
Ponsel Dirga tak pernah lepas dari tanganya, bahkan ke kamar kecil sekalipun. Walau raganya kini di desa. Tetapi tidak dengan jiwanya. Separuhnya ada di sebuah kota besar, tempat ia memutuskan untuk melanjutkan studinya. Di kota besar itu ia banyakmendapatkan pengalaman hidup, yang memperkenalkannya bagaimana menjalaini kehidupan seorang diri tampa sanak family. EO tempatnya bekerja sekarang sangat banyak membantu dalam hal financial. Karena itu, walau ia terhitung cuti. Tapi tidak dengan ide pikiran dan segala jadwal pekerjaan yang menantinya ketika masa KKN berakhir nanti. Alasan itulah yang membuat Dirga tak fokus dengan KKNnya sekarang, ia lebih sering berinteraksi dengan ponselnya. Di tambah lagi, Mutia wanita idolanya itu kini juga mendominasi pada room chatnya, mereka yang sedang di landa kasamran. Yangs edang jauh di mata namun dekat di hati.
“Bebeph Dirga … antarkan aku ke PKM donk. Sakit perut niih.” Karena kamera itu posisi terbalik, sehingga sejak bagi ketiga wanita di seberang layar, melihat cewek muda berjalan mendekati Dirga. Tidak hanya dekat. Tapisudah nempel di sisikanan tubuh Dirga yang sedang melakukan panggilan Video Call dengan 3 makhluk cantik di layar ponsel.
“Apaan siih … ganggu aja.” Sarkas Dirga mencoba melepas tangan Inge yang sudah bertengger kakak kaki burung kakak tua pada ranting pohon.
“Hah … elo lagi VC an. Eeh … hai tante Mutia kan?” Sama Inge sok akrab dengan Mutia yang pernah ia kenal sebelumnya, di malam yang sama dengan Dirga pada pesta keluarga Hasan.
“Ehhmm … iy. Haiii Inge. Kamu KKN juga?” sapa Mutia ramah. Membuat Safira dan Alifa menoleh ke arah Mutia yang juga kenal dengan cewek muda nan akrab dengan Dirga.
“Iya tante… seneng banget deeeh. Bisa lama, deket sama kesayangan gueeh.” Inge sudah mencuri kecupan pada pipi Dirga. Tamatlah riwayat Dirga di hadapan Mutia. Gerakan Inge selalu mendadak dan cepat, tak terduga. Tanpa sempat Dirga melakukan perlawanan atau minimal tangkisan. Atau Dirga memang sudah candu, pipinya di cium-cium cewek nekad itu.
“Huuum … baik-baik kalian di sana yaaa..” Senyum tegar Mutia tercipta dengan cepat, secepat gerakan cewek muda yang tadi mengaku sedang sakit perut tadi. Tapi entah, itu sungguhan atau bohong saja.
Bahkan Mutia tak mau mendengar jawaban selanjutnya. Jari telunjuknya sudah menyentuh tanda merah pada layar pipihnya. Dan panggilan video call itupun berakhir. Jelas EkspresI yang Mutia sampirkan di wajahnya. Bahwa ia terlihat kesal.
“Cewek itu pacarnya Dirga?” tanya Safira, tepat setelah panggilan itu selesai. Safira ingin tau. Kepalanya menghadap lurus ke wajah Mutia yang tiba-tiba bete.
__ADS_1
Mutia hanya mengangkat bahu, dan meraih gelas minumannya. Buseet, suasana hatinya mendadak panas. Akibat aksi ciuman mendadak Inge ke pipi Dirga. Nyesek kan.
“Anak kuliahan Firaa… wajarlah punya pacar. Apa kabar emak beranak dua yang terbuai rayuan receh via chat itu.” Alifa kembali pada mode serius dan agak sinis. Rupanya sejak tadi, Alifa hanya bersandiwara, memasang senyum manisnya saat berVC dengan Dirga. Padahal alinya gendek juga, dengan kesimpulannya sendiri. Bahwa adiknya kini, mulaI berani bermain api.
“Kalo ku baca chat kemarin siih, kayaknya hubungan mu sama dia bukan hanya teman biasa. Lagian kolerasinya tuh gak ada sama sekali, antara kamu dan dia.” Safira mencoba menganalisa.
Mutia masih terlihat dingin. Tak berniat menanggapi analisa Safira. Sebab ia lebih sibuk menata suasana dalam hatinya, melihat ulah Inge. Mutia overthingking.
"Jika kamu seorang dosen. Mungkin ... Kalian ketemuan di kampus, trus cinlok deh. Tapi ... Gak kan?" Safira mencoba menghubungkan pertemuan Dirga dan Mutia.
“Kamu serorang istri CEO, punya bisnis sendiri. Dan dia hanya anak kuliahan. Kamu gak mikir, kalo dia itu cuma mau manfaatkan kamu aja, Mut. Kalian ketemu dimana sih? Lalu manfaat deket dengan dia itu apa?” Safira berbicara sendiri, tak berharap di jawab oleh dua kakak perempuannya yang lebih memilih diam dan seolah acuh saja dengan yang ia ucapkan.
“Kamu kepojokan sana saja. Gimana juga nanti ku kasih jawaban, gak bakalan masuk akalmu. Karena kamu gak pernah tau, rasanya jadi aku.” Mutia membela dirinya. Cukup rese telinganya mendengar celotehan Safira, yang tentu saja menjadi jawaban tersirat, jika ia dan Dirga memiliki hubungan tak lazim.
“Artinya … hubungan kalian bukan hubungan biasa kan?” tanya Alifa menatap dalam mata sendu Mutia.
Mutia hanya mendengus. Membuang nafasnya dengan rasa yang berat.
__ADS_1
“Gak usah jawab. Hatimu sedang tidak baik-baik saja. Setelah melihat gadis tadi mencium pipi brondongmu itu, ya kan?" Tebak Alifa yang lebih tua dan juga dewasa untuk kedua adik perempuannya. Mutia tak punya jawaban untuk hal itu.
Bagaimanapun hatinya kesal melihat Inge, ia tetap tidak akan di bela oleh siapapun. Karena hubungannya dengan Dirga memang tidak benar.
“Kita ini semua sudah berkeluarga, masa muda, sudah sama-sama kita lewati. Ayah dan bunda kita di masa itu. Adalah sosok orang tua yang tak pernah memgekang kita bergaul dengan siapapun. Bahkan untuk memilih menikah dengan siapa pun, mereka tidak pernah ikut campur. Mereka selalu mendukung keputusan atas pilihan kita. Lalu … katakan satu alasanmu. Mengapa kamu harus dekat dengan pria yang tak pantas lagi kamu dekati?” Alifa sungguh telah serius menanggapi kasus Mutia.
“Bosan mengalah.” Jawab Mutia singkat. Bahkan seperti siap dengan jawaban itu.
“Siapa yang sedang bertanding? Sehingga kamu yang harus mengalah?” tanya Alifa lagi. Sementara Safira , berjingkat akan meninggalkan dua kakaknya yang terlibat oborlan serius.
“Firaa … tetap dududk di sini. Kamu juga perlu mendengar obrolan ini.” Perintah Alifa tegas. Membuat Safira tak berani lanjut. Dan kembali duduk di antara mereka.
“Saat wanita sudah memutuskan untuk menikah. Itu bukan akhir dari semua cerita cintanya. Tetapi justru, babak baru dalam hidup percintaannya bermulai. Sebab dunia pacaran berbanding terbalik dengan dunia pernikahan yang kompleks. Karena tak ada yang tersembunyi lagi antara kita dan pasangan, bahkan sampai detail bagian tubuhnya.” Papar Alifa memberikan ilustrasi.
"Saat kita sah menjadi suami istri. Saat itu pula Tuhan memberikan kita rasa istimewa pada pasangan halal kita. Kita tidak hanya di karuniakan rasa cinta, rasa sayang, rasa tertarik antara satu sama lain. Tetapi rasa malu pun Tuhan hilangkan. Agar tidak ada yang tersembunyi untuk kita bagi berdua. Susah senang, sedih dan bahagia. Hanya boleh kita bagi dengan pasangan halal kita. Lalu ... Mengapa kamu bilang, kamu yang mengalah? Kalian itu satu tim. Bukan lawan yang harus bersaing."
Bersambung ...
__ADS_1