PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 20 : BUKAN KOPI


__ADS_3

Sebut saja kedatangan Berto menjadi penyelamat Mutia. Sebab dialah yang berhasil mengubah cara pandang Pras selama ini pada istri yang di matanya solehah itu.


“Mutia terlihat enjoy dengan statusnya sebagai Ibu Rumah Tangga.” Pras membela diri.


“Terlihat itu versi kamu, bagaimana dengan perasaannya?” Tukas Berto.


“Tetapi dia sungguh tampak baik-baik saja. Menjalani rutinitasnya setiap hari tanpa cela. Bahkan saat aku sekarang sering terlambat pulang pun, ia tak pernah protes. Dia diam saja. Dia itu istri super pengertian.” Puji Pras di hadapan Berto. Sayang pujian itu tidak langsung di dengar Mutia. Jadi, istrinya merasa seolah dia hanya cinta sendiri.


“Hati-hati. Seorang wanita yang diam sesungguhnya menyimpan misteri tak terduga. Bisa jadi dia sudah mati rasa padamu, sampai kamu tidak sering pulang tepat waktu saja membuatnya tidak lagi resah.” Hah … kenapa Pras baru mendengar nasehat ini. Selama ini ia tidak pernah berpikir jauh tentang Mutia. Ia yakin sepenuhnya, bahwa Mutia adalah istri yang tulus menjalani rumah tangga bersamanya.


“Mati rasa bagaimana? Aku tetap memenuhi kebutuhannya lahir dan batin. Dan dia tetap menerima haknya sebagai istri tanpa kekurangan.” Pras masih membela diri.


“Oh … ya syukurlah. Aku hanya curiga padamu yang sejak dulu pelit bicara itu. Jangan-jangan rayuanmu juga pelit pada Mutiara.” Kekeh Berto yang sudah sangat hapal pada sikap Pras.


“Memangnya merayu itu penting?” desis Pras yang masih dapat di dengar oleh Berto.


“Hanya wanita tak normal yang tidak butuh di sanjung dan sesekali di gombali dengan manisnya kata cinta. Apalagi makin tua, biasanya wanita makin caper. Makanya aku salut pada mode bertahannya Mutiara. Yang selalu tabah dengan lelaki monoton sepertimu.” Bahak Berto sungguh menyinggung hati seorang Pras.


“Mutiata itu sudah menerimaku apa adanya, demikian juga sebaliknya. Jadi tak masalah kan?” Pras sangat percaya diri. Menganggap jika dia satu-satunya pria di hati Mutia.


“Iya … itu soal kesepakatan kalian. Dan tiap rumah tangga memiliki keunikan masing-masing. Kita sudah tua Bro. Memang sudah tak pantas bicara soal 'aku cinta padamu'. Hanya yang perlu kita jaga adalah rasa ketertarikan yang sama, seperti pertama kita jumpa. Jangan sampai hadir rasa bosan dan lelah, pada salah satunya. Sebab jika rasa itu muncul, cinta yang kuatpun akan menjadi luntur dan hambar.” Berto datang tidak untuk menjust Pras.

__ADS_1


Hanya merasa perlu mengingatkan temannya. Sebab ia pernah berada di warung makan yang sama, saat Mutia dan Dirga asyik bercengkrama, hingga tak menyadari ada Berto di sana. Berto tidak tau pasti akan hubungan keduanya, juga tak tau apa yang di bahas dua orang yang berjarak dengannya. Hanya ia merasa lucu dan tak mendapatkan korelasi yang benar, antara mahasiswanya dan istri temannya itu. Iya, Berto sebagai Dosen yang kebetulan merasa lapar dan memutuskan untuk makan siang di warung makan terdekat dengan kampusnya.


Pras hanya mengangkat dua bahunya. Tak mengerti dengan maksud pembicaraan pak Dosen.


“Sekretarisku menawarkan sebuah Salon kecantikan yang akan di jual, karena adiknya perlu uang untuk pindah dan memulai usaha baru. Menurutmu, apa akau perlu membelinya. Agar Mutiara memiliki kesibukan selain menjadi IRT?” Pras memanfaatkan kedatangan Berto untuk ajang curhat.


“Owh … Perlu. Sangat amat perlu sekali.” Tukas Berto dengan cepat


“Semangat sekali.” Celetuk Pras melihat respon sahabatnya.


“Dalam sebuah perjalanan kehidupan. Variasi itu penting, itu saja.” Berto itu Dosen. Maha guru. Ia sangat tau bagaimana cara menyampaikan maksud dan tujuannya. Tanpa lawan bicaranya merasa sedang di beri pelajaran. Penalaran dan intuisi seseorang di tuntut lebih peka dalam mengartikan tiap diksi yang ia sampaikan.


Berawal dari itu, Pras menyadari mungkin caranya mencintai Mutiara memang tidak lumrah. Ia menyadari, jika ia bukan suami yang pandai memuji istri dengan pencapaian yang sudah Mutiara berikan untuk rumah tangga mereka.


Terlalu jauh untuk mundur dan berubah menjadi suami yang selalu berkata-kata manis. Dan itu bukan sifatnya. Jatuhnya akan kaku, dan tidak jadi diri sendiri. Sehingga memberi kebebasan untuk sang istri melakukan hal yang menurutnya baik, adalah bagian dari menunjukkan rasa cinta Pras pada Mutia. Walau ia masih pelit dengan kalimat ‘karena aku sangat mencintaimu’.


Tak banyak yang berubah dan harus di renovasi untuk sebuah Salon yang sudah berjalan dengan baik. Hanya pengecatan ulang dan penataan beberapa bagian di dalamnya, menyesuaikan selera owner baru yang mencerminkan kepribadiannya. Terdapat ruang khusus di salah satu pojok untuk tamu VIP yang mungkin akan mengantri saat akan menerima layanan treatment. Ah … paling itu hanya akal-akalan Mutia saja untuknya dan ibu-ibu rempongnya memindah tempat gibah.


“Yuhuuu … istri CEO. Ya iyalah istrinya juga OTW jadi pengusaha.” Shane. Itu adalah celetukan Shane yang sudah sejak jelang siang mampir ke Salon Mutia untuk me-masker rambutnya.


“Gak nyangka juga sih, tiba-tiba Mas Pras udah beli ini untukku. Katanya biar gak bosen di rumah terus.” Jawab Mutia yang merasa sangat beruntung memiliki pekerjaan lain, selain berkutat di dalam rumah.

__ADS_1


“Mungkin batu itu mencair juga. Jadi peka terhadap istri yang terzolimi selama ini.” Vinsha mempunyai asumsi sendiri. Dan obrolan unfaedah pun berlanjut hingga waktu ngeGym mereka tiba. Sehingga keduanya pun pulang. Tadinya akan di susul oleh Mutia. Tapi urung, sebab Dirga sudah berada di depan pintu, meminta ijin untuk masuk ke dalam Salon milik Mutia itu.


“Maaf Salon kami khusus wanita, Mas.” Tolak pegawai di salon Mutia tersebut.


“Bilang saja sama ownernya, ada Dirga.” Begitu si ketceh meminta akses masuk.


“Dirga …? Masuk aja.” Mutia sudah berdiri di belakang Novy. Dan langsung mempersilahkan brondongnya itu masuk, walau jelas tertera di depan, jika Salon itu tidak menerima tamu laki-laki.


“Dia keponakan saya Mbak Novy. Bukan pelanggan.” Hanya itu penjelasan dari Mutia. Dan di respon dengan anggukan, tanda mengerti jika lelaki muda tadi adalah keponakan owner barunya.


“Kenapa …?” Mutia menangkap raut lelah di wajah brondong ketcehnya itu.


“Gak kenapa-kenapa tan.” Jawabnya berselonjor di atas sofa empuk dalam ruang khusus VIP di pojokan ruangan yang tertutup kaca.


“Mau tante buatkan minuman apa?” Mutia itu wanita dewasa tentu paham, jika tamunya ini sedang dalam tidak baik-baik saja. Menawarkan minuman saat wajah lelah dan kusut itu datang, adalah andalannya. Tawaran yang bagi Dirga mampu menenangkan hatinya.


“Gak usah tan. Cukup tante duduk di sini saja.” Jawabnya sambil memejamkan mata, ingin tidur rupanya.


“Kopi hitam saja.” Mutia keluar dari ruangan itu menuju dapur mini di salonnya. Lalu membuatkan secangkir kopi untuk kesayangan barunya.


“Maaf tante gak punya biskuit untuk cemilan. Semoga kopi ini bisa menenangkanmu.” Mutia meletakan cangkir itu di dekat Dirga.

__ADS_1


“Tante gak perlu menyuguhiku kopi. Sebab yang aku butuhkan cuma hati. Tante jangan lupa itu.” Asem banget sih brondong ini.


Bersambung…


__ADS_2