialisku.” Dengan jujur Mutia mengakui kelemahannya.


[Tante Imuuut. Udah di rumah?] Jam dinding menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Mutia belum tidur. Ia harus selalu memastikan anak anaknya, sudah melepas ponselnya dan sudah menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari, tak lupa memastikan pekerjaan rumah mereka juga sudah selesai di kerjakan.


[ ini sudah hampir ja 10 malam, Ga. Masa jam segini tante masih kelayapan?] balas Mutia dengan sedikit senyum.


[Ya kali, tante masih bersama tante yang lain. Dirga baru sampe kost nih.] Dalam hati Mutia bilang ‘ga nanya’ tapi itu hanya dalam hatinya. Jarinya berkhianat dengan isi di dalam hatinya tadi. Seenak ibu jarinya saja mengetik tanpa pikir panjang.


[Malam banget sih pulang ke kostnya. Bukannya kita pisahan tadi matahari baru tenggelam.] Nah, kan beda jauh isi chat sama isi kepala Mutia.


[Ya kan, harus balik ke kantor dulu. Laporan hasil pertemuannya sama si bos.] Dirga begitu cepat membalas chat Mutia.


[Hem … istrirahat gih, pasti kamu lelah] kalo isi jawaban chatnya kayak gini. Kan si Brondng merasa di perhatikan tante.

__ADS_1


[Boleh ku call, tan?] apa maksud chat ini. Kenapa si ketceh ijin mau telpon tante. Celakanya si tante langsung balas.


[Boleh.]


Tunggu …


Itu bukan panggilan suara.


Tapi panggilan berwarna biru. Itu lho. Yang ada gambar alat video. Yess, tu brondong melakukan video call sama si tante yang di sebutnya imut.


“Tante imut … Dirga VC tuh mau liat wajah tante. Kenapa malah langit ruangan yang Dirga liat siih.” Suara itu terdengar kesal. Mana Mutia berani menampakkan rupanya. Dia sudah boboan di atas tempat tidurnya, menunggu suami coolnya pulang. Walau suami sedingin es, Mutia tetap menyajikan kehangatan ranjang. Dengan berusaha mengenakan pakaian yang mungkin akan membuatnya melayang ke nirwana bersama Pras.


“Tante udah pake baju dinas malam, Ga. Tak sopan di liat brondong macam kamu.” Jawabnya jujur.


“Bukannya malam di balkon, tante malah berani keluar dengan pakaian tipis, bertali satu?” tanya Dirga tak mau kalah. ‘Iya juga sih’ pikir Mutia.


“Itu di luar perkiraan Ga. Mana tante tau bakalan ketemu kamu di sana.” Jawab Mutia sekenanya.


“Ya kan artinya gak ada yang perlu tante sembunyikan dari Dirga. Ku cuma mau liat wajah imut tante aja, sebentar.” Apa ini termasuk dalam kategori merayu?


“Iiish ga sopan. Tante ini pasti seusia ibumu. Hormat dikit lah.” Mutia berusaha mengingat. Jika dirinya tak pantas berkomunikasi sampai keluar jalur dengan pemuda ini.


“Ya maaf tante. Dirga cuma bercanda. Rasanya ga puas aja mau bilang makasih sama tante, tanpa liat ekspersi tante.” Lanjutnya sedikit melemah. Diam-diam Mutia mengalihkan kamera. Tidak menampakan bahu yang hanya tergantung tali satu tanpa kain melintang menutup dadanya. Close up. Ya … Mutia hanya memunculkan wajahnya yang memenuhi kamera lawan bicaranya.


“Mau bilang apa sih?” tanya Mutia dengan mimik serius. Dirga terlonjak kesenangan, saat wajah yang dia bilang imut itu sudah memenuhi kamera ponselnya.


“Mau bilang makasih banget. Berkat tante, Dirga dapat bonus gede tadi. Besok Dirga bisa bayar uang SPP yang sudah lama tertunggak. Jujur … Dirga hampir DO kalo ga bisa bayar kuliah bulan ini tan.” Wajah itu terlihat serius. Bercampur rasa senang yang tak terlukiskan. Pantas saja ia sangat berterima kasih pada Mutia. Bagi Dirga, Mutia bagai dewi penyelamat hidupnya.


“Kamu mau gak … kuliah sampai doktor?” tiba-tiba saja Mutia ingat dengan iming-iming yang Nunuk tawarkan untuk Dirga sore tadi.

__ADS_1


“Hah … sampe jadi Doktor? Boro boro S3 tante. S1 saja, Dirga hampir DO, karena ga punya uang.”


Bersambung …


__ADS_2