PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 40 : SUDAH GILAK


__ADS_3

Mulut Mutia memang berucap kata ‘biasa saja’, saat kakak iparnya memuji kecantikannya saat datang pada pesta pertunangan putri Widya. Padahal, Mutisa sungguh besar kepala mendapat sanjungan itu. Belum lagi saat Mutia dengan jelas melihat netra Widya yang berfokus pada kalung berlian yang nemplok di leher Mutia. Juga gelang dan cincin yang berkilauan, memang terlihat kecil. Tapi untuk ukuran mata jeli seorang Widya. Ia tentu tau jika itu edisi terbatas dan pasti mahal. Sangat jelas tergambar jika tatapan mata itu penuh dengan kesirikan, sebab baginya sejak dulu istri Pras bagai saingannya. Dan dia lah yang selalu jadi pemenang, bukan Mutia. Sebab Mutia istri Pras, manusia tercuek sejagad raya. Dan itu berhasil menular pada Mutia. Yang hanya di awal merasa keki dan ingin ikut bersaing dengan para iparnya. Selanjutnya, sikap dingin Pras mampu membuatnya menjadi pribadi yang tahan banting. Yang tidak ikut-ikutan trend bergaya hidup hedon.


“Ibu Mutia …” Panggil suara dari arah belakang tubuh Mutia. Buru-buru Mutia berbalik dan menoleh pada asal suara tersbut.


“Desti …” Terka Mutia mengingat nama wanita yang beberapa bulan lalu bersama Dirga, bahkan hampir tidur bersama. Dan itu artinya, lagi-lagi Mutia akan di pertemukan dengan Brondongnya di sebuah pesta. Kebetulan atau memang jodoh nih.


“Apa kabar Bu … Ibu makin cantik saja.” Puji Desti yang lumayan lama tidak berjumpa dengan wanita yang membuat EO mereka lumayan mendapatkan job besar.


“Ah … biasa saja Des. Huum … EO kalian lagi yang urus acara pertunangan ini, Des?” Mutia kepo dong. Berharap Brondongnya ada di sudut bagian mana pada acara tersebut, lumayan kan cuci mata. Walau mungkin ga bisa deket. Mutia sejak bangun tidur tadi memang tak memegang ponselnya. Entah, perasaan bersalahnya menguat sejak pagi. Setelah Pras banyak bicara, meminta maaf atas sikapnya yang selalu sibuk, juga ucapan terima kasih yang Pras ucapkan padanya. Bagi Mutia itu lebih dari cukup, untuk mengembalikan kepercayaannya. Jika ia sangat di cintai oleh suaminya. Hanya dia yang bodoh, sempat oleng karena perhatian receh si dedeg tengil.


“Iya buk. Semoga sampai acara pernikahan nanti kami yang akan pegang acara ini.” Jawab Desti dengan penuh semangat.


“Dirga tidak ikut …” kelamaan kalo Mutia harus muter-muter tanya ina inu pada Desti. Sebab matanya tidak menemukan sosok pemudia tengil yang tiba-tiba ia rindukan.


“Tidak Buk, semalam Dirga sudah ngeJob di ballroom hotel DD. Kami bergantian. Juga … dia sudah terhitung cuti sejak hari ini.” Jelas Desti nampak masih ingin ngobrol dengan Mutia.


“Cuti …?” ulang Mutia memastikan pendengarannya.


“Iya … dia mau KKN buk. Jadi, di sarankan cuti saja. Agar fokus dengan kegiatan kuliahnya.” Terang Desti.


Huum… bukankan brondongnya juga sudah bilang soal keberangkatan KKNnya. Hanya mereka belum detail bicara tentang kapan berangkatnya. Selanjutnya, Desti pamit dan Mutia pun sudah berbaur dengan keluarga Pras, sebab acara akan segera bermulai.


Mutia bukan pemeran utama dalam acara itu, sehingga ia pun hanya sebagai penonton saat keberlangsungan acara. Rasa bosan tentu menyerangnya. Dan akhirnya tangannya meraih benda pipih yang mungkin sudah 12 jam tidak ia perhatikan dengan seksama.


[Yaaaank … bangun.]

__ADS_1


[Tante Imuuut Terchayaank. Dedeg kangen, sumpah. VC yuk]


[Bis lembur yaaak, sama Om Pras? Kok gak ada di salon?]


[Ayank … dedeg tungguiin di salon nih]


[Eh … ayank ada acara kondangan di mana? Ini mbak Hanny katanya habis dari rumah sang Owner.]


[Ayaaaaank. Mau jadi pembunuh berdarah dingin? Jika dukun bisa bunuh orang tanpa menyentuh. Sekarang ayank tega!! udah buat dedeg tersiksa rindu tanpa bertemu.]


[Balas chat dedeg, ayank]


[Ayaaaank … dedeg salah apa?]


[Dedeg besok siang udah berangkat ke desa yaaank]


[Ayaaaank kejam🙄]


Huh … dasar Brondong. Hanya satu strip di atas bocah. Itu yang elu chat bini orang bhambank. Suka –suka dia kan mau bales atau gak. Sumpah, ga tau diri baeeut. Udah di cuekin chat nya udah nyalahin rel kereta api deh. Buta apa yak … itu chat semua centang satu dan warna abu-abu. Pliis, Mutia lagi OTW mode tobat, sejak pulang pesta berniat ga mau pegang ponsel. Mana pagi udah di sayang-sayang laki lagi. Bolehlah, berniat kembali ke jalan yang benar.


Tapi, kenapa Mutia merasa sepi dalam keramaian. Berwajah murung walau pujian bertubi-tubi menyebutnya cantik sejak berada di perta keponakananya. Tetap tak membuat hatinya ceria. Ada apa dengan Mutia, merasa separuh rohnya hilang, entah menguap di mana?


Bukan sulap, bukan sihir.


Saat benda pipih itu sudah Mutia hidupkan, berganti-ganti notif masuk, dari pesan teks via SMS, WA, Panggilan suara tak terjawab, Panggilan Video Call juga. Buseeet. Dari asal kontak yang sama semua bertajuk Dirga. Dan itu menerbitkan senyum yang sejak tadi tak dapat Mutia ukir dari wajah cantiknya.

__ADS_1


Mutia celingukkan, mungkin tiolet atau pojokan seblelah mana sekarang ia perlukan untuk mengamankan posisi untuk meladeni so dedeg tengil. Uffft … Mutia tidak membawa alat bantu dengar. Lalu, bagaimana jika obrolannya di dengar orang sekitar.


[Dedeg Tengil … maaf. Ponsel tante baru on] hanya kalimat itu yang sempat Mutia ketik. Namun bukan balasan yang Mutia terima. Tetapi langsung panggilan VC dari se tengil. Ya ampuun, ngebet beeeuut seeh, deg.


Mutia tidak bicara, dan segera meletakkan telunjuknya ke depan bibir. Agar Dirga tidak mengeluarkan suara. Dirga menganggup paham. Lalu memberi kode agar Mutia menurunkan kamera ponselnya. Dengan kode tangan yang sesekali ke atas, ke bawah, kekiri dan kekanan. Juga meminta Mutia berdiri. Hah … Mutia seperti orang gila, mematutkan diri di depan kamera, sesuai arahan seseorang yang bahkan lebih sibuk memberi komando daripada ahli translate para tuna netra.


Dirga mematikan ponselnya sepihak.


[Ayank cantiiik banget hari ini …. Bikin tambah kangen] Dirga langsung menulis pada kolom chat.


[Hari ini aja cantiknya] Yaaah … emak-emak langsung kedodoran deh hatinya, kalo udah di puji. Brondong lagi.


[Kalo ayangnya Dirga, selalu cantik. Tapi dengan gaun itu makin cantik yank. Mau cium banyak-banyak😘] Hah … kolom chat Mutia udah penuh dengan kiriman emot cium bertaburan dari si tengil.


[Halu] Jawan Mutia pura-pura tak suka.


[Ayaaank … besok pagi-pagi ke kost ya.] Pintanya, jika itu adalah suara, pasti di buat semanja mungkin. Agar tante jadi-jadianya itu luluh.


[Ngapain?] Mutia membalas dengan singkat agar cepat.


[Bantuin siapin bekal dedeg donk. Kita bakalan pisah lama lhooo. Oke ayank…? pliiis. Dedeg bakalan rindu banyak-banyak sama ayank] Rayunya membuat hati Mutia meletup-letup. Merasa sangat di butuhkan oleh pemuda tanggung ini.


[Siapain bekal … emang tante ini ibumu?😀] tak lupa Mutia memberi emot tertawa di ujung kalimat.


[Ya kalo ga bisa jadi ibuku, setidaknya masih bisa jadi ibu dari anakku] fix Dirga sudah gilak.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2