PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 15 : ITIK VS ANGSA


__ADS_3

Sepulang ngeGym Mutia memang tidak punya waktu untuk memegang ponselnya. Sebab saat di rumah, sudah ada Pras yang mengajaknya ke dokter. Jangan lupa, Mutia adalah istri solehah. Yang mengutamakan kepentingan suami di atas kepentingan lain. Kemudian waktu bersama keluarga adalah bahagianya. Lalu apakah Mutia merasa ponsel itu lebih penting? Baginya sudah berada di antara anak dan suami, itu sudah cukup. Yang lain skip. Mutia masih berusaha setia.


[Tante Imut … besok di tempat Gym. Minta ganti Tutor cewek aja, bisa?]


[Tan … Dirga ga suka liat tante deket tutor itu.]


[Tan … maaf. Tadi di tempat Gym, Dirga nyuekin tante. Dirga ga mau aja kedekatan kita terlalu mencolok. Tante Imut ngertikan maksud Dirga?]


[Tante marah …?]


[Tante ngambek ...?]


[Taaaaan, pliis jangan cuekin Dirga🙏]


[Tante Mumut … Dirga patah hati lho di diemin gini.]


[Tan … jangan kentang donk😔]


[Tan … Dirga ke tempat Gymnya tante Shane itu biar bisa liat tante Imut lho.]


[Tan … Dirga kangen🙄]


Mutia baru membaca chat yang Dirga kirim, saat ia berada di samping Pras yang sedang mengemudi. Membawa mereka pulang usai berquality time.

__ADS_1


Ya ampun. Absurd banget sih isi chat itu, mulai dari ngatur Mutia soal tutor di tempat Gym, pengakuan sikap cueknya saat di tempat itu, tuduhan perasaan marah Mutia, pengakuan patah hatinya dan yang parah itu adalah kalimat ‘Dirga kangen’. Fix Mutia bisa gila kalo selalu dapat chat aneh bin ajaib macam ini dari seorang Dirga. Mahasiwa semseter akhir berusia 22 tahun. Tolong beri pencerahan, pemirsaaah.


Mutia menarik nafas dalam, lalu membuangnya dengan berat. Seberat pikiran yang berkelebat dalam benaknya. Ini pemuda tanggung maunya apa sih. Kenapa jika ia balas dan ikutan baper, ia merasa seperti ABG labil yang sedang di taksir seseorang. Dan lucunya, Mutia merasa senang dengan urutan chat dari Dirga tadi. Mutia juga merasa tersiksa saat ia tak bisa menjawab dengan benar panggilan Video Call tadi. Karena sedang bersama anak dan suaminya. Diam-diam Mutia juga tidak ingin melukai hati Dirga dengan sikap cueknya. Tapi, sekarang pun ia merasa kikuk, jika harus membalas semua chat itu, saat Pras ada di sisinya. Dia bukan play yang baik, masih pemula jika ingin berbuat curang di belakang suaminya.


Mengembalikan ponselnya ke dalam tas adalah pilihan akhir. Tanpa membalas chat berderet-deret itu. Membuang pandangan ke arah jendela, berharap menemukan inspirasi untuk nanti menjawab semua pertanyaan dan pernyataan Dirga. Yang pasti, Mutia harus mengerti terlebih dahulu. Sebagai siapakah Dirga kini di hatinya. Apa benar hatinya sudah terbagi, fokusnya sudah tidak hanya tertuju pada suami coolnya. Mutia butuh kepastian akan perasaannya sendiri.


[Tante Imuut, udah tidur? Tadi lagi quality time with fam yaaah. Maaf ya tan. Dirga ganggu. Siapalah aku bagi tante, hanya debu yang akan lenyap bersama angin yang menerpa. Mestinya tante kasih kode donk, kalo sedang with fam. Jadi Dirga ga akan ganggu tante untuk sementara. Sekali lagi maafin Dirga]


Mutia terbangun di tengah malam. Saat ingin buang air kecil. Dan melihat ponselnya menyala sendiri walau tidak berbunyi juga tanpa getaran. Pras sudah tidur lebih dahulu, mungkin lelah setelah menahan puasanya, sebelum melakukan chek up rutinnya tadi.


Mutia memungut ponsel menyala itu di atas nakas. Membaca isi chat permintaan maaf Dirga yang sepertinya serius. Hati Mutia bimbang. Ia sadar akan statusnya adalah istri orang, dan ibu beranak dua. Tetapi kenapa pojokan hati lainnya, merasa iba dengan isi chat Dirga yang bahkan sejak sore tadi ia abaikan. Kenapa Mutia merasa sakit, saat Dirga bilang ia hanya debu bagi Mutia.


Dirga itu bukan hanya debu di hati Mutia, tapi perlahan sudah jadi kerikil dan tak lama lagi akan jadi coral. Batu sandungan, batu yang akan menghalang jalannya rumah tangga Mutia yang sebenarnya baik-baik saja.


Ya … organ kecil yang merupakan central kontrol dan pusat pemerintahan organ lainnya itu yang membuat Mutia kini memilik duduk di kursi yang berada di dapur, tepatnya di meja makan mereka. Di mana ruangan itu dapat melihat segala sudut isi dalam rumahnya. Dari sana, Mutia bisa memastikan pintu kamar mana saja yang mungkin tiba-tiba terbuka, jika penghuninya akan keluar. Sehingga mudah baginya untuk mengatur akting selanjutnya jika terjadi sesuatu.


“Kenapa sih Ga …?” tanpa basa-basi Mutia segera melakukan pertanyaan setelah tulisan berdering itu berubah menjadi angka, pertanda panggilannya sudah di terima calon lawan bicaranya.


“Kenapa tante belum tidur?” bukan jawaban yang Mutia dapat. Justru pertanyaan yang terdengar cemas dari suara yang dapat rungu Mutia tangkap.


“Sudah tidur kok. Hanya terbangun saat mau vivis.” Mutia mana pintar berbohong, sejujur itu saja dia menjawab pertanyaan Dirga.


“Huum … bukan terbangun karena chatnya Dirga kan?” telisiknya. Sebenarnya Dirga mau jawaban Mutia adalah Mutia terbangun karena kaget chatnya masuk bahkan di tengah malam. Iya… saat itu pukul 2 dini hari.

__ADS_1


“Tidak.” Jawab Mutia singkat. Tuh kan, tidak sesuai ekspektasi seorang Dirga.


“Tan … besok punya waktu ketemu?” tanya Dirga.


“Besok tante kayak biasa lah Ga. NgeGym, ketemu di sana aja kayak tadi.” Mutia memang masih berusaha tidak mendorong rasa untuk membuka peluang Dirga masuk lebih dalam di hati dan kesehariannya. Tetapi gagal.


“Ga mau tan. Dirga maunya bicara empat mata sama tante Imut.” Dirga terdengar serius.


“Kenapa harus empat mata?”


“Karena Dirga mau bicara penting.”


“Harus ketemu, ga bisa lewat call begini saja.” Mutia sesungguhnya cemas. Ia tau jiwanya akan meronta setiap melihat makhluk bernama Dirga ini. Pesonanya bikin Mutia oleng.


Selama kenal Dirga dan seolah sedang di usahakan Dirga menciptakan hubungan kedekatan yang makin intens. Sesungguhnya Mutia sudah berkali-kali menyadur perasaannya. Menggunakan segenap logikanya. Untuk meyakinkan hatinya. Bahwa Dirga hanya sedang bercanda dan berusaha keras membuat iseng saja padanya.


Mutia itu wanita kepala empat, memiliki bobot tubuh yang tak ideal. Bukan keturunan konglomerat walau kini suaminya menjabat sebagai CEO. Tetapi, semua itu tidak sebanding dengan Nunuk yang serorang istri dewan direksi, tetap tak selevel dengan Shane yang bahkan owner sebuah sanggar Gym yang cabangnya sudah buka di mana-mana. Mutia juga tak akan bisa setara dengan Vinsha yang kemana-mana ga perlu ngantri di Bandara karena suaminya punya pesawat pribadi. Mutia itu hanya itik si buruk rupa. Dari fisikly hingga materi Mutia jauh di bawah rata-rata para sahabatnya itu.


Sehingga Mutia merasa jika Dirga hanya memiliki pesona ketampanan yang maksimal, tapi tidak dengan seleranya. Kenapa ia harus seolah jatuh hati pada seorang itik bukan angsa seperti teman lainnya.


“Dirga selalu ga puas dengan jawaban tante Imut.”


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2