PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 74 : DIPAKSA


__ADS_3

Dirga berusaha untuk tidak terlihat panik saat berpamitan dengan Desti. Kemudian pamit dengan Nunuk dan lainnya yang tampak sudah duduk manis menungguinya turun dari lantai dua Butik tersebut. Yang tidak tampak tenang justru Vinsha dan Shane, tangan keduanya saling mencubit satu dan lainnya, saat tubuh Dirga semakin mendekat kearah mereka berada. Apalagi saat Dirga bersalaman dengan Mutia, Shane dan Vinsa saling mencengkram tangan, saking penasaran ingin melihat ekspresi pasangan yang hubungannya sudah kandas dan pernah begitu apik menjaga rahasia kedekatan mereka.


Tiba-tiba Pras sudah menyusul di belakang Dirga dan berkata : “Eh … Dirga. Biar Om antar. Tidak baik berkendara saat pikiran tidak tenang.”


Empat kepala yang tengah memandang Dirga pun kompak menoleh ke asal suara yang baru saja mereka dengar. Hah … gak salah dengar. Pras si pendiam itu tiba menawarkan jasa pada seorang Dirga. Ada apa dengan kondisi dunia saat ini.


“Hah … jangan Om. Terima kasih, jangan repot-repot.” Dirga memjawab cepat dengan dua telapak saling bertemu di depan dadanya. Menandakan ia sangat sungkan dan tidak butuh pertolongan Pras atau siapapun.


“Mama Ra-ra … ayok kita antar dia. Ibunya sedang sakit.” Ajak Pras pada Mutia istrinya. Mutia itu bengong seperti sapi. Dia tidak tau ada konspirasi apa antara Dirga dan suaminya beberapa menit yang lalu. Dan apa ia tak salah dengar. Jika baru saja Pras sedang menawarkan jasa untuk mengantar Dirga. Oh Tuhan. Bukankah akhir-akhir ini Mutia sedang sibuk menata hatinya untuk kembali setia, dan berusaha kuat untuk menghindari seseorang yang tidak lain adalah Dirga ini. Lalu kenapa ini bagai peluang untuk kembali dekat dengan si tengil ini.


“Mengantar kemana?” hanya kalimat itu yang sempat Mutia tanya, sebelum tangannya di tarik Pras untuk segera keluar mengejar Dirga.


“Dia sedang butuh bantuan kita banget.” Jawab Pras datar saat mereka berjalan menuju parkiran.


“Kenapa harus kita yang membantunya?” tanya Mutia. Jelas, Mutia tidak mau banyak terlibat untuk kembali dekat dengan Dirga.


“Kenapa harus berpikir dalam hal membantu orang. Aku tunggu di mobil. Biar motornya di tinggal di sini. Dia itu sangat butuh waktu yang cepat untuk segera tiba di sebuah rumah sakit yang jauh daru sini." Kali ini Pras bicara agak banyak.


“Mas kurang kerjaan?” Mutia masih berusaha untuk menolak. Sumpah demi apapun, hati Mutia belum sembuh total dari sosok seorang Dirga. Tolong jangan beri kesempatan untuknya bisa dekat dengan brondong itu.


“Ini bukan soal kerjaan. Ini kemanusiaan.” Jawab Pras dengan cueknya masuk dalam mobilnya dan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Mutia masuk dalam mobil tanpa mendatangi Dirga. Mau gila perasaan Mutia, ketika suaminya ngotot ingin menolong Dirga.


“Kenapa masih di sini? Sana. Sampaikan untuk Dirga itu, biar kita yang mengantarnya.” Tegas Pras lagi saat Mutia sudah duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.

__ADS_1


“Mama Rara, ibunya sedang kena serangan jantung. Dia harus segera ke rumah sakit. Dan jaraknya sangat jauh untuk di tempuh dengan kendaraan roda dua pulak. Dia itu sedang panik, tak baik jika ia berkendara sendiri." Ulang Pras menjelaskan pada Mutia.


“Kenapa harus Mas yang repot?” Mutia tetap tidak mau mengalah.


“Tidak repot, hanya orang kena musibah di depan kita. Kenapa tidak di bantu.” Bantah Pras berkeras dengan idenya.


“Ya gak harus Mas juga yang ngantar, supir kita mana?” Mutia sangat berusaha untuk menghindar, walau hatinya juga sesungguhnya ingin menolong Dirga. Ingin meluk malahan.


“Kalo supir kita bisa, sejak ke butik ini tadi juga. Sudah dia yang mengantar kita.” Jawab Pras ke mode datarnya.


“Udahlah, kalo bantu dia. Kasih uang aja, biar dia ngegrap atau apa gitu.” Mutia melipat tangannya di depan dada, sungguh keras hatinya tidak mau menolong Dirga.


“Yang ingin di selamtkan Dirga itu nyawa ibunya. Janganlah sampai nyawanya juga ikut bertaruh, saat akan mendatangi ibunya.” Lanjut Pras. Dan kalimat ini mampu meluluhkan pertahanan hati seorang Mutia, untuk turun dan merayu Dirga untuk menerima pertolongan Pras.


“Hah …?’ Dirga melepas helm yang sedikit menghambat pendengarannya.


“Masuk mobil, om Pras udah nunggu.” Lanjut Mutia dengan mode tak ramah.


“Maaf … gak usah repot-repot tante. Mana wajahnya gak ikhlas lagi.” Tolak Dirga tegas. Antara gengsi dan malu Dirga menolak tawaran itu.


“Pliiis Ga, ibu mu sedang butuh kamu banget. Dan sekarang, bukan waktu yang tepat untuk kamu berkendara sendirian.” Mutia meyakinkan Dirga.


“Kalo gitu, biarin Dirga bawa motor dengan tante yang meluk Dirga dari belakang.” Eh, buset nih Brondong malah ngerayu Mutia lagi.


“Jangan gila Ga. Om Pras lagi nungguin kamu di mobil. Kami yang antar.” Tegas Mutia.

__ADS_1


“Yang gila itu tante. Perjalanan ke sana kurang lebih 4 jam lho. Apa kabar hatiku selama itu, liat tante sama Om dalam mobil yang sama.” Keduanya terlihat saling bernegosiasi. Itu yang dapat di lihat Pras dari kaca spion, sebab mobil Pras di depan mereka.


“Eh … gak penting banget ya bahas ke gituan sekarang. Keadaan ibumu lebih penting.” Tegas Mutia. Mematikan mesin kendaraan Dirga dan mengantongi kuncinya, lalu dengan santai berjalan menuju mobil suaminya yang sejak tadi menunggu.


“Dia gak mau Mas.” Ujar Mutia duduk di kursi sebelumnya.


“Lalu …?” tanya Pras.


“Ini.” Jawab Mutia menunjukkan kunci kontak motor Dirga.


“Sebentar lagi dia paling ke sini untuk menyerah.” Bagus juga sih akting Mutia yang maksa Dirga untuk tidak bisa nolak tawaran kebaikan Pras. Juga perjuangan Dirga yang gak begitu saja menerima kebaikan tersebut. Jempol dua buat mereka berdua. Mereka memang masih harus serapi itu dalam hal berakting. Sebab, ada 3 pasang mata yang sejak tadi ke lagi nonton adengan horor yang endingnya sulit di tebak. Eh, empat ya, sama Pras yang mantau dari spion.


Dan akhirnya , mereka melongo bersama. Saat melihat Dirga sungguh masuk sendiri ke dalam mobil Pras yang juga ada Mutia di dalamnya.


“Ya ampuun … kita bisa ikut di dalam mobil itu gak sih. Kayaknya bakalan seru deh, mereka bertiga ngapain aja sih di dalam selama perjalanan. Obrolan mereka apa gitu?” Shane sungguh penasaran di buatnya.


“Eh … sebenarnya, Pras tau gak sih. Kalo Dirga itu kekasih istrinya. Gila aja gitu, dia nolongin selingkuhan Mutia, gila pake bingit ini.” Vinsha menimpali keheranan Shane.


“Tante Mutia, balikin kunci motor Dirga.” Wooow, dalam mobil itu, bukan terima kasih yang Dirga ucapkan. Melainkan masih berusaha untuk menolak petolongan ternyata.


“Sudahlah … kamu share alamat saja. Kita harus segera tiba untuk melihat kondisi ibumu.” Jawab Pras melajukan mobilnya keluar area butik. Tak lupa mengunci pintu dan jendela mobil dari depan agar Dirga tak bisa keluar lagi.


Mutia tidak berani memutar kepalanya untuk menoleh ke arah Dirga, melihat dari spion pun manik matanya gagal untuk sekedar memastikan posisi duduk brondong yang pernah meresahkan jiwanya tersebut.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2