PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 36 : CEWEK GILAK


__ADS_3

Hubungan Dirga dan Mutia memang masih ranum, tentu saja masih sangat segar-segarnya. Bukan hanya karena lawan Mutia masih Brondongan. Tapi usia perkenalan mereka memang baru akan menghabiskan dua purnama. Tentu belum banyak benang yang kusut di antara keduanya, berbeda dengan hubungan pernikahannya bersama Pras yang sudah lebih dari masa akil baliq. Tentu saja semua keburukan sikap pasangan sudah sangat jelas terlihat dan keluar. Tak ada yang bisa di tutupi saat dua insan berbeda, harus tinggal bersama dalam waktu lama.


Senyum sendiri, tiba-tiba gelisah, kesal jika notif melandai. Itu kini yang terjadi pada hati seorang Mutia yang sudah tertancap panah asmara. Dan itu tidak hanya melanda hatinya. Tapi Dirga juga. Anak itu sungguh telah menempatkan Mutia di tempat paling istimewa dalam hatinya. Ia hanya akan patuh pada permintaan kekasih beda usianya tersebut.


Apa kelebihan Mutia di mata Dirga, lalu bagaimana kabar hubungannya dengan Aline. Apa iya anak ibu pemilik kost yang secara fisik adalah spek idaman para lelaki itu harus kalah tanding dengan emak beranak dua. Trus … sekarang untuk sekedar berkenalan dengan gadis belia saja, Dirga merasa perlu meminta ijin dari sang ‘pacar’. Waw … terbuka sekali hubungan ini, bener-bener gak mau ada dusta di antara kita kah?


“Chat siapa sih … gue tuh di depan loe ya. Mestinya elo lebih respack donk sama gue.” Celetuk Inge yang sejak tadi duduk berhadapan dengan Dirga, tapi tidak di anggap sedang dekat dengannya.


”Pacar.” Jawab Dirga mengangkat kepalanya lalu mencari sosok Mutia yang duduk tidak dekat dengan bangku yang ia duduki bersama Inge sekarang.


“Oh … udah punya pacar.”


“Iya …”


“Pacar doang kan, bukan istri.” Lanjut Inge yang sepertinya tipe cewek nekad.


“Istri juga …” jawab Dirga ambigu.


“Maksudnya …?” telisik Inge penasaran.


“Istri orang … wkwkwkwk.” Dalam tawa itu menyimpan sebuah kebenaran yang samar. Hanya Inge menganggap itu hanya lelucon yang Dirga ungkapkan.

__ADS_1


“Owwh … jadi jargon sekarang bener niih. Yang gadis kalah sama emak-emak. Karena istri orang lebih menantang?” kekeh Inge yang sepertinya juga memiliki selera humor yang baik.


“Yess … thats right.” Dua jari Dirga merapat dan menunjuk pada wajah Inge, tanda setuju dengan yang baru saja di sampiakan Inge.


“Kalo istri orang aja berani loe embat. Gue yang juga udah punya pacar ini, juga pasti cukup menantangkan buat eloo jadiin selingan.” Tawar Inge prontal.


“Sorry … pacar gue udah dua. Dan belum ada niat buat nambah koleksi.” Dirga mengikuti gaya bicara Inge yang kekinian.


“Kalo cuma untuk nambah koleksi tuh, ga usah pake niat apalagi hati. Kita sekedar have fun aja. Yuks, ngamar. Liat loe tadi bikin l1bido gua naik tau gak?” ini manusia terbuat dari apa sih. Semudah itu nawarin dirinya sama Dirga yang baru beberpa menit dia kenal.


“Loe mau ngajak gue one nigth stand …? Basi banget sih.” Tolak Dirga dengan nada bercanda. Dirga masih mengira jika Inge hanya bercanda dengan ajakannya.


“Loe bisa rasaain kedutan ini gak?” Astagaaaah, tangan Dirga di tarik Inge di bawah meja dan di antarkannya dengan selamat sentosa pada daerah primitif yang tabu untuk di sentuh di sembarang tempat. Kulit wajah Dirga seketika memerah bak kepiting rebus. Tempat itu tidak pernah ia sentuh apalagi rasakan. Lalu kenapa cewek gilak ini, justru memaksanya untuk nemplok di sana.


“Inge …” Ada suara pria menyebut nama Inge. Dan itu membuat pemilik nama itu menolah juga melepas tangannya yang sedang mencengkram tangan Dirga di bawah meja. Dan suara panggilan itu merupakan suara dewa penyelamat untuk seorang Dirga.


“Uncle Hasan.” Inge berdiri dan menghambur dalam pelukan suami tantenya.


“Apa kabar sayangnya Om?” lanjut Hasan si punya acara.


“Selalu baik.” Jawab Inge dengan manja sambil melepas pelukannya dari sang paman.

__ADS_1


“Sama siapa?” Hasan mengalihkan bola matanya pada Dirga yang spontan tadi ikut berdiri. Saat Inge berdiri.


“Kenalin pacar baru Inge. Tamvan kan Om …?” Inge fix yaaa… pasien rumah sakit jiwa stadium akhir, Otaknya gesrek parah. Bukannya baru kenalan sama Dirga, eh kenapa malah ngaku udah pacaran aja.


“Selamat malam Pak Hasan. Saya Dirga Rahardian. Maaf saya bukan pacar mbak Inge. Tapi saya yang malam ini bertugas mengawasi jalannya acara ini. Saya Tim EO yang melayani acara yang Bapak selenggarakan.” Dirga tidal mau di kenal sebagai pacar cewek gilak ini. Memilih mengaku sebagai EO di acara ini baginya lebih benar, akan kehadirannya di tempat ini.


“Owwh … bebeph udah kerja. Kirain masih anak kuliahan.” Inge merapatkan tubuhnya pada Dirga, nempel bukan hanya rapat, itu membuat Dirga segera menggesr tubuhnya, agar sisi tubuhnya tidak bersisian dengan benda kenyal milik Inge yang sengaja ia benturkan pada lengan Dirga.


“Katanya pacar. Kok ga tau profesi pacar sendiri sih? Sana … gabung sama tantemu.” Hasan sudah mencubit hidung Inge yang sepertinya sudah terlatih berbuat onar. Dan terpaksa patuh dengan perintah suami tantenya, untuk pergi meninggalkan Dirga dan Hasan yang masih berdiri berhadapan.


“Maafkan sikap keponakan kami. Anak itu memang urakan, apapun yang dia katakan jangan masukan ke dalam hati ya, dek.” Hasan sepertinya sosok paman yang sangat mengerti perangai anak adik istrinya tersebut.


“Iya pak … saya maklum.” Jawab Dirga sopan. Maklum apanya … tangan Dirga sempat nyasar loe gaes, ke daerah rawa-rawa buaya betina itu. Nyeri-nyeri sedap rasanya, aah.


Sementara di rooftop hotel itu, tampak dua sahabat tengah asyik menikmati lintingan tembakau yang terjepit di antara dua jari telunjuk dan tengah. Entah itu sudah pucuk yang keberapa. Sebab perbincangan mereka cukup banyak memakan waktu. Waktu yang di dominasi suasana sunyi, sebab hanya Berto yang bersuara tanpa di respon cepat oleh Pras.


“Apa yang kamu pikirkan, saat kita menemukan Mutiara bersama seorang pria muda dan asing di sini?” tanya Berto penasaran dengan perasaan Pras.


Hanya suara hembusan semilir angin bersilir-silir tertangkap oleh rungu keduanya. Tak ada suara manusia, sebagai jawaban atas pertanyaan. Haruskah Berto belajar ilmu bahasa hati. Agar ia tak perlu bertanya apa yang Pras pikirkan tentang perasaannya pada sang Mutiara.


“Apa perasaan cintamu pada Mutiara masih sama menggebunya, seperti waktu pertama kamu bertemu dengannya dan ingin segera mempersuntingnya untuk menjadi istrimu?” walau tak di jawab, Berto tetap keukeuh melontarkan pertanyaan lagi, walau mungkin nasibnya sama seperti pedagang asongan di saat lampu merah menyala. Harus berkali-kali mengetuk kaca mobil, agar menarik perhatian sang pengemudi. Mungkin saja mereka memerlukan minuman dingin atau koran.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2