PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 19 : MERASA BERSALAH


__ADS_3

Drama tentang mendapatkan hanya satu kamar oleh Desti sudah teratasi. Rupanya memang benar, itu hanya akal-akalan Desti saja. Ingin mencari kesempatan untuk bisa dekat lebih lama dengan Dirga. Lelaki incarannya bahkan sejak Dirga baru masuk dalam Tim Worknya. Hanya selera Dirga bukan Desti seorang gadis lajang, melainkan istri orang yang baginya lebih menantang.


Effort Nunuk ingin mendekatkan diri dengan Dirga pun gagal malam itu, sebab Nia putrinya si calon pengantin juga datang menyusul dengan calon suaminya. Untuk ikut memberikan konsep dengan detile pada Desti dan Dirga. Gak mungkin kan Nunuk bisa mengurung Dirga di salah satu kamar Villanya tersebut.


Beda kisah dengan pasangan rahasia, Mutia dan Dirga. Mereka yang ternyata memiliki cara dan waktu untuk bisa ngobrol lebih lama. Dalam keadaan hati yang was-was. Takut keciuman dan ketahuan pasangan gilak lainnya. Mereka persis pasangan backstreet, yang harus pintar mengelebui orang sekitar. Agar tidak ketahuan. Untuk apa? Hanya untuk menunda yang lain tau, jika kini Mutia sudah menjelma jadi istri nakal. Sayangnya hubungan yang di jalani di atas rasa cemas, dan meresahkan itu justru memacu adrenalin. Dan lupa, klo dunia itu isinya ga cuma mereka berdua.


Beberapa hari kemudian.


“Mama Rara …” itu panggilan urgentnya Pras pada Mutia. Mama Ra-Ra, Radit dan Raisa.


“Iya mas … ada apa?” Mutia sedang merapikan tempat tidur mereka, sedangkan Pras sedang mematutkan dirinya di depan cermin, sebelum berangkat ke kantor.


“Indah itu punya saudara yang memiliki usaha di bidang Salon kecantikan. Tetapi, akan pindah mengikuti suaminya. Kamu mau menjadi Owner Salon kecantikan milik saudara Indah itu?” Hah … ada angin apa Pras tiba-tiba meminta Mutia menjadi seorang Owner sebuah salon Kecantikan.


“Gimana …?” Mutia tak punya banyak modal untuk menanggapi hal yang di utarakan Pras.


“Anak-anak kita sudah tidak banyak butuh perawatanmu seperti mereka kecil dulu. Kamu juga pasti bosan dengan rutinitas sebagai Ibu Rumah Tangga. Juga, kamu seorang sarjana. Ku kira kamu pasti mampu mengelola Salon itu.” Lanjut Pras yang pagi itu lumayan banyak bicara.


“Mas mau aku bekerja di luar rumah?” Mutia harus memastikan dulu akan tawaran suamimya ini.


“Jangan anggap itu pekerjaan yang menjadi beban. Aku hanya menawarkan, mungkin kamu bosan seharian di rumah saja.” Ulangnya dengan kalimat yang mirip dengan yang sudah ia ucap sebelumnya.


“Kalo aku gak mau …?” tanya Mutia.

__ADS_1


“Salon itu sudah ku beli karena saudara Indah butuh uang untuk biaya kepindahannya. Dan jika kamu tidak bersedia mengelolanya, aku akan cari orang yang mau mengelolanya. Tapi, tetap saja. Salon itu akan menggunakan namamu.” Ucapnya sambil berlalu menuju meja makan, hendak sarapan.


Mendadak hati Mutia merasa bersalah. Apa yang sudah dia lakukan di belakang Pras bersama Dirga. Mutia yang sudah berbagi hati untuk brondong ketceh itu, dari seorang Pras yang tampak tak mencintainya. Tetapi tak jemu berusaha mengasihinya secara terus menerus. Mutia harus merevisi perasaannya pada Dirga. Pras terlalu baik untuk di sakiti.


“Oke lah mas, aku coba kelola Salon yang sudah Mas beli untukku. Terima kasih.” Mutia memeluk Pras dari belakang, saat suaminya itu akan mulai menyuapi nasi pertamanya. Menoleh ke arah istri yang memeluknya, lalu mendaratkan bibirnya pada pipi mulus Mutia. Itu sudah termasuk dalam kategori romantis bagi keduanya.


“Pak … apakah buk Mutia itu tidak pernah marah, Jika sekarang bapak jarang pulang tepat waktu?” tanya Indah suatu hari pada Pras.


“Hem … tidak, mungkin” Jawabnya ambigu.


“Kenapa mungkin. Harusnya pasti Pak.” Cecar Indah.


“Suami Indah saja suka sebel kita sering lembur mendadak. Makanya sekarang aku lebih sering di antar jemput.” Indah memilih jujur pada Pras. Sebab kadang Andro suaminya, bisa curiga akan jadwal yang sering berubah oleh Pras, dan tidak sekali nama Pras menjadi pemicu pertengkaran mereka. Karena suaminya cemburu pada CEO baru itu.


Tetapi, untuk urusan menyampaikan keterlambatan Pras pulang tetap Indah menghandelnya, karena Warto tidak bersedia berchat ria dengan istri bos barunya. Jadilah, Indah yang selalu memberi kabar apapun pada Mutia, setelah mendapat informasi dari Warto.


“Satu masalah lagi Pak.” Lanjut Indah.


“Ada apa?”


“Adikku Jelita akan pindah dan memulai hidup barunya dengan suaminya. Di sini dia punya bisnis yang bergerak di bidang kecantikan. Dia punya sebuah salon. Apa bapak tidak berminat membelinya? Karena adikku perlu modal untuk merintis usaha baru di tempat barunya nanti.” Ternyata tipe Indah memang seperti Mutia, harus lebih aktif menjelaskan sesuatu pada Pras.


“Siapa yang kelola, kalo aku yang beli?" Hanya itu jawaban Pras.

__ADS_1


“Ya kali … bapak mau belikan untuk ibu. Lumayan kan istri bapak jadi punya kesibukan, selain mengurus anak-anak.” Jawab Indah yang tidak langsung di jawab oleh Pras saat itu juga.


Dalam waktu sendirinya, Pras menghabiskan waktu di rooftop kantornya. Sambil menikmati beberapa batang tembakau yang sudah di linting daun. Di temani kopi hitam. Ia tampak sedang berpikir sesuatu yang serius.


“Mutiara dulunya adalah karyawan yang sempat magang di salah satu perusahaan. Tapi tak sempat naik status jadi pegawai tetap, karena buru-buru menerima lamaranku. Yang kemudian tenggelam dalam kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Mutiara berhasil menjadi istri terbaik dan ibu sempurna bagi Radit dan Raisa. Tapi aku tak pernah bertanya, apakah ia tak lelah dengan ritunitas yang itu - itu saja.” Pikirnya dalam hati.


Dan Lamunan itu terbuyarkan. Saat Berto sahabat lamanya itu datang menemuinya, dan segera di arahkan ke tempat di mana ia berada sekarang.


“Apa kabar?” Dahi Pras sedikit mengeryit melihat kedatangan sahabatnya itu.


“Kabar baik, hanya sedikit rindu pada seorang teman yang akhirnya sudah mencapai jabatan impiannya.” Kelakar Berto yang langsung menyambar rokok di atas meja tak jauh dari posisi duduknya.


“Maaf … tak sempat datang ke acara reuni kita.” Pras tau, pasti temannya ini ingin memprotes ke alfaannya pada acara reuni kecil-kecilan mereka. Walau Pras selalu menjadi batu di antar mereka, tapi tanpa kehadirannya, mereka tetap merasa kurang jika Pras tak bisa hadir.


“Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Jabatan hanya titipan. Tetap luangkan waktu untuk sekedar memelihara pertemanan agar kami masih menganggapmu sebagai kawan.” Berto menepuk bahu Pras untuk sekedar mengingatkan.


“Huum terima kasih.” Jawabnya tanpa perlawanan.


“Apa kabar keluargamu?”


“Istriku … yang selalu kamu ingin tau itu pasti Mutiara.” Pras tertawa sedikit sinis. Ia tau Berto selalu suka bertanya tentang Mutiara. Sebab ia selalu masih menyimpan kenangan, bagaimana dulu mereka berhasil jadian dan menikah. Bagi Berto itu tindakan menakjubkan, dan menurut prediksinya tak ada wanita yang bisa bertahan lama, kalau Pras senantiasa dalam mode tegas dan diamnya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2