
Suasana di sanggar senam milik Shane selalu ramai. Selain usaha yang bergerak di bidang olah raga, olah otot juga olah gibah itu sudah lama beroperasi. Tempat itu sudah memiliki member yang sudah terlihat nyaman dan candu untuk selalu aktif datang ke tempat itu. Mungkin karena alat yang cukup lengkap, tutor yang melayani di sana juga terkenal ramah juga tampan, pilihan Shane tentunya. Juga Shane selalu mengadakan give a way yang menggiurkan.
“Ciiee … yang boddynya udah OTW goal. Jadi malas-malasan ngeGym. Sebaiknya walau ga ke sini, di rumah tetap sempatkan berolah raga Mut. Nanti ototnya kendor juga bisa melar kembali.” Saran Shane. Saat melihat Mutia yang baru muncul dan akan memulai latihannya.
“He’em.” Dehem Mutia yang sesungguhnya masih agak Bad Mood. Penasaran dengan cewek spek idaman di kost Dirga tadi. Tapi, kerisauannya hanya ia simpan sendiri. Tak mau ia bagikan pada siapapun, tidak juga pada Cia.
“Mut … Dirga itu sudah punya pacar ya ?” tiba-tiba saja pertanyaan itu di lontarkan oleh Nunuk yang baru selesai dengan latihan olah ototnya.
“Hah …?” Mutia tak tau harus jawab apa, Karena tidak mungkin dia mengaku jika dialah kekasih Dirga. Hah … kekasih Dirga. Tapi siapa cewek dalam kostnya tadi, itu masih meninggalkan tanda tanya besar dalam benaknya.
“Kamu kenapa sih Mut, dari tadi hem … hah. Saja. Kek ga fokus gitu, ada masalah?” Shane memperhatikan keanehan temannya ini.
“Oh … ga ada masalah kok. Jawab Hah tadi … karena aku ga tau jawabannya.” Mutia memperpanjang sedikit narasi jawabannya.
“Baru Dirga Lho, brondong yang licin. Yang ga silau sama semua tawaranku. Jadi makin gemesh, akunya mau sama dia.” Celoteh Nunuk santai. Namun menghasilkan tatapan bingung Cia. Iya, Cia baru gabung dengan teman sosialitanya Mutia. Dalam otaknya berpikir. Pantas saja Mutia sekarang jalannya ga bener, lah. Gaulnya sama tante girang. Parah.
“Masa siih mbak ?” tanya Vinsha ikut tidak percaya.
“Ya … iya. Aku tuh udah ga kurang lho coba deketin dia. Tapi ga dapet-dapet.” Suara Nunuk terdengar kesal.
“Ya udah di lelang aja.” Kekeh Shane.
__ADS_1
“Lelang gimana …? Kalian mana ada uang buat taruhan.” Bahak Nunuk meremehkan keuangan teman-temannya.
“Ya ga usah pake duit kali. Kalo serius ga bisa dapat, ya kita buat mainan aja sekalian. Kita buat dia bingung sama perhatian kita semua.” Ide Shane muncul, karena dia juga sesungguhnya menginginkan Dirga sejak awal jumpa.
“Waw … seru kaliya. Jarang-jarang kan kita rebutan gebetan. Boleh juga tuh. Salah dia, jadi brondong kok licin banget. Kita kerjaian saja sekalian.” Kekeh Nunuk.
Entah bagaimanakah mereka menilai seorang cowok. Mungkin semacam species hewan yang mudah di main-mainkan. Semacam kucing mungkin. Bukan macan. Sehingga kini mereka malah membuka kompetisi terbuka untuk mendapatkan Dirga si Brondong Trendy itu.
“Kamu ikutan donk Mut. Kali Dirga malah sukanya sama kamu.” Vinsha menyenggl Mutia yang juga masih terperangkap dalam pikiran bingungnya. Ya gimana …? Pacar sendiri bakalan di jadikan bahan giliran atau taruhan atau apapun itu istilah mereka. Hati Mutia ga rela dong, brondong kesayangan jadi mainan tante girang. Tapi mau bela Dirga gimana? Kan hubungan mereka rahasia.
Cia sejak tadi hanya menikmati jus melonnya. Sembari melirik rupa Mutia. Cia tau, Mutia sedang tidak baik-baik saja. Atas usulan ide gila yang baru saja mereka saling sepakati.
“Sorry … sorry. Aku ga ikutan.” Jawab Mutia sebelum di paksa terus menerus.
“Kamu ga lelah bergaul dengan orang-orang seperti mereka, yang bahkan tak pantas di sebut teman itu?” Cia sudah gatal ingin komentar tentang pertemanan Mutia dengan ibu-ibu sosialitanya itu. Saat mereka sudah dalam kendaraan roda empat menuju Salonm
“Mereka tidak sejahat yang kamu kira kok Ci.” Bela Mutia demi para hebring itu.
“Ga jahat sama kamu. Tapi mereka sudah jahat sama keluarga mereka. Pengkhianat, mereka bahkan dengan penuh kesadaran melakukan zinah. Yang aku tangkap dari obrolan mereka begitu sih.” Cia tidakbhanya mencerna penggalan dialog tadi. Tapi sebelum Mutia datang. Ketiga wanita jahanam itu sudah berhaha hihi menceritakan pengalaman 'nganu'nya dengan lelaki mana yang mereka pernah jadikan persinggahan. Dan mereka bangga akan pencapaian tersebut. Luar biasa eh apa liar biasa?
“Itu urusan mereka Ci. Selama ga ajak kamu dan maksa kamu. Tidak masalah kan.”
__ADS_1
“Ga ajak apa … tadi jelas mereka mengajakmu berkompetisi ta! Itu, apa coba?” Berang Cia.
“Eh …bentar. Dirga. Bukannya itu nama brondngmu? Gila … apa kekasih gelap mu itu akan jadi target lelaki bergilir mereka?” telisik Cia peka.
“Iya … sejak awal Mbak Nunuk suka sama Dirga.” Jawab Mutia pelan.
“Heeem… tapi brondong itu maunya sama kamu. Dan karena temanmu itu suka sama dia, jadi kalian backstreet?” Simpul Cia sendiri.
Mutia hanya mengangkat bahu. Tak merasa pantas menceritakan perasaannya pada Dirga yang memang sedang ada dalam hatinya. Tapi sedang tidak dalam posisi manis dan benar, akibat kejadian siang tadi.
“Hah … kamu masih sebagai istri yang setia di mata temanmu itu. Belum tau aja mereka, kalo kamu sudah sebr3ngsek mereka.” Sindir Cia.
“Dimana-mana pertemanan itu saling mengingatkan agar tabah menjalani pahitnya hidup. Kalian memang pertemanan yang unik.” Cia mendusel rambutnya sendiri. Mencoba menelaah, apakah prisip hidupnya yang salah atau memang otak temannya ini sudah geser. Tidak pada poros yang benar.
“Mbak Nunuk itu baik. Jika bukan karena dia. Mas Pras tidak akan menjadi CEO di perusahan tempatnya bekerja sekarang.” Mutia buka suara, menjelaskan sesuatu yang sama sekali tak ingin di dengar oleh Cia sebenarnya.
“Heem … jadi kamu bertahan dengan pertemanan itu karena mengharapkan pamrih. Meminta jabatan untuk suamimu. Sehingga kini berhutang budi? Makanya, mending utang sama Wati, kalo sama Budi. Dibawa sampai mati. Cia itu cerdas juga teliti. Sehingga yang ia simpulkan itu tidaklah salah.
“Bukan hutang budi juga. Hanya, kamu tau kan. Mas Pras itu pintar dalam bekerja, tapi tidak pandai dalam hal mempromosikan dirinya. Dia terlalu diam, dan tidak bisa menonjolkan kemampuannya. Sehingga sebagai istri, aku perlu membantunya. Mendukung kariernya, dengan melakukan promosi lewat istri dewan direksi. Wajar saja kan?” Baru terungka mengapa Mutia bertahan dengan pergaulan bersama Nunuk. Rupanya ia sangat memahami kekurangan suaminya. Sehingga secara diam-diam ia sangat mendukung karier sang suami. Bukan hal yang salah, itu semua karena Mutia kelewat cinta pada Pras. Hingga melakukan tindakan sendiri untuk mendukung ayah dari anak-anaknya.
“Dirga …?”
__ADS_1
Bersambung …