PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 32 : PENGAKUAN


__ADS_3

Soal mengapa Dirga seolah jatuh cinta pada Mutia masih remang-remang. Belum jelas. Rasanya memang tak masuk akal. Mengapa pria muda berusia 22 tahun itu terlihat begitu menginginkan wanita berumur 40 tahun, sudah bersuami dan punya anak dua itu. Bahkan semua tau, jika Dirga itu sudah punya kekasih pulak. Aline, yang rupanya jauh lebih cantik dari Mutia.


"Dirgaaaa ....!" Mutia menghardik brondongnya sebab masih saja berusaha mencium-cium pipi kiri dan kanannya.


"Kenapa ? Tante marah?" Pertanyaan konyol apa itu.


"Dandanan tante rusak karena ulahmu." Dorong Mutia dengan kedua tangannya, pada dada bidang Dirga.


"Kenapa ... Karena mau terlihat cantik dan mempesona para suami orang itu?" Suara Dirga terdengar tegas. Di mana otak brondong ini. Dia lupa hanya sebagai simpanan Mutia. Pawang sesungguhnya saja terlihat acuh.


"Mereka itu bukan hanya sahabat Mas Pras. Ketika kami sudah menikah, mereka juga sahabatku Ga." Hah ... Kenapa Mutia harus terdengar seperti menjelaskan sesuatu pada si tengil itu.


"Oh ... Jadi karena mereka sahabatnya tante juga. Jadi bebas kontak fisik bahkan di tempat umum. Tante gak bisa jaga perasaan suami tante."


"Itu tradisi Ga. Sejak awal kami selalu begitu Mas Pras tidak pernah mempermasalahkannya." Mutia membela Pras suaminya.


"Apa yang bisa Om Pras permasalahkan akan tindakan mesra tante. Jika apapun yang tante buat untuknya pun gak pernah ia hargai. Bukankah selama ini tante yang harus peka dalam hal menafsirkan yang ia sukai dan tidak. Atau Om Pras memang gak pernah anggap tante ada." Sepintar tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Seringnya komunikasi yang Mutia dan Dirga lakukan, tentu ujung-ujungnya adalah gibah tentang rumah tangganya. Tak terkecuali sikap dingin suaminya.

__ADS_1


"Jika memang Om merasa sikap tante tadi biasa. Setidaknya tante bisa jaga perasaanku. Hati Dirga sakit liat kemesraan tante pada mereka." Ujarnya pelan, memilih menciptakan jarak untuk menjauh, dan bersandar pada tembok pengaman rooftop di sana.


"Mana tante tau jika kamu di sini." Bod0hnya Mutia masih meladeni brondong posesif itu.


"Jadi tante akan jaga jarak dengan laki-laki kalo tau ada aku. Dan akan semena-mena saat aku gak ada?" Tanya Dirga lagi.


“Maaf Ga … tante gak ngerti apa maumu.” Mutia tidak biasa di cemburui oleh suaminya. Sebab Pras memang tidak pernah menunjukkan sikap itu padanya. Si datar itu tak pernah terlihat marah juga suka pada semua yang ia lakukan. Rumah tangga mereka kelewat lempeng, sehingga selalu damai, sebab tak ada pemicu pertikaian. Beda dengan atmosfir yang terjadi pada hubungan terlarangnya dengan si Brondong trendy ini. Penuh warna dan buat jantungnya kadang deg deg an sendiri, karena isi hubungan mereka terlalu bervareasi. Mutia tau, di mana letak pintu yang dapat membuatnya bisa kembali ke tempat acara berlangsung. Maka kini langkah kakinya menuju jalan keluar.


“Tante … maaf. Dirga kelewat sayang sama tante. Rasa ini membuat Dirga cemburu.” Tangan Dirga melingkar erat di perut Mutia. Ie memeluk Mutia dari belakang, sambil membisikan perasaan cemburunya pada sang tante. Tanpa di minta, ia mengaku akan perasaannya. Huh … Mutia mana pernah di beginiin oleh suami. Di peluk dari belangkang, plus dengan untaian kalimat pernyataan cemburu lagi, bagi Mutia ini tuh sweet. Mutia meleleh. Tapi berusaha jual mahal.


“Bagaimana Dirga yakin akan perasaan tante, sedangkan di hati tante belum tentu hanya ada aku. Aku sadar diri, pernah minta bagian terkecil dalam hati tante. Dirga siapa tan? Hanya sekelumit sampah di kehidupan tante. Dirga tau di sini sudah di kuasai Om Pras, Radit juga Raisa.” Tangan Dirga sudah menunjuk dada Mutia, menunjukkan letak hati wanitanya tersebut.


“Kamu telah ada di situ, namun tidak pada porsi yang besar. Ini resiko hubungan kita. Tapi keberadaanmu di tempat kecil itu, bahkan sudah mendominasi di sana. Kamu sudah akan menjadi bagian terindah di dalam sana.” Baru saja selesai Mutia bicara, tubuh Mutia sudah tidak dalam posisi di peluk dari belakang. Tetapi berhadapan, dan terlihat di tekan ke dinding tak jauh dari pintu. Mulut Mutia sudah terbekap oleh ciuman dalam oleh si brondong. Dirga sungguh sudah candu dengan bibir sang tante. Memilih berhenti beradu prasa. Sebab dengan bahasa tubuh yang mereka lakukan sekarang, menurut mereka lebih jelas menggambarkan perasaan masing-masing.


Oh Brondong Trendy, kini tidak hanya menyerang indra pengecap Mutia. Tapi tangannya mulai liar menyusuri gundukan indah pada bagian depan tubuh Mutia. Tantenya Dirga itu memang selalu cukup di nafkahi batin oleh sang suami, artinya dia bukan tipe wanita ‘gatal’ dalam urusan itu. Hanya cengkaraman yang Dirga lakukan terasa berbeda, pelan, lembut dan terasa lebih hati-hati mungkin karena mainnya memang pake hati.


Mutia sadar, mereka melakukannya di tempat umum. Sementara kedua bibir itu saling tertaut bahkan terbelit di dalam. Tangan Mutia berusaha melerai rabaan tangan Dirga yang makin membuat hatinya resah, bahkan bagian bawahnya sedikit basah. Fuuck, Mutia terang sang karena ulah si tengil ini.

__ADS_1


“Ga … tante sayang kamu. Tapi kita jangan begini.” Mutia memberanikan diri untuk berhenti. Menghentikan aktivitas yang sungguh sangat ia inginkan dan masih ingin ia nikmati lebih lama. Tapi, mereka sedang di rooftop. Bisa sajakan, yang mererka lakukan itu di lihat orang lain, walau sejak mereka berdua disana, tempat itu terlihat sepi.


Tangan Dirga menurunkan pakaian bagian depan dada Mutia, sedikit menurunkannya sampai garis tak lurus di depan dada itu terlihat. Dan mengecup daging yang terhimpit juga tergendong molek di depan dada itu.


“Besok-besok, Dirga mau yang ini.” Astaga … brondong minta mimik. Jantung Mutia dangdutan lagi karena permintaan konyol Dirga tadi. Bersyukur saja pada Tuhan, yang menciptakan malam lebih gelap warnanya dari siang. Sebab wajah Mutia sudah merah padam. Akibat malu mendengar permintaan si tengil. Bukan hanya malu, tapi mungkin mau. Kali aja sensasinya akan berbeda dari sayur yang biasa ia nikmati pada tubuh suaminya. Gilak.


“Jangan aneh-aneh…!” Hardiknya setelah mampu menguasai perasaan campur aduk di hatinya. Mutia mau, tapi takut. Ia penasaran dengan rasanya yang lebih bersama Dirga, tapi otaknya masih waras akan statusnya sebagai istri orang dan ibu dari dua anaknya.


Cup


Dirga lagi-lagi mengecup bibir Mutia sekilas.


Bersama dengan lepasan kecupan kilat itu, pintu rooftop di buka oleh seseorang. Tetapi tubuh mereka masih berhadapan rapat dan hanya berjarak sekilan orang dewasa. Dekat saja tidak menempel sih. Hanya masih terlihat keduanya memang sangat akrab.


“Mutiara …?”


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2