
Vena sang tante, belum punya kesempatan untuk angkat bicara. Walau hanya sekedar untuk memperingatkan Inge agar tidak bersikap kasar pada pelayan yang sungguh tidak bersalah tadi. Tapi Inge bagai memiliki kepribadian ganda, yang tadinya bar-bar tetiba anyep setelah Dirga datang.
“Oh … damai. Baik, terima kasih untuk kebaikan Mbak.” Tukas Dirga merespon sikap Inge yang terlihat beritikad baik pada pelayan yang terlihat sempat cemas di sebelahnya. Walau hatinya berkata jika cara gadis ini tidak benar, dan seolah mengandalkan uang untuk segala hal.
“Yess … gue kok yang salah.” Jawabnya dengan nada cuek. Dengan tatapan mata tajam pada Dirga.
“Maaf mbak. Silahkan lanjutkan pekerjaannya. Soal ini, biar nanti saya yang bicara pada Manager.” Dirga secara tidak langsung memerintahkan pelayan tadi meninggalkan tempat kejadian, sembari mengambil selembar uang mereh di atas nampan.
“Ijin mbak, ini tidak di benarkan. Sebab ini bagian dari tanggung jawab kami. Dengan mbak tidak menuntut apa-apa pada pelayan hotel ini saja sudah cukup bagi kami. Jadi segala kerusakan yang terjadi, bukan tanggung jawab personal, tapi tim kami. Permisi.” Dirga berusaha tampil seprofesional mungkin, sesuai tupoksinya berada di tempat itu.
“Makasih ya, Ga.” Mutia tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum brondongannya itu pergi menjauh tempat mereka berada.
“Tante kenal dia?” Inge yang SKSD itu berbicara pada Mutia, saat punggung Dirga bergerak dua langkah dari mereka.
"Kenal donk, dia kan kekasih hatiku." aku Mutia dalam hatinya. Di hati saja ya gaes, mana berani Mutia mengakuinya di sembarang tempat dan orang yang tidak tepat.
“Oh … iya. Lumayan kenal, sebab mereka Tim EO yang kemarin juga mengurus acara Aniv tante.” Mutia tak kalah profesional. Mengakui jika Dirga adalah kenalannya sebagai Tim EO yang ia kenal. Ga mungkinkan Mutia bilang kalo itu brondongannya.
“Tante … Kenalin donk. Cakep gilak, sumpah.” Ceplos Inge memegang tangan Mutia penuh harap.
“Ooooh … jadi karena mau terlihat manis, di hadapan lelaki tadi. Jadi kamu tiba-tiba berdamai pada pelayan yang baru saja kamu marah-marahin?” Vena menarik telinga Inge agak lama.
“Apa yang salah siih, tan. Cakep beneran sumpah.” Jawabnya sambil nyengir.
“Panggil lagi deh, Mut.” Pinta Nabila yang juga masih penasaran dengan Dirga nyang sudah benar agak jauh dari mereka.
__ADS_1
“Gimana manggilnya?” Mutia pura-pura tak dekat donk dengan brondongannya itu.
“Ga usah repot-repot deh, nanti Inge samperin sendiri.” Ucap Inge yang emang rada urakan. Langsung setengah berlari mendekati Dirga dan menepuk bahunya.
“Hai … cowok. Boleh kenalan donk.” Sapa Inge tanpa basa basi. Dirga celingukan, tentu saja pandnagannya ia lemparkan pada Mutia yang masih bisa melihat gesturnya, walau mereka masih berjarak.
“Maaf mbak, saya lagi kerja.” Dua tangan Dirga di depan dada. Meminta permohonan maaf dengan wajah serius.
“Gue tungguin sampe loe, selesai kerja deh.” Jawab Inge cepat. Membuat Dirga bingung harus menanggapi gadis ini dengan bagaimana.
“Hah … sampai acara ini kelar mbak, baru saya bisa free.” Jawab Dirga sopan.
“Sekarang juga, gue bisa minta tante gue selesein acara ini. Supaya elo mau ladenin gue.” Oh … Ini anak juga bakalan jadi ratu tengil deh, kayaknya. Dirga hanya diam, dengan tatapan mata yang berpendar kemana-mana. Sebab tugasnya memang sebagai pengawas. Memastikan acara berlangsung dengan baik tanpa cacat cela.
“Atau aksi damai tadi gua cabut aja. Sekarang juga saya akan laporin ke manager. Jika pelayan di sini kerjanya ga becus.” Ancamnya dengan senga. Dirga lebih merasa penting meraih ponsel di sakunya, daripada menanggapi ancaman gadis aneh di depannya.
[Inge siapa sih, sayank?] balas Dirga cepat.
[Cewek di depan mu namanya Inge. Katanya mau kenalan sama kamu. Dia keponakan ny.Hasan. Yang punya hajat pesta ini.] Mutia menjelaskan. Seolah tau, jika Dirga terlihat tidak berminat pada cewek di depannya.
[Dirga boleh kenalan sama dia nih?] tanya Dirga memastikan perasaan kekasihnya.
[Boleh …] jawab Mutia cepat.
[Boleh aja …? Ga pake sayank sama Dirga] sambil mengetik layar di ponselnya, Dirga menjepit bibirnya. Tersipu sendiri dengan permintaaan manjanya yang ingin di panggil sayang oleh kekasihnya tersebut.
__ADS_1
[Iya … kenalan aja. Boleh donk, sayangnya tante.] agak panjang Mutia mengetik kalimat pada ponselnya, dengan wajah berseri, ngalahin rekahan kelopak mawar di taman bunga deh.
[Makasih cintaku …. Muuuach😘] hadoooh yang ter Mutia-Mutia, udah makin gilak aja mereka.
“Dirga. Namaku Dirga Rahardian.” Tiba-tiba tangan Dirga terulur ke depan tubuh Inge yang sejak tadi sempat di anggurin oleh Dirga, sebab terlihat sibuk dengan ponselnya.
“Inge Lestari.” Jawab Inge antusias.
“Yakin Lestari …?” tanya Dirga dengan wajah serius.
“Gimana …?” Inge agak O’on menanggapi sahutan Dirga.
“Les Tari …? ga Les Matematika atau Les Piano … Gitu?” Dirga ternyata mencoba bercanda pada cewek bar-bar di depannya. Dengan senyum ala gulalinya ia terbahak sendiri setelah berhasil membuat bingung lawan bicaranya.
“Ehh … buset loe. Tadi aja jual mahal gue ajak kenalan. Pas udah iya, becanda loe ga kira-kira.” Tawa Inge lebar sempurna. Tidak menyangka, cowok yang ia kira cool dan sempat tegas, jual mahal tadi ternyata orang yang memiliki jiwa humor lumayan. Bukan, bukan jiwa humornya yang buat Inge mengejar Dirga. Tapi ke ketceh an, pria ini yang membuatnya kesemsem, sampai membuatnya lupa jika ia berada di daerah yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Ya, Inge itu baru pulang dari benua lain. Terancam gagal kuliah akibat kerjaannya hanya ngelantur di negari orang. Pulang ke Indonesia untuk menjalani hukumannya sebagai putri yang harus menjelma jadi orang biasa itu adalah bagian dari sekenario hidup yang harus ia jalani sekarang. Ya iyalah, dia kan keponakannya Vena dan Hasan. Jangan lupa mereka keluarga sultan tujuh turunan, tujuh tanjakan. Fix mereka horang kaya.
“Maaf.” Kata itu saja yang Dirga ucapkan. Setelahnya. Inge memaksanya untuk duduk di kursi yang lumayan nyaman untuk mereka berdua bertukar cerita. Bukan mereka sih, Inge yang lebih dominan. Berlaok bak seorang wartawan mewawancarai narasumbernya. Sedangkan Dirga dengan tatapan mata elangnya, masih terlihat sesekali melihat keadaan dalam ballroom, sesekali berbicara melalui alat komunikasi sesama Tim EOnya, juga sambil chatting dengan kekasihnya yang juga berada di tempat yang sama.
[Yank … perasaannya gimana pas liat aku ngobrol sama cewek lain?] chat Dirga memancing, tanpa sebutan tante di awal kata sayangnya.
[Biasa aja.] Jawab Mutia senyum sendiri melihat gawainya.
[Sayangnya aku … ga punya rasa nih sama dedeg] what … dedeg. Manja banget sih.
[Truuus … maunya tante koprol depan, koprol belakang gitu. Karena cemburu liat si dedeg tengil deket cewek lain?] uoowwwwoooow. Ada panggilan barukah buat Dirga dari Mutia. Dan bodohnya justru panggilan itu membuat lobang hidung Dirga kembang kempis sendiri, merasa jika itu adalah panggilan sayang si tante terhadapnya.
__ADS_1
Bersambung …