
Pasca kesepakatan antara Dirga dan Mutia yang menganggap hubungan itu sejenis pacaran ala mereka. Ternyata kesininya bukan Dirga saja yang manja. Justru Mutia yang merasa nyaman dengan hadirnya Dirga yang super perhatian. Mulai dari melek mata, sampai akan kembali keperaduan. Walau kenyataannya, bukan Dirga yang menemani ia tidur melainkan Pras suami sahnya.
Dirga pernah janji, dalam hubungan mereka tak boleh ada kontak fisik. Yes, sejauh ini memang aman, sebab komunikasi mereka hanya by phone. Sebagaimana Dirga yang walau masih dalam selimutnya tetap rutin VC Mutia, demikian pula Mutia yang selalu menyemangati Dirga untuk fokus pada kuliahnya. Mereka seolah memang seperti sebuah hubungan simbiosis mutualisme. Mereka saling memanfaatkan dan saling membutuhkan. So far so good lah.
Kesininya, Dirga tau. Jika Mutia hanya bohong tentang rumah tangganya yang katanya ‘baik-baik saja’ Buktinya, dapat di hitung dengan jari Mutia tak bisa di hubungi saat malam tiba. Yang artinya ada Pras di sisinya. Pada malam lainnya, pukul 11 adalah batas maksimal mereka terus bercengkrama. Bercerita apa saja sampai kantuk datang dan ucapan selamat tidur yang mampu mengukir senyuman di wajah keduanya. Fix, mereka adalah dua insan yang sedang di landa kasmaran. Masalahnya, Dirga itu baru Dua Puluh Dua. Memang masa wajarnya jatuh cinta. Sedangkan Mutia itu Empat Puluh, artinya ia sedang dalam fase puber kedua. Oh No.
“Tante gak perlu menyuguhiku kopi. Sebab yang aku butuhkan cuma hati. Tante jangan lupa itu.” Asem banget sih brondong ini.
“Udah Ga. Seharusnya di awal kenal aku hanya menyuguhkanmu Kopi, bukan hati. Kamu saja yang tidak sadar, jika kini hatiku sebagian sudah termiliki olehmu.” Wadidaaau, pengakuan Mutia membuat Dirga terlonjak. Segera bangkit dari tidurnya yang belum sungguh terlelap.
“Masa …? Cubit tangan aing tan. Biar ku tau ini nyata.” Dirga menyodrkan tangannya untuk di cubit Mutia.
“Selamat … kamu sudah berhasil menjangkiti ke gilaanmu itu pada tante. Kamu udah bikin tante nyaman parah.” Mutia bagai putus asa menyatakan isi hatinya. Ia tak tahan untuk diam. Hatinya, otaknya sekarang sudah di penuhi oleh seorang Dirga. Brondong ketceh nan trendy ini.
“Makasih tante Imut ku sayang.” Waaaiiit, punggung tangan Mutia di cium cepat oleh Dirga, tanpa sempat di tarik atau di tepis oleh Mutia.
“Ga … ini termasuk kontak fisik.” Mutia mengingatkan.
“Itu hanya wujud rasa hormat. Semua punggung tangan guru Dirga sejak SD sampe SMA juga semua pernah Dirga cium kok. Itu wajar dan lumrah, sayang akuuuh.” Bajai … bajai. Dirga pintar ngeles ya, kayak bajai.
“Sayang akuuh.” Itu biasa … kue jatuh juga kadang di sebut sayang oleh emak-emak. Tapi kenapa membuat nyees di hati? Kek es batu nyempung di air panas deh. Itu kemenangan Dirga dari Pras. Untuk urusan ini, Dirga nomor wahid. Dan pras mendapat nilai nol.
__ADS_1
“Jangan kebablasan, kita udah sepakat. Kecuali kamu mau kita end.” Ancam Mutia yang sebenarnya suka di perlakukan manis seperti itu oleh Dirga. Apa sih yang sebenarnya bisa Mutia pertahankan di dirinya. Kek anak SMA takut bobol perawan aja. Buk … ibuk lupa sudah punya anak dua. Itu tadi baru di cium punggung tangan yaaak. Bukan punggung bahu atau yang lainnya. Selooow (bisikan setan mode on)
“Iya … maaf.” Alis Dirga naik dengan sendirinya. Pura-pura setuju dengan peringatan wanita idolanya.
“Ga … tadi mukanya kenapa? Kusut banget.”
“Aing sedih Tan.”
“Becouse …?”
“Dirga akan pergi KKN dua bulan Tan.”
“The problem?”
“Cuma dua bulan kan, bukan dua tahun atau dua puluh tahun.” Goda Mutia dengan wajah sumringah.
“Aing brenti kuliah aja tan, kalo KKN nya dua tahun.” Huuuu … fix ente gilak Dirga.
“Buseeeet. Parah ini anak.” Kekeh Mutia senang.
“Emang enak nahan rindu. Dilan aja keberatan, apalagi Dirga.” Mata itu tertuju pada wajah cantik alami milik Mutia.
__ADS_1
“KKN itu gak cuma kamu yang jalanin. Semua teman seangkatanmu juga melewati fase itu. Mereka gak bilang saja sama kamu. Tentang beban dan perasaan rindu mereka pada apapun yang mereka sayangi. Jalani dengan senang, agar harimu menyenangkan. Dan cepat pulang, tante akan selalu menunggumu.” Bentar … ini yang jambu siapa sih. Kenapa justru si emak bernak dua itu juga terdengar sedang mengobral janji.
“Kalo gak ada sinyal buat chatting gimana?”
“Bersenang-senang saja dengan teman yang ada. Sebab itu ajang keakraban kalian yang tidak terulang berkali-kali.” Mutia itu dewasa, juga pernah melewati masa KKN seperti Dirga. Ia ingat betul betapa manis masa itu, saat ia dan Dino masih sebagai pasangan kekasih. Uwwu beut.
“Oke … tapi tante juga harus janji.”
“Apa …”
“Gak usah … eh. Gak boleh ngegym lagi. Aing gak suka liat tutor itu kadang pegang tante, itu gak adil buat aing.” Rengeknya meminta keadilan.
“Duuh brondongku posesif banget sih, Ngalahin suami lhook. Kalo cemburu gini.” Canda Mutia yang beneran suka, saat merasa ia sedang di cemburui seseorang. Mutia merasa jika ia ingin menjadi satu-satunya di hati seseorang itu.
“Ya iyalah … Om Pras itu sudah memiliki tante seutuhnya. Sehingga dia gak merasa perlu berjuang lagi untuk mendapatkan tante. Sedangkan Dirga, masih baru nyempil saja di hati tante. Gak permanent. Masih kayak spidol yang biasa buat nulis di whitebooard. Masih bisa di hapus kapan saja. Tante Imut … masih harus di perjuangkan.” Ini anak kelewat gilak emang, sama emak beranak dua. Ini Mutia pake jampi apa sih. Sampe si brndong bucin parah.
“Norak …” Jawab Mutia singkat. Dengan gelenyar aneh di dadanya. Mutia sungguh merasa amat penting di mata Dirga.
“Kalo tante gak ngegym. Ntar tubuh tante gak oke, Ga. Sekarang udah mulai keliahatan hasilnya. Lemaknya sebagian udah berada di tempat yang benar, ga numpuk di perut saja.” Tak sengaja Mutia membusungkan dadanya ke arah Dirga. Iya … bobot Mutia memang mengalami pengurangan, walau tidak banyak. Tetapi bentuk tubuhnya pelan pelan menjadi lebih bagus. Gelambir di perutnya berkurang. Sebab lemak itu berangsur pindah ke bagian dada dan bok0ngnya. Dua bagian itu menjadi lebih padat. Walau ia masih terlihat gemuk, tapi bentuknya lebih rapi, karena penempatan lemak sudah pada tempat yang benar. Hasil pelatihan Ozzi sang tutor yang juga ngefans dengan Mutia.
“Gak ngefek. Mau itu lemaknya numpuk di perut doang, aing tetap suka tante Imut.” Wuuuush … Pras dua kosong kalo begini. Mau itu gombal atau bohong semata. Setidaknya itu adalah usaha Dirga untuk membuat senang wanita idolanya, agar lebih bersimpatik padanya.
__ADS_1
Celakanya, yang mengajak tidak kontak fisik itu Dirga bukan Mutia. Kenapa Dirga tiba-tiba terdiam, saat ia merasa ada sesuatu yang lembut menerobos mulutnya. Hangat sedikit lembab dan itu geli-geli nyaman.
Bersambung …