
Mutia dan Dirga baru saja selesai makan malam. Selanjutnya mereka tentu akan pulang. Menuju kost Dirga terlebih dahulu, sebab brondong itu memang terlihat masih lesu. Tidak fit, keluar rumah demi memastikan jika kekasih beda usianya itu tidak salah paham. Atas kehadiran wanita muda bernama Aline tadi di kamar kost Dirga. Mutia sepenting itu bagi serang Dirga.
“Tante langsung pulang …?” tanya Dirga saat Mutia sudah menghentikan mobilnya di depan kost Dirga.
“Trooos, kamu mau tante nginap gitu?” Ucap Mutia sambil tertawa. Merasa jika kalimat tadi bukan pertanyaan, melainkan ajakan, agar tante-tante annya itu mau ikut masuk ke dalam kamar kost. Mungkin Dirga merasa tidak puas, jika siang tadi Mutia hanya berada di depan dan di sambut oleh Aline.
Klik … Dirga membuka sabuk Mutia. Itu jelas perbuatan yang memaksa Mutia untuk turun dari besi kotak beroda empat.
“Dirga gak mau minum obat, kalo gak di liatin tante.”Huuum manjaah beuut seeeh. Umur berapa sih, kok setara anak TK ya, ini si Dirga. Bikin Mutia merasa sangat di perlukan saja sebagai tante bohongan.
“Ya Terseraah, yang ngerasain sakit kan kamu, bukan tante.” Jawab Mutia mendelik kearah Dirga, selah marah. Padahal hatinya sudah nyut-nyutan. Dipaksa sang brondong untuk ikut masuk.
“Tante gak sayang Dirga ?” Pertanyaan apa itu dong … brondong. Kalimat sederhana, tapi cukup nusuk hati Mutia yang jarang dengar kalimat receh ala anak sekolahan.
“Sayang …” Ucapnya pelan dan di buat agak panjang, juga lembut. Kemudian memutuskan keluar dari mobilnya. Untuk ikut masuk ke dalam kost yang gagal ia masuki tadi siang.
“Iiih … aslinya Dirga tuh gemes lhoo sama tante. Pegang bahu aja boleh gak sih?” Ujar Dirga yang berjalan di belakang tante kesayangannya. Maunya Dirga, dua tangannya memegang pundak sang tante, biar jalannya kaya rang main ular naga panjangnya. Tapi masih ada sisi sopan dalam hati brndong itu, meminta ijin untuk menyentuh kekasih beda usia dan istri orang tersebut.
“Jangan yang aneh-aneh. Cukup kita khilaf kemarin.” Mutia tersipu sendiri, mengingat jika dia yang duluan nyosor kayak soang. Tapi, Mutia tidak menyesal, justru mau lagi. Dan berpikir jika itu di lakukan lebih lama di tempat yang nyaman, tentu akan lebih mengasyikan. Fix Mutia sudah benar oleng. Beralasan sedang dalam masa puber kedua. Ia seolah semakin menyalurkan energinya untuk jatuh cinta pada anak kemarin sore itu.
__ADS_1
“Khilaf lagi yuuk, di kamar kost Dirga.” Oh Tuhan … ajakan mesum yang sangat prontal. Dengan suara yang kecil dan hampir berbisik sih, tapi itu di dekat daun telinga Mutia. Kalian tau apa reaksi bulu-bulu halus di tengkuk dan tangan Mutia? Berdiriiih. Heeeer, mana tahaaan.
“Tante gak jadi masuk nih …” Mutia menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Mencoba untuk sadar, seolah ia masih memiliki akal sehat dan tidak akan terjerumus dalam lumpur dosa yang makin meresahkan.
“Bercanda tante, gak usah terlalu serius.” Jawab Dirga tertawa. Pun Mutia ikut tertawa dengan sanggahan Dirga. Tertawa kosong, sebab rencana untuk bercumbu tipis-tipis terlewat oleh penolakannya sendiri. Hamvaaah.
Langkah keduanya semakin mengantarkan posisi ke dekat kamar nomor 3. Tetapi Mutia lebih dahulu terhenti. Karena manik matanya lagi-lagi melihat sosok wanita spek idaman kaum adam itu sedang duduk di teras. Depan kamar yang akan mereka masuki.
“Aline …?” Dirga terdengar heran, melihat perempuan itu masih berada di depan kamarnya. Terlihat sibuk memperhatikan ponsel di tangannya. Entah apa yang ia lihat pada benda pipih tersebut.
Stt … Aline itu sebenarnya cewek Dirga. Tadi siang mereka sudah bertengkar, karena kedatangan Mutia. Aline merasa janggal, saat kekasihnya sakit. Namun ada seorang wanita berumur yang datang membawa makanan dan obat untuk kekasihnya. Aline curiga Dirga bohong. Yang bilang padanya jika Mutia itu tantenya, saudara sepupu ayahnya. Dan semua perubahan sikap Dirga yang terlampau sibuk akhir-akhir ini menjadi ajang ribut keduanya. Akibat malas terlarut dalam pertengkaran, Dirga memilih pergi dari kostnya, menghindar saja dari Aline yang menurutnya tidak lagi percaya padanya. Mengunci pintu kamar, lalu pergi menemui Mutia, tante kesayangannya.
“Kenapa masih di situ?” tanya Dirga dengan nada suara yang agak nyaring. Seletika nyali Aline ciut. Dapat ia pastikan, jika kemarahan Dirga siang tadi masih melekat dan tersisa.
Alin menatap tajam tak mau kalah dengan tatapan tak suka dari Dirga. Ingin melawan. Ia berdiri menantang, agak mendekat tubuh kekasihnya dan si tante yang perasaannya kembali bimbang.
“Pulang …!!!” usirDirga dengan nada ketus, tegas dan tidak bersahabat. Hey … Mutia malah baru ini melihat sisi garang Dirga kekasihnya. Ia kira Dirga itu anak manis, yang selalu ceriwis dan murah senyum di sana sini. Tebar pesona. Sepertinya setelah ini Mutia harus lebih mengenal kepribadian Dirga deh.
Anehnya Aline tidak menyahut, juga tidak membantah. Dia ngelonyor pergi tanpa Dirga usir dua kali. Mana kekuatan tatapan matanya yang seolah ingin melahap Dirga dan Mutia tadi. Atau Aline terlalu bucin pada Dirga, sehingga dengan sekali bentakan saja, ia memilih mundur.
__ADS_1
“Kok kasar gitu sama cewek?” tanya Mutia, saat mereka baru saja masuk ke kamar kost Dirga. BUkan masuk. Mutia masih hanya berdiri di ambang pintu.
“Dia memang gitu. Kalo gak di usir bisa gak mau pulang.” Jawab Dirga santai tanpa beban. Seolah itu adalah hal yang biasa ia lakukan pada Aline.
“Tante takut ah, sama kamu Ga. Om Pras gak pernah lho. Kasar gitu sama tante.” Oh … di sela kebersamaannya dengan Dirga, ternyata nama Pras masih bersemayam dalam sanubari Mutia.Bandingkan saja terus Mut.
”Hanya sama dia aku gitu, tan.” Jawab Dirga pelan. Berharap tantenya ini tidak illfeel padanya.
“Ayo di minum obatnya.” Perintah Mutia masih berdiri di ambang pintu kost brondongnya.
“Iya …” Jawabnya patuh. Dan mengambil obat penurun demam, lalu menelannya bersama segelas air putih.
“Oke … tante pulang ya. “ Pamit Mutia setelah memastikan brondongnya itu sudah menelan obatnya.
“Sebentar …”
Hanya kata itu yang sempat terdengar. Sebab tengkuk Mutia sudah di tarik Dirga ke dalam, bagian mulut Mutia sudah ia serang dengan lidah yang memaksa masuk ke dalam rongga mulut Mutia. Walau badan Mutia masih di bagian luar kamar kost.
Bersambung …
__ADS_1