
Nunuk adalah istri dewan direksi, pada perusahaan yang tengah di pimpin oleh Pras, suami Mutiara. Ketekunan adalah kunci bagi seorang Pras yang berkarier mulai dari staf biasa walau telah bergelar Magister waktu itu. Kesuksesan bukanlah sebuah warisan seperti yang di dapati beberpa kalangan orang kaya lainnya. Kedudukannya kini adalah buah dari kesabarannya melewati berbagai tahapan yang kadang menentang, menantang bahkan melintang baginya.
Tentang kepemilikan aset dan saham, Nunuk lah sang empunya sesungguhnya. Suaminya tergolong bucin, sehingga bertekuk lutut padanya. Entah karena benar cinta atau hanya karena ingin harta agar tetap terlihat bertahta. Tidak heran, jik ia memilih tutup mata dan telinga saja, saat ia tau istrinya itu bukanlah tipe wanita setia.
Nunuk memang royal. Tak pernah perhitungan dengan berapapun uangnya hilang, selama yang ia lakukan adalah hal yang mampu membuatnya bahagia. Baginya semua tak masalah. Nunuk memiliki pria idaman lain. Dan itu di ketahui oleh Yudho Istanto, suaminya. Namun, pria itu memilih membiarkan saja, dan memilih pura-pura tak tau, agar istrinya tetap terlihat merasa bahagia akan permainannya yang seolah tidak ketahuan olehnya.
Nunuk tidak hanya menyimpan satu pria, tapi ada beberpa dari berbagai kalangan. Tak jelas apa yang di carinya. Tipenya kah, profesinya kah. Hanya baginya jenis lelaki mana yang viral di kalangan ibu-ibu konglomerat. Jika ia bisa mendapatkannya, ia lah yang terhebat. Tak harus tampan, tak juga hartawan. Hanya, bersiang itu baginya adalah sebuah tantangan tersendiri. Lelaki idaman lain itu setara dengan benda unlimitied yang wajib ia perebutkan dan miliki.
Kini, semua cara pandangnya tentang laki-laki simpanannya berbeda. Saat manik matanya menangkap sosok seorang pemuda yang baru saja bersalaman dengannya dan menyebut nama Dirga dengan senyuman menawan. Baginya itu sangat mempesona dan mengapa hatinya berkata ingin mengenal pemudai ini lebih dalam. Lebih dekat, dan ingin mendapatkannya. Buseeet.
“Mbak liat dan pilih deh.” Mutiara menyodrkan lagi buku tadi pada Nunuk yang baru saja terlihat terbuyar dari pikiran yang berkesiuran dalam otak ‘aneh’nya.
__ADS_1
“Ga usah liat menu itu boleh ga?” tanyanya mengalihkan pandangannya pada Desti.
“Maaf, gimana …?” Desti merasa perlu meminta penjelasan dengan permintaan yang kadang hanya ingin heboh dan paling the best, tapi tidak sesuai budget. Biasa lah emak-emak.
“Gini … kalo saya menunjukkan yang ada di dalam album itu. Kreatifitas kalian akan mati. Dan kalian tidak akan mungkin bisa membuat sepersis itu lagi kan. Apakah bunganya mungkin tidak produksi lagi, atau sudah ada yang rusak. Intinya … saya mau semua bahan yang di gunakan untuk putri saya nanti adalah yang terbaru. Dari desian sampai ornamen apapun yang di gunakan. Saya ga mau anak saya dapat yang bekas pakai. Pokoknya harus spektrakuler.” Tegas Nunuk. Memandang berganti-ganti ke Desti dan Dirga.
“Siap. Boleh kami tau di mana lokasinya. Agar kami bisa membuat konsepnya?” Desti segera merespon ucapan itu dengan jawaban tak kalah serius juga.
“Maaf ibu … setidaknya ibu bisa sedikit mengintip paket-paket yang kami sediakan. Sebab di dalamnya juga sudah kami buat estimasi biayanya.” Desti tetap meminta kepastian. Ia memang akan memutar otaknya untuk sebuah maha karya. Tapi setidaknya calon kliennya juga tidak asal bicara akan seleranya.
“Huum … baiklah.” Nunuk melempar pandangannya pada Dirga. Tanpa bicara berisikan aba-aba. Entah mungkin si ketceh itu memang bisa membaca gestur seseorang. Sehingga dengan ramah dan sopan ia kembali mendekatkan tubuhnya dengan Nunuk untuk menyodorkan album itu pada Nunuk.
__ADS_1
Dirga tidak hanya menyerahkan, namun tak berpindah dari sisi nyonya Dewan Direksi itu, untuk sekedar membuka dan sedikit menjelaskan dengan detile akan paket-paket yang mereka tawarkan. Tidak ada penolakan apalagi protes dari Nunuk. Ia bahkan terlihat sangat menikmati, penjelasan Dirga yang luwes dan tidak terlihat sedang mempromsi. Kalimat pujian terhadap selera Nunuk terus saja ia lontarkan, membuat si nyonyah itu, kadang merona di buatnya.
“Waw … luar biasa. Selera ibuk benar-benar spektakuler. Sepertinya kami memang harus ekstra dalam memilih bahan untuk orderan ini.” Simpul Dirga, setelah ia paham dengan apa yang baru saja di pilih Nunuk. Padahal, tadinya ia sempat bilang semuanya akan di pilih oleh Nia dan pasangannya saja. Ternyata, heeem. Jangan tanya. Nunuk pastilah seorang ibu yang suka memaksakan kehendak sendiri pada anakanaknya.
“Ah … kamu memuji tante berlebihan. Tolong nomor rekeningnya, biar tante bisa kirim DP atau mau di lunasi sekarang.” Buseet, Dirga baru menyadari. Jika tangkapan mereka kali ini adalah ikan kakap. Bukan kaleng-kaleng. Yang benar saja, projek ratusan juta itu ingin ia lunasi bahkan di hari pertama bertemu.
“Maaf buk, sudah jadi aturan kami. Jika untuk tanda jadi, kami hanya meminta 30 persennya saja terlebih dahulu. Dan jika ada terjadi hal yang mungkin terjadi pembatalan. Maka uang DP tersebut tidak kembali.” Desti lebih tegas menjelaskan. Namun dengan wajah yang tak semanis Dirga. Entah kenapa, ada sisi hatinya yang tak suka melihat cara Dirga meyakinkan klien mereka ini. Apakah karena Dirga lebih berhasil merayu Nunuk. Atau ada sesuatu yang lain terhadap perasaannya pada Dirga, dan ia tak suka saat melihat Dirga yang mudah berkomunikasi dengan lawan jenis bahkan saat baru pertama bertemu.
[Tante Imut, kenapa cemilannya ga di jamah dari tadi. Dirga liat kok, tante cuma ngaduk jus nya] Heeeii. Kenapa saat Dirga baru duduk di kursinya, dan berhasil meyakinkan Nunuk. Tangannya justru sangat cepat mengetik chat yang ia tujukan pada Mutiara.
Mutiara sejak tadi memang kadang memperhatikan Dirga yang menjelaskan pada Nunuk. Kadang sesekali ngobrol dengan Shane. Juga sesekali berkirim chat dengan Cia sahabatnya sejak SMA yang sekarang tinggal beda kota dengannya. Dan kini ia sedikit terkejut, saat bola matanya menangkap, jika gawainya menerima sebuah chat pada kolm hijau itu. Dan itu dari seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas presentasenya pada Nunuk. Dan posisi mereka sedang dalam lingkaran tempat yang sama. Ngapain chat-chatan. Tapi isi chat itu, reflek membuat kepala Mutia terangkat, mencari di mana si ketceh itu duduk. Lalu tak sengaja kepala Mutia juga menoleh kiri dan kanan. Seolah memastikan jika Shane atau Visha di sebelahnya tidak ikut membaca atau terbaca pesan yang masuk tadi. Gelisah.
__ADS_1
Bersambung …