
Untuk diketahui saja. Sebenarnya bukan hal mudah bagi seorang Mutia yang sempat lebih dari laporan ke ketua RT tentang isian dalam hatinya pada mahkluk bernama Dirga. Kurang lebih empat purnama ia jalani hari bersama Dirga, walau lebih banyak secara virtual. Sebab hanya sesekali meet up. Tapi serunya sudah hampir ngalahin kebersamaanya dengan Pras yang udah tujuh belas tahun. Buseet. Parah banget kan.
Dan keluarga adalah salah satu alasan untuk Mutia bertahan. Dengan kedekatanhya pada Alifa dan Safira, tentu berdampak baik untuk rumah tangganya. Pikirannya di gurah, matanya di pasangkan kacamata kuda. Agar hanya tertuju pada Pras seorang. Dan hatinya, hampir setiap hari di sirami dengan kata bijak perihal mempertahankan rumah tangganya.
Menonaktifkan ponsel adalah solusi terjitu bagi Mutia. Agar tidak kesambet setan berparas tampan, alias Dirga, si Brondong trendy itu. So far so good, sih. Bahkan saat kini Mutia sudah kembali berjarak dengan saudaranya. Ia masih kuat untuk kembali menjadi istri setia untuk Pras. Tetapi, entah setelah Dirga mengetahui nomor barunya lagi.
“Wait … wait … wait. Sebelum kamu balik ke markasmu Ga. Kita Vicall Mutia dulu yuks.” Shane yang sudah punya nomor baru Mutia, tetiba mengajak seru-seruan, vicall bareng. Ketika mereka sudah berada di penginapan di desa tersbeut.
Tak mungkin Dirga menolak tawaran itu. Bukankah melihat wajah Mutia kembali adalah hal yang sangat ia rindukan, pemirsaaah.
“Mut … tara. Heeey, kami with siapa niih.” Dirga bagaikan hidangan utama yang ingin Shane jumpakan via udara pada Mutia, yang lumayan lama baru menerima panggilan video call tersebut. Mutia memang perlu mengatur nafas terlebih dahulu dalam hal menggeser icon bitu itu ke arah atas. Dan benar saja dugaannya. Jika dengan alat komunikasi itu, ia kembali dapat melihat wajah seseorang yang juga sangat amat ia rindukan.
“Hai Dirga.” Sapa Mutia datar. Tanpa ekspresi senang ia pasang saat hatinya huru hara di dalam sana.
“Hai tante Mutia, apa kabar.” Dirga tak kalah datar. Seolah tak antusias melihat wajah wanita yang membuatnya galau beberpa hari ini.
Mutia hanya tersenyum hambar, tanpa menjawab pertanyaan Dirga. “Gak usah tanya kabar aku. Aku yang hampir gilak memikirkanmu. Aku yang sibuk menjaga hati, tangan dan otakku untuk tidak terpengaruh untuk menghubungimu lebih dahulu.” Batin Mutia meledak-ledak di dalam sana. Tapi berusaha tenang dan terlihat tegar.
“Mut … Mut. Kamu udah tertular penyakit Pras suamimu yaah. Lempeng…” Shane menertawai ekspersi yang Mutia pasang ketika melihat wajah Dirga.
“Masa …? Biasa aja kali.” Jawab Mutia enteng.
“Shanee … tas mu belum masuk.” Teriak Vinsha yang sejak tadi sibuk menurunkan perlengkapan yang mereka bawa. Sedangkan Nunuk tidak mungkin mengurus hal tersebut.
__ADS_1
“Iya bawel ah. Ga … nih, kamu lanjutin dulu ngobrolnya. Ku mau beberes.” Shane menyerahkan ponsel yang masih tersambung dengan Mutia pada Dirga.
“Ya udah tutup aja, kalo kalian sibuk.” Mutia tanggap dan akan mengakhiri obrolan yang mungkin hanya antara dia dan Dirga saja.
Panggilan itu segera Dirga pindahkan ke mode panggilan suara. Sehingga suara Mutia tidak akan terdengar oleh orang banyak.
“Jangan di tutup kalo masih mau aku hidup.” Kata –kata itu sempat Mutia dengar. Dan itu membuat jarinya ikut menggeser jalur ke panggilan suara.
“Kamu ngancem tante, Ga?” tanya Mutia. Yang ternyata gagal menolak Dirga bicara dengannya.
“Aku gak pernah main-main dengan omomganku. Termasuk rasa yang sering aku ungkapkan ke tante. Aku salah apa? Sampe tante putusin bahkan tak berkabar. Bunuh Dirga aja sekalian, tente …” Dirga menjauh dari posisi sebelumnya. Berharap teman Mutia tidak mendengar kelanjutan obrolan mereka.
“Cukup Ga … Pliiis kita udahan. Tante bisa gila.” Jawab Mutia meminta.
“Putus itu bukan alasan untuk kamu mengakhiri hidup, Dirga…!!!” Mutia bisa dengan bebas berbicara. Sebab ia sedang sendiri di kamarnya.
“Kalo tante terus cuekin Dirga, mungkin dengan mati. Justru Dirga bisa dengan mudah deket sama tente. Walau beda alam, walau sentuhanku gak berasa buat tante. Setidaknya roh ku bisa bahagia.” Buseeet nih anak, emamg sudah sakit jiwa tanpa Mutia.
“Ga … sadar. Kita hanya buang waktu. Sampai kapanpun dan dengan alasan apapun, kita gak bakalan bisa bersatu.” Mutia memelas dan terus meyakinkan Dirga. Bahwa mereka tidak akan jadi pasangan ideal.
“I know tante. Kita emang gak bisa bersatu. Tapi setidaknya kita bisa bersama dalam waktu yang lama.” Bantahnya.
“Tidak Dirga. Tante gak bisa.” Tegas Mutia.
__ADS_1
“Bisa tante … bisa. Kita gak ngapa-ngapain selama ini. Hubungan kita gak parah-parah amat. Aku gak berpengaruh buruk buat rumah tangga tante. Kita bisa main rapi. Buktinya, temen-temen tante aja gak tau kalo kita berhubungan dan saling cinta.” Dirga bicara dengan mata yang bergerak kesana-kemari, memastikan jika teman Mutia tidak di dekatnya.
“Cinta kepalamu. Gak ada cinta cintaan di antara kita Ga …!!!” Mutia gregetan.
“Bilang sumpah ke aku. Kalo selama ini tante gak rindu aku.” Tantang Dirga.
Mutia terdiam.
“Bilang sumpah … kalo nomor hape tante beneran rusak.” Lanjutnya lagi.
Mutia masih terdiam.
“Bilang sumpah … kalo tante beneran gak sayang Dirga.” Desaknya lagi.
“Jika semua itu bisa tante jawab dengan jujur. Tante tenang saja, aku adalah orang yang duluan, siap jauh bahkan akan berpura-pura gak pernah kenal sama tante lagi.” Dirga tau, jika kini Mutia sudah kembali oleng, sebab semuanya benar.
“Tante … aku salah apa sama tante? Aku cuma mau numpang di hati tante, sebentar. Jadilah penyemangatku. Saat semua cewek gak bisa ngerti aku, kayak tante ngertiin aku. Tante itu my evrythink.” Dirga mulai melancarkan rayuannya.
“Maaf Ga. Tante gak bisa. Percayalah … kamu tampan, kepribadianmu juga baik. Tidak mungkin hanya tante yang bisa ngertiin kamu. Kamu hanya perlu buka hati untuk jatuh cinta pada orang yang tepat. Dan itu bukan tante.” Mutia akhirnya menjawab dengan nada suara yang lemah.
“Oke … Dirga akan cari itu, dan yakin akan mendapatkannya. Tapi, pliis jangan usir Dirga dulu sebelum ku siap tanpa tante. Ini gak adil buat aku. Aku yang sedang dalam kesusahan. Dengan Job kerjaan yang menunggudi kota. Dengan tugas tugas yang gak cuma satu di sini. Masa tante harus nambah jadi beban juga dalam pikiran Dirga. Kita sedang jauahn tante. Setidaknya jangan habiskan waktuku untuk merindukan tante saja. Waktu tidurku bahkan terusik, mikirin apakah tante sungguh baik-baik saja, setelah bilang kita udahan?” Panjang dan lebar Dirga mengungkapkan perasannya. Bagaikan musafir menemukan Oasis,. Dirga tak mau melewatkan kesempatan untuk bisa mengungkapkan perasaannya pada Mutia, wanita yang sepertinay sungguh membuatnya gila.
Bersambung …
__ADS_1