PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 46 : ORANG DARI MASA LALU


__ADS_3

Pras itu sangat sayang pada Mutia, cinta banget malah. Hanya tidak pandai mengungkapkannya. Bahkan dengan bahsaa tubuhnya pun ia kadang kaku. Membelakangi Mutia semalam, bukan berarti dia tidak memikirkan setiap kalimat yang di sampaikan Mutia dengan nada absurd. Yang ia tangkap intinya, Mutia sangat mengkhawatirkan buah hati mereka yang di tinggal mendadak tanpa info sebelumnya.


Untuk itu, Pras memutuskan untuk pulang saja. Tanpa perduli dengan rangkaian pesta yang bermulai hari ini. Mungkin wanita suka kejutan, tetapi wanitanya bukan dari golongan yang suka di perlakukan demikian. Itu kesimpulan Pras. Mengutamakan keluarga adalah sikap baik. Maka Pras setuju, dialah yang salah sudah memaksa Mutia meninggalkan anak-anak mereka dengan tiba-tiba.


“Kamu benar … kasihan mereka kita tinggal secara mendadak.” Jawab Pras datar.


“Lalu … kita?”


“Pulang.”


“Lho … gimana dengan pestanya mbak Nunuk?” giliran Mutia terperangah. Bukankah mereka datang untuk memeriahkan acara Nunuk. Tapi kenapa justru di hari H, Pras mengajak pulang. Kenapa tidak kemarin saja mereka tidak datang sekalian.


“Percuma kita di sini, kalau pikiranmu di rumah.” Jawabnya seakan pagi ini akan siap beradu argumen dengan sang istri.


“Gak gitu Mas. Semalam akau kayak merasa masih jetlag aja. Dan kagok.” Alasan Mutia yang benarnya. Hatinya sudah sangat baik-baik saja setelah dapat kabar dari si Brondongnya semalam.


“Jadi …?”


“Kita sudah di sini, ya kita nikmati saja kesempatan yang mungkin gak akan datang berkali-kali ini.” Mutia mengelus punggung suaminya. Ingin sungguh menunjukkan rasa sesalnya semalam.

__ADS_1


“Yakin …?”


“Iya … udah deh. Radit dan Raisa mungkin memang sudah seharusnya terbiasa dengan keberangkatan kita yang dadakan. Sebagai CEO pasti Mas nantinya akan lebih sering melakukan perjalanan bisnis. Dan sebagai istri yang baik, mungkin tidak salah juga aku sering ikut. Untuk memastikan jika suamiku, sungguh sedang pergi melancarkan bisnis bukan yang lainnya.” Sadis nih Mutia, dia yang selingkuh. Malah suaminya yang di curigai akan bermain serong.


“Jangan seperti tadi malam lagi.” Jawab Pras mendusel pucuk rambut Mutia penuh sayang. Pliis deh, Pras itu bukan batu. Dia itu bisa romantis, hanya gak maksimal. Emang Mutia saja yang tidak pandai bersyukur memiliki suami pengertian macam Pras.


Pras dan Mutia sudah berbaur dengan para tamu lainnya. Melakukan bermacam kegiatan. Yang sejak pagi itu di mulai dengan beberapa games yang di kemas oleh pembawa acara. Permainan itu selalu dilakukan bersama pasangan masing-masing. Tadinya Mutia mengira tidak akan mendapatkan prestasi dalam permainan tersebut. Ternyata dia salah. Pras cukup cekatan dalam permainan yang di selenggarakan. Dibawah sinar matahari yang awalnya muncul malu-malu hingga sampai terik. Barulah rangkaian permaian itu berakhir dan selesai di satu meja yang sangat besar.


Sejak permaian berlangsung tadi, Mutia merasa jika gerak geriknya sedang di perhatikan oleh seseorang. Tetapi ia tak sempat memperhatikan siapa yang sedang mencuri-curi pandang padanya. Sehingga saat mereka sudah berada di satu meja, nafas Mutia hampir tersengal. Saat menyadari, jika yang sejak tadi memperhatikannya adalah seorang pria yang sangat di kenalnya.


Seorang yang pernah ada di masa lalunya. Orang yang pernahnmencicipi ranum bibirnya. Saat ia belum mengenal lipstik, lipgloss apalagi liptint. Dan pria itu adalah orang pertama kali melakukan ciuman dalam, lembut dan menggairahkan. Untung saja tidak sampai khilaf dan lupa daratan. Sehingga saat bermalam pertama dengan Pras, Mutia masih segelan.


Butuh 12 purnama bagi Mutia untuk move on, bahkan memutuskan untuk langsung menikah dengan Pras. Yang hingga saat ini pun, Mutia bimbang. Apakah Pras hanya pelariannya saja.


Mutia salah tingkah, saat bertemu kembali dengan sang mantan. Serta merta pandangannya kabur. Tertutupi oleh kepingan masalalu yang datang silih berganti. Masa manisnya berpacaran, penuh romantisme dan hangatnya kebersamaan. Saat di perhatinan, di ingatkan dan di manjakan untuk selalu rajin mengerjakan tugas kuliah. Mutia tipe suka di sayang. Bukan menyayang.


Tentu saja ini berbanding terbalik, saat ia menjadi istri seorang pria kaku. Mutia harus bisa melakukan yang Dino lakukan padanya dulu kepada Pras. Agar rasa cintanya tumbuh dan berakar. Tapi entahlah, apakah Mutia gagal untuk berusaha mencintai Pras. Atau ia hanya sedang tidak sadar sudah mencintai suaminya tersebut.


“Suap … suap ... suap.” Terdengar riuh rendah bagai yel-yel berseru serentak. Dan itu tertuju pada Pras dan Mutia. Tentu saja hal itu membuat Mutia bingung. Ada apa?

__ADS_1


“Kalian adalah pasangan terbaik pada permaian tadi. Jadi lanjutkan ke sesi jadi pasangan paling romantis lagi.” Shane sudah koar-koar dengan penuh semangat. Membuat Pras dan Mutia saling berpandangan bingung.


Tapi Pras bukan tipe suami yang pandai mempermalukan istrinya di depan orang banyak, sehingga ia dengan sigap mengikuti aba-aba dari orang-orang sekitar. Yang jika di perhatikan, mereka berdua sejak tadi seperti sedang di kerjain oleh teman-teman se-gang Mutia. Kulit wajah Mutia bersemu merah. Bukan karena mendapatkan perlakuan terpaksa romamtis oleh sang suami. Tapi, entahlah rasa malunya berlonjak-lonjak saat momen itu di lihat langsung oleh Dino sang mantan.


“Sepertinya kamu mendapatkan suami yang sangat baik dan amat baik dari aku, Tiara.” Hanya Dino yang memanggil nama Mutiara dengan panggilan itu. Dan bre3ngseknya suara itu masih sama seperti dulu. Sehingga tanpa menoleh pun Mutia tau itu suara siapa. Saat ia baru saja keluar dari toiet umum wanita, yang tak jauh dari tempat mereka makan bersama tadi.


“Di … Dino.” Mutia agak tergagap. Saat sudah berbalik dan memastikan yang baru saja menyapanya adalah mantan kekasihnya.


“Apa kabar … Tiara.” Dino mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Mutia yang masih terlihat sangat canggung saat bertahun-tahun tak berjumpa dengan Pria. Yang di usia 45 tahunnya masih terlihat maskulin. Terlihat nyata jika Dino adalah seorang yang sudah sukses.


“Kabar baik.” Jawab Mutia setelah berhasil membuang nafas yang di tariknya dengan sangat amat berat.


“Ku save nomorku ya.” Tanpa permisi Dino sudah mengambil ponsel di tangan Mutia. Dan ingin menyimpan nomornya di sana. Hanya ponsel itu terkunci dan tentu saja Dino tak tau sandinya.


Dino ingin meminta sandinya pada Mutia. Tapi gawai itu sudah terlihat menyala sendiri karena ada icon biru yang terlihat meronta ingin segera di ladeni. Jelas terlihat pada bulatan kecil di sana adalah wajah pria muda dengan nama ‘Dedeg’ di layar ponsel Mutia.


Dino tidak langsung menyerahkan ponsel itu pada Mutia, melainkan mencermati wajah si penelpon dengan seksama yang tentu lama. Sambil melihat ke wajah Mutia dengan tangan yang sudah terlihat ingin mengapai gawai miliknya tersebut.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2