
Agak jomplang antara harapan dan kenyataan seorang Dirga. Dalam kemelut yang terjadi dalam benaknya. Memikirkan seorang wanita tua bernama Mutiara Andini. Yang pernah ia temukan, dan ia rasakan mampu mendapat tempat indah dalam hatinya. Walau statusnya sudah sangat jelas. Tak bisa diraih bahkan dimiliki untuk waktu yang permanen. Tetapi, rasa yang di sebut cinta itu. Konon, katanya tak bisa diatur di mana akan tumbuh dan kapan bisa semakin lebat.
Dirga mengira dengan ia dekat dengan Nunuk, maka informasi tentang wanita yang ia kira memberi ruang di hati untuknya itu, akan ia dapatkan dengan mudah. Tapi, ternyata. Dirga sungguh kecewa. Saat hanya ada Shane dan Visha yang ikut serta dengan Nunuk ke desa tempatnya melaksanakan KKN.
“Pacar beneran juga gak papa kok, Ga. Gak usah malu gitu.” Shane ahlinya dalam hal demikian. Bagi mereka pemangsa para brondong. Lelaki target mereka punya pacar itu sudah biasa. Bukankah, suami orang juga sering mereka ajak main. Jadi, Inge tak lain hanya kerikil di mata mereka.
“Ini bukan soal malu. Tapi dia ini memang hobbynya halu. Sana … sana. Ganggu aja.” Usir Dirga pada Inge yang kepo dengan kedatangan tiga wanita tua yang terniat banget menemui Dirga di desa.
“Gue gak halu yak. Sejak awal ketemu udah jelas, gue suka sama elu. Salaah?” Inge suka debat juga jujur dengan perasaannya.
“Serah lue suka sama gue. Yang pasti gue gak suka sama elu. Titik.” Bantah Dirga jelas tidak suka.
“Ga … di sini ada penginapan gak? Kayaknya tante mau nginap barang semalem deh di sini.” Nunuk malas mengikuti debat unfaedah Dirga dan Inge.
“Ada tan, yah 20 menit lah dari sini. Kemarin keluarga Kiai juga nginap di sana pas nikahin anaknya.” Jawab Dirga cepat. Dan berharap Nunuk dan kawan-kawan bisa segera jauh dari Inge.
“Bisa antar?” tanya Nunuk penuh harap.
“Bisa … sekarang aja.” Ujar Dirga bersemangat.
__ADS_1
“Gak ijin dulu ke siapa gitu?” tanya Shane mengingatkan.
“Gak perlu. Ntar aku ijin via WA saja dengan ketua kelompok. Lagian tugas udah free.” Tanpa pamit Dirga memang ngeloyor saja ninggalin Inge tanpa pamit. Dan buru-buru masuk ke mobil yang mengatar 3 mantan dara itu. Bahkan Dirga dengan percaya diri langusng duduk sebagai supir. Tentu saja, karena ia hapal jalan, juga sungguh tak mau lama-lama dekat dengan Inge si cewek agresif itu.
“Tante – tante kenapa cuma bertiga …?” Di perjalanan Dirga segera melayangkan pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tau jawabannya. Siapa lagi kalo bukan Mutia, wanita yang amat ia rindukan tersebut.
“Iya … Mutia gak bisa ikut. Katanya baru pulang liburan dari rumah bundanya. Gak enak lama ninggalin salon.” Jawab Shane yang duduk di sebelah Dirga sebagai pengemudi.
“Kalo itu … aku juga udah tau kali.” Batin Dirga menjawab sendiri.
“Gak enak ninggalin salon apa gak biasa jauh dari suami sih. Tuh emak-emak ngabdi banget sama rumah tangganya.” Celetuh Visha mulai bergosok-gosok makin sip. Alias bergosip.
“Ya … salut aja sih sama itu manusia. Suami se lempeng itu … masih aja di syukurin. Apa gak bosan yak? Punya suami super diam, gak ada gregertnya.” Visha melanjutkan analisanya.
Dan dalam mobil ini, Dirga bertindak seolah sebagai supir yang tak bertelinga. Padahal dalam hatinya sedang menertawakan obrolan para tante rempong itu.
“Siapa bilang dia setia sama Om Pras. Kalian aja gak tau, tuh bibir udah dua kali gua cip ok.” Dirga tersenyum simpul, menyembunyikan hubungan manisnya dengan Mutia. Yes, mereka berdua terbukti main rapi. Sampai para senoir dalam urusan perslengkian saja tidak dapat mencium gelagat mereka ini.
“Yang bilang suaminya lempengkan dia. Tapi aslinya kita gak tau. Dia bohong soal suaminya juga, mana kita tau kan.” Shane sampai memutar posisi duduknya ke arah belakang. Supaya lebih afdol ngegosip dengan lawan bicaranya.
__ADS_1
“Kemarin aku ada nyamperin dia ke salon. Ku tanya, kenapa dia gak lagi ke sanggar. Dan jawabannya adalah… ‘Mas Pras udah beli semua alat Gym di rumah, supaya aku gak sering keluar rumah, jadi anak-anak kami gak terlantar.’ Kalian tau artinya, gaes. Pras itu hanya pendiam. Tapi untuk perhatian nomor satu untuk anak dan istri. Gak di minta aja, udah di kasih.” Jelas Shane. Juga lagi-lagi hanya di sambut senyum sinis oleh Dirga, ini juga dia sudah tau kali. Dirga sudah tau, sebab Mutia udah cerita denganya soal alat Gym yang di belikan Pras, dan tak lain bermaksud untuk mengurangi frekuensinya keluyuran di luar rumah.
“Heeey … perhatian sama posesif itu bedanya tipis lho. Bisa jadi kan itu adalah cara untuk ngekang Mutia biar gak ada kesempatan untuk main di luar.” Tebak Visha lagi, merespon paparan Shane.
“Iya siih. Tapi, kemarin lagi. Pas aku ke Salon. Ku kan bingung, ponsel Mutia udah lama gak aktif.” Lanjut Shane. Yess …!!! Ini berita yang Dirga tunggu sejak tadi.
“Iya … bener. Aku ada chat masih centang satu abu-abu. Itu kenapa?” tanya Nunuk ikut bicara.
“Sama kali tante. Chat ku bahkan ratusan, panggilan ku juga puluhan. Gak di respon. Itu ponsel mati total, gilak gue mikirinya.” Monolog Dirga dalam hati. Dia sangat menyimak obrolan para wanita menuju lansia itu dengan seksama.
“Katanya sih … nomor lamanya rusak. Trus sekarang udah di beliin ipon terbaru oleh si Pras. Tanpa di minta bahkan Mutia gak berupaya untuk memperbaiki ponsel atau nomor lamanya. Tu orang kelainan jiwa apa yak? Kok kuat sih hidup tanpa ponsel. Kalo aku udah pinjem mati deh rasanya, tanpa benda ini.” Shnae mengangkat ponselnya menunjukkan pada dua bestienya.
“Aiiishh … bener tuh. Jangan-jangan tante imut tersayang kelaianan jiwa. Masa dia tabah tanpa benda itu. Aku aja pinjem gilak, menunggu kabar darinya.” Lagi … batin Dirga meronta mendengarkan kabar dari Shane tentang wanitanya.
“Sama …aku hamvah tanpa hape.” Jawan Vinsha membenarkan.
“Ya .. itulah bedanya kita sama Mutia. Baginya keluarga nomor satu. Saat orang-orang terkasihnay di sisinya. Maka orang-orang di ponselnya semua ia abaikan. Semuanya jadi gak penting. Beda 180 derajat kan sama kita. Yang ponsel lowbat aja udah buru-buru cari colokan. Apa kabar ayang-ayang kita di dunia halu ya kaaan, kalo satu jam saja kita offline” Kekeh Nunuk menyimpulkan tabiat Mutia.
“Iya … kayaknya aku satu server dengan kalian deh tan. Ini udah mau gilak … tanpa kabar dari si ayang aku ituuh.” Kali ini hati Dirga meringis. Tersentil rasanya, jia benar ia masuk dalam golongan tidak penting dalam hati seorang Mutia.
__ADS_1
Bersambung …