
Mungkin terdengar konyol keputrusan yang pria asing tak di kenal bernama Arfan itu ucapkan setelah tubuhnya tertindih Cintya, walau hanya disebabkan oleh sebuah kecelakaan. Bahkan di sengaja oleh Inge. Tetapi, itulah kepercayaan yang di anut oleh seorang lelaki bernama Arfan yang bahkan di panggil dengan sebutan Gus di depannya. Ia anak Kyai yang memiliki sebuah Pesantren. Tujuannya datang ke desa tersebut adalah untuk melihat lokasi rencana pembangunan Pesantren, yang akan keluarganya buatkan lagi. Mengingat lokasi desa itu sangat stretegis, yang tidak jauh dari kota. Sehingga mudah untuk beberapa orang tua nantinya menitipkan anak-anaknmya untuk di didik untuk menjadi santri di sana kelak.
“Kita bisa rapat untuk kegiatan besok gak, Cin?” tanya Dirga memecahkan keheningan tempat penampungan cewek yang memang beda tempat dengan para cowok.
“Hah …?” Cintya tidak bisa fokus sejak sore. Setelah datang dari Langgar sore tadi, ia mandi lalu waktunya ia habiskan untuk berdiam diri tanpa kegiatan apa-apa. Hanya termenung memikirkan segala sesuatrau yang belum tentu terjadi juga.
“Kamu sudah buat jadwal belum, besok siapa saja yang mulai mengajar ke sekolah?” Farel teman sekelompok mereka juga angkat bicara.
“Belum.” Jawan Cintya masih seolah tak bernyawa menjawab pertanyaan teman sekelompoknya.
“Kamu kenapa, ada masalah?” Dirga menyadari jika lawan bicara mereka tidak seperti biasanya.
“Huum … masalah? Gak kok. Aku gak papa. Bentar bantu aku susunkan orang-orang yang akan mendapat giliran besok.” Jawab Cintya berusaha fokus.
“Ini bukan hanya soal siapa yang mulai praktik. Tetapi yang bersangkutan apakah sudah menyiapkan diri untuk melakukan praktik besok, Cin. Jangan sampai mempermalukan kita dan diri sendiri. Ayo kita rembukkan bersama.” Tegas Farel kembali.
Demikianlah yang namamya kelompok. Mereka tentu akan saling bekerja sama dalam hal mencapai tujuan yang sama. Walau sulit konsentrasi di awal, Cintya akhirnya harus bisa mengalahkan segala pikiran yang bergelayut dalam otaknya. Tentu saja tentang ajakan menikah dari Arfan. Selesai bekerja kelompok dan bersepakatan siapa yang akan mendapat tugas dalam seminggu kedepan. KIni, Cintya seudah kembali pada mode bengong, mirip sapi.
__ADS_1
Sementara di kota tampak pasangan suami istri yang baru pulang mendadak honeymoon. Pras dan Mutia terlihat baru saja merenovasi sebuah kamar di rumah mereka. Entah apa yang ada di pikiran Pras. Tiba-tiba saja, sepulang mereka libur kemarin ia memutuskan akan membuat satu ruangan khusus berisi beberapa alat berat, pembentuk otot untuk hajar besi di rumah.
“Lho … selengkap ini Mas?” tanya Mutia heran saat alat-alat itu datang di rumah mereka.
“Gimana?”
“Oke sih … tapi kenapa?” tanya Mutia agak bingung.
“Supaya kamu berolahraga di rumah saja.” Jawab si datar dengan pelan.
“Mas, gak perlu buang uang sebanyak ini. Kalo memang tidak mengijinkan aku ngegym di luar bersama teman-temanku. Mas tinggal bilang, aku pasti nurit kok Mas.” Ujar Mutia sambil mengitari beberapa alat yang harganya tidak murah tersebut.
“Jadi Mas juga mau, kan kita bisa bareng datang latihan di sana. Kita juga bisa berkuality time bersama lebih sering.” Kekeh Mutia yang sadar, ternyata Pras pun ingin menjaga kesehatannya.
“Cukup salonmu yang membuat kamu jarang di rumah. Kasian anak-anak jika terlalu lama kamu tinggal kerja dan berolahraga juga.” Jawab Pras yang tidak Mutia sangka.
Ada apa?
__ADS_1
Bukankah memiliki Salon itu adalah atas kehendak Pras. Dan Mutia merasa beberapa bulan terakhir tidak begitu lalai dengan peran utamanya sebagai seorang ibu. Iya sih, sekarang dia punya pacar alias selingkuh. Tapi, menurutnya. Hubungannya dengan Dirga tidak banyak membuatnya berubah menajdi seorang ibu yang lupa rumah tangga.
“Mestinya Mas tidak usah beri aku peluang untuk kerja di luar rumah. Jika kesininya Mas tidak nyaman. Makanya, segala sesuatu harus di komunikasikan dulu dengan pasanga. Jangan semau-maunya memutuskan sesuatu. Tiba-tiba belikan salonlah, beli alat gym begini lah. Semua dengan uang yang tidak sedikit. Sebegitu mudahnya Mas mengerluarkan uang tanpa tanya sama aku terlebih dahulu. Apakah aku senang menerima semua yang mas berikan. Aku ini istrimu Mas. Bukan patung. Ajak aku bicara terlebih dahulu akan hal apa yang aku senangi atau tidak. Mas sangat egois, mas gak menyadarikan selama ini. Untuk Mas ketahui, kita bertahan selama ini. Bukan karena mas suami yang sempurna dan layak untuk di banggakan. Tetapi hanya karena aku tidak ingin bermasalah lebih panjang. Sehingga terlihat diam dan menerima semua yang Mas berikan. ” Mutia tiba-tiba bad mood. Dan ini pertama kalinya ia mengeluarkan uneg-unegnya.
“Maaf, jika aku salah.” Jawab Pras terkejut.
“Segala sesuatu Mas. Apapun, semua bis akita komunikasikan sebelumnya. Supaya tidak sia-sia semua yang kita lakukan.” Gram Mutia.
“Aku hanya tidak mau kamu capek harus kesana kemari. Harus bekerja di salon, lalu harus pandai juga membagi waktumu untuk berolahraga di sanggar milik temanmu itu. Ku kira waktumu akan habis di jalan saja, membuatmu semakin lelah dan tidak bisa maksimal lagi memeperhatikan Radit dan Raisa.” Kali ini penjelasan Pras lebih panjang.
“Itu hanya prediksimu Mas. Harus bekerja di salon, dan bisa berolahraga bersama teman-teman itu bagian dari hiburanku manjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Dan istri seseorang yang bahkan bicara denganku pun, bisa di hitung dengan jari.” Mutia melengos pergi, sumpah ia sangat jengkel dengan tindakan Pras yang sebenarnya benar, hanya kurang konfirmasi dan komunikasi saja dengannya.
“Kamu tau itu sikapku, bukan baru kemarin.” Ucap Pras sebelum Mutia benar-benar pergi meninggalkannya di ruangan gym di rumah mereka tersebut.
Padahal bukan itu alasan Pras sebenarnya. Karena saat di Bali, Pras akhirnya memiliki banyak waktu untuk memperhatikan Mutia yang bercanda bersama teman-temannya. Awalnya Pras tau, Mutia terlihat bahagia bersama mereka, dapat berbagi canda dan melupakan semua urusan rumah tangga yang ga ada libur, cuti dan tunjangan khususnya.
Hanya, dalam beberpa potongan obrolan. Akhirnya Pras menangkap jika Sanggar milik Shane itu tidak hanya menyiapkan alat pembentuk otot. Tapi juga menyediakan orang-orang yang dapat merobah hati seseorang. Pras memang pendiam, tapi bukan berarti tak punya telinga untuk mendengar. Pras mendapatkan beberapa kenyataan jika Shane dan Vinsha adalah pelaku perslengkian. Pras mencuri dengar jika mereka sempat berhubungan melalui benda pipih. Yes … pacaran secara virtual. Dan Pras sempat menangkap sebuah janji temu mereka nanti adalah di sanggar Milik Shane. Barulah Pras menyadari jika kini bisa saja istrinya yang akan menjadi mangsa selanjutnya jika terus berada dalam sirkle yang sama dengan teman-temannya tersebut.
__ADS_1
Huh … kasian kamu Pras. Sudah terlambat.
Bersambung ….