
Dirga itu manis memang, tapi kadarnya berlebihan. Sehingga cendrung berbahaya, akibat perlakuannya yang kadang melebihi batas. Ia dan Mutia jelas – jelas sedang berada di ruang rawat sang ibu yang terlihat sedang tidur, entah efek obat. Atau memang sedang menahan rasa sakit. Tetapi yang Dirga lakukan pada Mutia, justru sesuatu yang masuk kategori nekat. Ngapain coba peluk-pelukan sama Mutia di sana. Kalo ibunya liat gimana?
“Kamu sama siapa Dir …?” Suara lemah agak parau terdengar dalam ruangan rawat inap itu. Tepat saat Dirga melepas pelukannya pada Mutia. Jantung Mutia hampir di buat jatuh mendengar suara tersebut. Apakah aksi pelukan Dirga tadi ketangkap sang ibu, atau ibunya baru saja bangun. Ah, Mutia tak tau akan beralasan apa dengan wanita yang terlihat lebih tua darinya.
“Ini … ini tante Mutia, Bu. Tante ini dan suaminya yang mengantar Dirga bisa cepat ke sini. Di kota tempat Dirga tinggal pun, tante ini sangat banyak dan sering membantu Dirga.” Dengan santai Dirga menjelaskan dan memperkenalkan Mutia. Sambil ia menarik tangan Mutia untuk mereka bisa lebih dekat dengan bed pesakitan dalam ruangan tersebut.
“Terima kasih, maaf jika anak saya banyak merepotkan kalian sekeluarga.” Ibu Dirga bicara pelan sambil terus menatap Mutia dengan rasa sungkan yang tak terelakkan.
“Tidak … mbak. Putra mbak adalah sosok anak yang baik dan tidak merepotkan kami kok.” Mutia dengan senyum tulusnya menjawab sambil mengelus punggung tangan ibu Dirga.
“Dirga itu keras kepala sekali. Terlalu percaya diri ingin berkuliah jauh dari desa. Padahal di kota ini pun ada tempat untuk berkuliah, yang jaraknya lebih dekat dengan desa kami. Tetapi, ya begitulah. Saya tidak berhasil mendidiknya menjadi anak yang penurut.” Ibu Dirga curcol donk.
“Oh … tidak hanya mbak yang gagal mendidiknya, saya juga gagal mengusir dia begitu saja dari hati saya, mbak.” Seloroh Mutia dalam hati.
“Bukan tidak berhasil mbak. Yang penting dia bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah ia yakini.” Lanjut Mutia menghibur ibu Dirga.
“Ga … Biar tante jaga ibumu. Silahkan kalau mau mandi dan makan. Tapi jangan lama, Om mu gak makan malam, kalo tante gak balik ke hotel.” Baik sekali pengaturan itu terucap. Seolah mereka memang bukanlah pasangan kekasih, yak .. emang udah putus sih. Tapi setidaknya, dengan kalimat tadi. Menunjukkan bahwa, Dirga memang sangat akrab dengan suami si Mutia ini.
“Siap … tante. Ibu, Dirga tinggal dulu ya.” Pamit Dirga patuh pada perintah Mutia. Ia pun bergegas menenteng plastik yang Mutia berikan padanya tadi. Dan masuk dalam kamar kecil untuk ia membersihkan tubuhnya di dalam sana.
Mutia jelas menolak saat Dirga mengajaknya mencari makanan bersama, gak usah tanya kenapa. Tentu saja Dirga ingin mengambil kesempatan untuk bisa berdua-duaan kembali dengan Mutia. Mungkin dengan sambil memegang tangan Mutia. Walaupun hanya di sepanjang koridor rumah sakit saja.
__ADS_1
“Tante beli makanan buat Om. Dan kita makan bersama sambil menunggu makanan itu.” Paksa Dirga pada Mutia, saat separuh tubuhnya sudah di luar, dan kepalanya masih menjenguk kedalam.
“Kamu itu ngawur, Dir. Ya … dek Mutia harus makan bersama suaminya tho.” Ibu Dirga yang menjawab, sebab ia juga bosan mendengar rengekan ajakan Dirga, yang sejak keluar kamr kecil tadi, selalu mengajak Mutia untuk keluar berdua.
“Ya … begitulah anak sulungku itu, Dek. Pemaksa dan selalu harus menang dengan keinginannya. Maaf ya …” Ucap bu Larsih malu.
“Sudah sifatnya mbak. Semoga itu bisa menjadi sumber keberhasilannya kelak.” Terpaksa Mutia jawab sebijak itu saja. Karena tidak mungkin ia jawab, “Iya mbak, dia emang suka maksa. Terakhir ia juga maksa untuk tetap mencintaiku. Dia memang keras kepala, sampai tak perduli aku sudah punya suami. Dia tetap ngotot untuk memiliki tempat dalam hatiku. Mbak … anak mbak itu sangat amat ingin menang sendiri. Dan parahnya, aku suka tipe sepertiini. Membuat aku merasa sangat istimewa.” Huh, Mutia itu lemah, hatinya belum sungguh tangguh. Tapi, ia sedang berusaha terlihat kuat, dan tidak menampakkan keolengannya.
[Ayang … sumpah pakaian sampe daleman yang di belikan ayank, sedang look. Makasih ayank akuh. Makin love deh.] si tengil mengirimkan chat pada Mutia. Dan kini nama Dirga sudah Mutia keluarkan dari barisan arsip. Sehingga, Mutia bisa langsung mendapat notifikasi saat pesan itu masuk.
[Jangan Ge-eR. Biasa aja. Ketimbang kamu sampe besok gak mandi.] Balas Mutia cepat. Ibu Dirga tak bisa banyak bicara, sepertinya matanya masih sangat berat untuk dibuka. Bisa jadi pengaruh obat yang ia konsumsi memang memaksanya untuk banyak istrirahat, sehingga bawannya selalu ingin tertidur.
[Ayank bobonya di rumah sakit aja yuks, sama Dirga dan ibu] Ketik Dirga ngelunjak. Merasa chatnya segera di respon oleh Mutia.
[Biarin aja Om gak makan. Dia itu udah gede, eh. Tua malah. Bisa aja kali dia cari makan sendiri.] Balas Dira lagi.
[Jangan mengadi-ngadi. Dia itu suami tante, Ga. Inget.] Ketik Mutia lagi.
[Dia itu Arca. Heran, kok tante tahan tujuh belas tahun hidup bersama pria kaku seperti dia. Tante itu cantik kalo banyak senyum. Tapi sama Om, tante bawannya dieem aja, sini ku peluk lagi.] Ketik Dirga yang mengetik chat itu sambil berjalan mendekat ruang rawat inap sang ibu.
[Jangan macam-macam. Jantung tante tadi udah hampir copot lho. Untung saja ibumu tidak melihat kamu lagi peluk tante tadi. Malu] Jujur Mutia pada Dirga. Dan selesai balasan itu terkirim, Dirga sudah nongol saja di depan pintu ruang tersebut.
__ADS_1
[Hanya karena ada ibu aja kan Malunya? Kalo gak ada siapa-siapa Mau donk, yank] Ketik si pemaksa itu. Mutia kembali mengabaikan chat ngelunjak itu.
“Echeeem …” Dirga berdehem, menandakan ia sudah berada di ruang yang sama dengan Mutia dan ibunya.
“Iissh … makannya udah?” Mutia sedikit terkejut di buat Dirga.
“Iya udah.” Jawabnya mendekati Mutia. Dan sempat saja menowel hidung Mutia yang tidak panjang juga tidak terlalu pesek.
“Pamitkan ibumu, tante balik ke hotel ya Ga.” Mutia sudah beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat jarum jam di tangannya sudah lewat dari pukul tujuh malam.
“iih … kok sebentar banget sih di sini.” Rengek Dirga menajdi-jadi.
“Om mu belum makan Ga.” Ulang Mutia.
“Terlambat makan itu gak bakalan buat Om langsung mati, Tante.” Jawabnya melangkah mengikuti Mutia yang sudah berkemas untuk pulang.
“Huuush … gak sopan.” Mutia hanya menghardik dengan suara pelan yang di buat agak di tekan. Sebab mata bu Larsih memang terlihat terpejam, tapi entah dengan telinganya apakah masih bisa mendengar percakapan yang kadang konyol dari seorang Dirga.
“Take care, ayank.” Tangan Dirga segera meraih tangan Mutia saat tubuh wanita kesayangannya itu berada di luar kamar ibunya. Ia sempatkan pula mencium punggung tangan Mutia. Itu berhasil membuat Mutia tersipu. Mutia mungkin harus mencari suntikan insulin. Agar kemanisan Dirga ini tidak terlanjur berbahaya untuknya, dan berakibat fatal untuk keberlangsungan hidupnya.
“Kamu kenapa bersikap aneh dengan tante mu itu Dir …?”
__ADS_1
Bersambung …