
Dalam 30 menit Mutia sudah tiba di depan kost Dirga. Merapikan tatanan rambut yang mungkin terberai oleh angin dan udara yang bersilir-silir. Bagi Mutia wajib untuk menyisir dan mematutkan wajahnya dicermin kecil. Menepuk bagian pipi dengan spon agar pori-pori kulit wajahnya tertutup dan memberi kesan lebih glowing. Ketemu pacar cuy, masa gak maksimal kaaan.
“Tante makin sering ke sini ya …? Ngapain lagi?” Suara wanita menyambut kedatangan Mutia di depan gerbang. Saat Mutia memastikan paperbag berisi obat-obatan tadi sudah lengkap ia bawa.
“Hah …?” Mutia hanya mampu bersuara seperti itu untuk merespon pertanyaan Aline.
Iya itu Aline. Wanita yang semalam sudah Mutia minta untuk di enyahkan jika ia datang ke kost Dirga. Dan dari arahnya. Mungkin benar saja, ia sudah di usir Dirga. Sebab permaisuri Dirga yang sesungguhnya sudah tiba. Permaisuri Dirga, hanya kamu Mutia yang gak tau jika Aline itulah kekasih sungguhan Dirga.
“Dirga gak lagi sakit. Kok, tante ke sini lagi?” Ucapnya dengan nada ketus, jelas ada nada marah terbalut dalam kalimat tersebut.
“Ke Dirga itu gak hanya karena dia sedang sakit. Tapi lebih kepada mencegah agar dia tidak sakit.” Mutia menunjukan beberapa vitamin dan obat yang ada dalam paperbag di tangannya.
“Owh … tante dokter pribadinya ya? Kudu bolak-balik mastikan kesehatannya aja.” Tangan Aline di lipat di depan dada, dan ia berbicara dengan mata sinis juga senyum yang tinggi sebelah, Aline sungguh terlihat tak suka dengan Mutia.
“Bukan dokter pribadinya saja, tapi dokter cintanya.” Teriak hati Mutia. Iya … itu hanya suara hatinya. Gak level donk Mutia bicara banyak pada cewek muda nan cantik maksimal ini. Yang Dirga bilang hanya anak ibu kost Dirga.
“Tante Mutia …?” Dirga muncul di belakang Aline. Agak terkejut saat netranya melihat Mutia sedang berhadap-hadapan dengan Aline kekasihnya.
“Iya Ga. Ini tante mau antar stok vitamin dan obat untukmu. Buat jaga-jaga aja, mungkin susah mendapatkannya saat di desa nanti.” Mutia dengan gaya formalnya berbicara pada Dirga di depan Aline.
“Gak usah di ambil, dalam kotak yang ku kasih tadi juga udah ada vitamin dan obat kok, Bee.” Aline berbicara kebarah Dirga.
Bentar, nama Dirga itu adalah Dirga Rahardian. Kenapa runggu Mutia tadi menangkap Aline menyebut Bee. Itu bukan bagian dari aksara nama Dirga kan. Apa Mutia harus ke Klinik THT ya, dalam waktu dekat. Mungkin saja ia salah dengar. Jika Di … mungkin dari Rahardian. Atau Dirga. Ini Bee… ah yang benar saja.
__ADS_1
“Iya makasih. Masuk dulu tan.” Dirga menarik tangan Mutia, agar ikut bersamanya. Menuju kamar nomor 03 tersebut.
“Eh … ga usah Ga. Tante buru-buru. Pesawat tante pukul dua udah fly. Pakaian tante dan Om belum semua masuk koper. Kamu hati-hati di sana ya. Take care.” Mutia melepas tangan yang sempat nemplok di pergelangan tangannya. Lalu beringsut mundur, menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari depan gerbang itu.
Dirga tampak memandang Aline sebantar. Agak salah tingkah bertindak di depan Aline. Ia tau, kekasihnya mulai curiga dengan wanita berusia kepala empat itu, mengapa sudah berkali-kali ia temui selalu ke kost Dirga.
“Gua cabut dulu. I wil miss yu. Cup” Dengan cueknya Aline mencium pipi kanan Dirga. Dan itu sangat cepat sekali terjadinya. Mutia memang tidak melihat, karena sudah berbalik. Namun ia masih bisa mendengar kalimat i will miss yu itu tadi, di lanjutkan suara seperti sebuah kecupan.
Apa sebenarnya hubungan Dirga dengan anak ibu kost ini. Itu yang bergelayut dalam hati Mutia, yang terlihat melangkah tegas menuju mobilnya. Dengan kekacauan parah dalam hatinya. Susunan rundownnya sudah tidak sesuai sejak pagi. Yang berharap akan memiliki waktu lama dan panjang bersama kekasih gelapnya itu dalam kamar kost. Karena dia akan ke Bali secara mendadak, bersama suami. Lalu bagai pembalap ia sempatkan menyerahkan diri ke kost Dirga, lagi. Ia harus bertemu Aline yang nyata menghalangi kebersamaannya. Kesel gak tuh.
Dirga setengah berlari, ikut masuk mobil tepat saat Mutia membuka kunci kontak mobilnya. Yang otomatis terbuka pada semua sisi, saat ia akan masuk dan duduk di balik kemudi.
“Nama kamu Dirga Rahardian. Kenapa dia panggil kamu Bee …?” Mutia tidak bisa menunda pertanyaan yang bertanduk dalam kepalanya.
“Kenapa dia bilang I wil miss yu?” tanya Mutia yang sudah masuk dalam mode cemburu.
“Cium di sini yank … biar bekas bibir Aline tadi ke hapus.” Dirga malah menyodorkan pipi kanan bekas ciuman Aline tadi ke dekat Mutia.
“Penting yaaa …” Kesal Mutia yang memilih tidak mengikuti permintaan Dirga untuk mencium pipinya.
“Ya udah kalo ga mau. Aku aja.” Dirga yang sudah mencium-cium pipi kiri dan kanan Mutia dengan gemash.
“Dirga … ini dalam mobil.” Hardik Mutia yang sebenarnya menyimpan rasa senang luar biasa karena sikap receh si tengil itu.
__ADS_1
“Ngamar yuuuk, bentar.” Ajak Dirga yang makin membuat jantung Mutia berdebar-debar. Ini penyakit yang melanda seseorang yang OTW manula. Atau hanya terjadi pada orang yang jatuh cinta saja.
“Jangan nakal. Tante sedang serius, tak suka sama Aline itu.” Mutia memilih jujur jika ia sedang cemburu pada Aline.
“Ayank cemburu …?” tanya Dirga memastikan. Menatap intens kekasih beda usianya tersebut.
“Emang boleh …?” Heeey mengapa itu terdengar kekanak-kanakan.
“Boleh donk … kan cemburu tandanya cinta. Makasih ayank akuuuh.” Dirga langsung menuju bibir berlipstik merah menyala tadi untuk di sesap agak lama. Mutia terbuai, sempat terlena juga. Tapi ketukan dari luar jendela membuat keduanya sadar jika mereka belum berada di nirwana fana. Mereka masih dalam mobil yang terparkir di badan jalan. Untungnya, kaca mobil Mutia cukup tebal, sehingga dapat di jamin jika perbuatan memabukan mereka berdua tadi tidak terlihat oleh orang di luar.
“Siapa sih … ganggu aja.” Dirga nampak kesal dan menoleh pada orang yang mengetuk di bagian kirinya.
“Fansmu … Ngil.” Jawab Mutia pelan. Sambil memegang bibirnya. Sebenarnya tak rela ciuman tadi berakhir.
“Yank … lipstikmu no transfer kan?” tanya Dirga memastikan jika bibirnya tak ikut merah akibat terjangkit dari bibir sang tante.
“Aman dedeg Tengil, udah wudhu friendly. Waterproof, halal juga.” Kekeh Mutia meyakinkan kekasihnya.
“Waduuuh … lipstiknya aja udah halal. Kita kapan halal yank?” Anjiiir, dasar tengil ya tuh brondong. Gak di VC, gak di call. Urusannya tentang kawin dan menikah mulu deh. Itu Aline yang ngetuk kapan di bukain jendelanya.
“Ada apa lagi …?” tanya Dirga mengeluarkan sedikit kepalanya.
Bibir Dirga ketemu dengan bibir Aline di antara kaca jendela mobil Mutia. Tolong, kasih masukan untuk Mutia, itu gimana kalo kaca sebelah kiri di pencet aja dari tombol central, biar naik sendiri. Biar misahin bibir yang tetiba ketemuan tanpa prolog.
__ADS_1
Bersambung …