PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 70 : MENGUATKAN HATI


__ADS_3

"Tante Imutku sayang … udah tidur?” ada chat yang tak asing masuk dengan nomor asing pada ponsel baru Mutia.


Tidak perlu buang energi untuk mencari tau siapa gerangan si pengirim chat ke nomor Mutia yang baru. Itu jelas dari Dirga, si Brondong trendy yang rupanya masih getol dan penasaran dengan Mutia.


Wanita berusia empat puluh tahun itu hanya mengusap ponselnya. Batinnya tergelitik untuk mengetik balasan.


“Belum Ga. Tante belum tidur.” Ketik Mutia. Lalu di hapusnya sendiri.


“Kamu tau nomor ponsel tante dari mana Ga?” Ketiknya lagi, tetapi kemudian di hapusnya kembali.


“Ga … Plis jangan ganggu tante lagi. Tolo ….” Belum habis ketikan itu Mutia kerik. Namun, ponsel Mutia sudah berdering. Tentu saja itu dari si Brondy. Yang sejak tadi geli menunggu tulisan Mutia sedang mengetik di kolom chatnya. Tetapi tak kunjung selesai. Dirga gemas.


Mutia hanya memandang ponselnya yang bergetar minta diusap itu. Tapi, Mutia berusaha menguatkan hati dan menahan jemarinya. Untuk tidak mengusap icon merah atau hijau pada layar pipih di tangannya.


Sampai panggilan Dirga yang ke sepuluh kali pun. Mutia tetap tak bergeming. Ingin melanjutkan ketikannya tadi pun ia urungkan. Takut salah, bisa jadi ia tetiba tersentuh mode terima pada ponselnya.


Sehingga menunggu panggilan itu berakhir karena bosen di cuekin. Bagi Mutia adalah hal yang perlu ia lakukan sekarang.


Sampai ponsel itu sungguh telah hening. Mutia pun kembali pada room chat, dan menghapus ketikan terakhirnya. Mutia sudah yakin, tidak akan membalas.


“Tante boleh gak terima panggilan ku. Dan gak bales chatku. Tapi pliis. Tolong, jangan blokir aku ya, tan. Aku janji gak minta hati tante lagi. Tapi ijinkan aku pergi dengan pelan-pelan, sampai diriku tau jika kehadiranku memang gak penting untuk tante.” Isi chat Dirga yang mampu meluruhkan arirmata Mutia lagi.

__ADS_1


“Ga … kamu pernah jadi yang terpenting untukku. Kamu pernah beri aku rasa nyaman. Aku pernah merasa menjadi wanita yang sangat di perhatikan oleh pria, saat bersamamu. Aku pernah merasakan sensasi di cemburui, di atur, di pilihkan pakain, di ceramahi juga di puji. Kamu pernah berikan semua keasyikan itu, Dirga.” Dalam hati Mutia berteriak. Dia tak mau lagi menulis di kolom chat. Sebab, ponselnya masih di pantau Dirga. Dan telunjuk Mutia kini tengah memilih nomor kontak itu, untuk ia masukan dalam mode arsip.


Mutia mendengarkan permintaan Dirga, untuk tidak memblokir kontak brondong itu. Namun, memasukan kontak Dirga dalam kearsipan itu adalah hal yang ia rasa perlu. Agar Mutia tidak terganggu, dan tidak buru-buru membuka chat yang masuk kapan saja. Dan respon Mutia terlihat selalu terlambat karena tidak mengetahui notifikasi. Agar benar, jika Dirga memang tidak penting bagi Mutia sekarang.


Hari berlalu, masa KKn berakhir. Sejak awal masa itu memang berat Dirga lalui. Bukan karena sulitnya tugas yang di bebankan pada mereka, dalam urusan perkuliahan. Namun, lebih ke masalah pribadi. Dirga yang galau jauh dari Mutia, hingga di putuskan bahkan sekarang fix di cuekin oleh kekasih beda genre tersebut. Belum lagi kasusnya dengan Inge yang tak pernah melandai. Inge yang selalu punya cara untuk mendekatinya, bahkan Dirga merasa seolah di lecehkan. Sampai-sampai ia pernah di tegur oleh Gus Arfan. Untuk menghalalkan Inge saja untuknya, karena mereka sudah sering berkontak fisik, padahal bukan muhrim. Dan kata pak ustad itu dosa. Hah .. persetan dengan dosa akibat di cium-cium oleh inge. Bukankah, Mutia yang jelas istri orang pun sudah pernah Dirga cip ok. Lalu, apa Dirga masih takut dosa.


Keluar dari desa bagi Dirga bagai keluar dari mulut harimau. Tujuannya setelah berada di kota tidak lain adalah, kembali gencar mendekati Mutia. Dia masih saja memiliki keyakinan, jika Mutia tidak sungguh dengan penolakknannya. Seperti sekarang dia sudah berada dalam ruang tunggu khusus di salon Mutia.


“Kenapa kamu ke sini Ga?” tanya Mutia.


“Kangen tante.” Jawabnya to the point. Mutia hanya mendelik ke arah Dirga. Sambil berjalan membuka pintu ruangan itu. Mutia tidak mau lagi seperti dulu, ia tak mau orang di salonnya memikirkan hal aneh, sedang apa ia berdua-duaan dalam ruang tunggu tersebut dengan Dirga.


“Kalo kamu tutup … kita ngobrolnya di teras depan ruko saja.” Ujar Mutia datar.


“Okeeh.” Ujar Dirga memilih duduk dan tidak jadi menutup pintu itu.


“Dirga salah apa?” tanpa malu dan tanpa menurunkan volume suaranya, Dirga bertanya pada Mutia perihal hubungan mereka.


“Aline itu siapa mu?” tanya Mutia dengan nada suara rendah.


“Pacar Dirga.” Jawabnya jujur.

__ADS_1


“Kenapa baru jujur sekarang?” tanya Mutia masih dengan nada yang tenang.


“Kalo Dirga bilangnya kemarin… pasti Dirga di putusin.” Jelasnya manja.


“Ga usah keras-keras jawabnya.” Jujury Mutia sebenarnya malu, obrolan mereka sayup-sayup pasti terdengar oleh beberapa orang di salonnya.


Dirga hanya mengangkat bahunya.


“Kamu masih pacaran sama Aline?” tanya Mutia lagi.


“Bodo…!!!” jawab Dirga cuek.


“Ga … dia itu muda, cantik. Spek idaman loooh. Bisa jadi masa depankamu.” Setengah menghardik Mutia geram dengan sikap Dirga menjawab pertanyaannya soal Aline. Yang sebenarnya pernah mendatangi Mutia di salon, setelah Mutia Tiba darei liburan ke rumah bundnaya.


Saat itu, akhirnya Aline mengaku curiga dengan hubungan Mutia dan Dirga yang menurutnya tidak mungkin hanya sebatas tante dan keponakan. Lalu, ia mengaku jika ia itu adalah kekasih Dirga. Memang saat itu, Mutia tetap mempertahankan silsilah palsu yang Dirga karang untuknya pada Aline. Tapi, pengakuan Aline sebagai kekasihnya itu, sungguh telah membuka pikiran Mutia, jika selama ini ia memang sudah di tipu oleh brondong itu.


Bisa saja kan di sini dai bilang cinta ke Mutia, di sana juga dia bilang sayang ke Aline. Lalu, apa susahnya bagi Dirga bilang rindu pada Mutia, bahkan sebelumnya juga sudah ngaku kangen sama Aline. Apa pria seperti itu yang ingin ia jadikan tempat pelarian mencari kenyamanan. Selain suaminya.


“Tante Imutku sayang. Cantik, muda n spek idaman itu bukan tante yang nentuin. Tapi hati Dirga yang bicara. Tante tau ga? Saat orang jatuh cinta karena kecantikan seseorang itu namanya nappsu. Saat orang sayang karena orang itu baik sama dia, itu namanya balas budi. Saat seseorang menginginkan perhatian dari orang yang bahkan tanpa alasan ia memilih orang itu untuk di jadikannya tempat berbagi dan bersandar. Fix … tante itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta tanpa sebab dan tak bersyarat. Dan itu Dirga temukan di tante. “ Ucap Dirga panjang. Bahkan semakin nyaring dan itu membuat Mutia malu mendengarnya. Kalimat demi kalimat itu sangat jelas Dirga ucapkan, di tempat yang seharusya hanya mereka berdua yang mendengarnya.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2