PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 51 : NGAJAK GELUT


__ADS_3

Pras sesungguhnya bukan tipe suami yang kepo. Tetapi ia tak suka berisik dan bising. Bunyi dering telepon pagi itu, sungguh menggangu indra dengarnya. Bukankah biasanya, untuk berkirim kabar dengan istrinya pun, dilakukan oleh Indah.


Pras buru-buru sibuk menyiapkan dirinya, sebab ia hari ini akan menghabiskan waktu berdua dengan Mutia ke tempat Wisata dan belanja di Bali. Mereka akan berpindah tempat, agar besok bisa lebih dekat untuk pulang.


"Tante ayanaaak..."


"Apa siih ..." suara Mutia mengecil dan berusaha bangun dari tidurnya. Menjauhkan diri dari Pras.


"Sepagi ini kami kedatangan cewek gilak." Lanjutnya melapor pada Mutia.


"Siapa?" Mutia tak bisa panjang dalam hal menjawab. Mungkin saja ia di pantau.


"Inge, tan ... Di tempat KKN ini ada Inge. Cewek gilak yang waktu itu ada di pestanya Keluarga Hasan?" Dirga menjelaskan. Membantu Mutia mengingat.


"Kok bisa ...?"


"Gak tau. Datang gak bareng kami. Tiba jumlah kami nambah saja di sini. Kesel banget deh." Curhat si Brondong, berasa Mutia itu memang bak sampahnya. Tempat berbagi semua beban hidupnya dalam bidang apapun.


"Ya ... Kan dia memang mahasiswa. Kebetulan kalian satu semester kali. Dia kan baru pindah." Mutia mencoba menenangkan.


"Semoga gilaknya gak kumat di sini. Jadi bete." Kesalnya.


"Segala kumat gilanya. Ya ... Berusaha menghindar saja. Biasa-biasa aja meladeninya." Lanjut Mutia dengan perasaan hati yang tidak nyaman, sebab Pras sudah muncul di ambang kamar kecil dalam ruangan yang sama dengannya. Tanpa basa basi dan tanpa muach muach ... Panggilan itu pun Mutia akhiri sepihak dan cepat.


Raut wajah Pras sedikit berubah, melihat Mutia yang baru saja mengakhiri obrolan di telpon selama ia mandi. Apakah sambungan telepon itu kelewat lama, atau ia memang terlalu sebentar mandinya, hingga saat ia selesai mandi. Percakapan itu baru berakhir.


[Udah ya Ga. Ada Om Pras] chat Mutia secepatnya, agar Dirga tidak tambah kesal, Mutia menutup teleponnya tadi.


[Iya sayank, ku ngerti kok. Selamat berbelanja sama Om ya. Ku selalu rindu, tante😘] Balas Dirga tak kalah cepat.


[Mau oleh-oleh apa Ga?]


[Jangan Ga ... Ga. Jauhan kok gak ada mesra-mesranya😔] Chat si brondong labil. Protes lah, sama Ayang mbebnya yang menurutnya jarang mau memanjakannya dengan kata mesra.

__ADS_1


[Uuummmch 😘 gumuush deh. Sama Dedeg kesayangan. Mau di belikan apa dari Bali] wajah Mutia sudah mulai bersemu semu, ada rasa hangat menjalar dalam buku-buku hatinya. Dunianya memang semakin indah. Warna Warni bak pelangi. Entah kenapa jatah Mutia agak beda dari Tuhan. Sebab biasanya pelangi datang sehabis hujan. Tapi, mengapa pelangi itu datang bahkan tanpa hujan atau badai sebelumnya. Mungkin nanti? Atau tidak pernah sama sekali.


[Gak minta apa-apa. Ayank cepet pulang dengan selamat n bisa jenguk ke Desa aja udah emezing😜]


[Halu🥴]


[Harus🥰]


[Ngawur😏]


[Makin rindu]


[Fokus kegiatan aja, dedeg sayank]


[Cium dulu]


[Muaaach]


[Yang banyaaaaaak]


Astaga ... Sampai Pras menyampirkan handuk di pundak Mutia pun, ia baru sadar jika chat itu sudah banyak menyita waktu.


Tak lupa menghapus riwayat chat pendek, unfaedah tapi buat hati Mutia berbunga-bunga. Apapun mungkin terjadi, walau suami tak kepo. Waspada itu tak salah bukan?


"Ada masalah apa di Salon?" tanya Pras saat mereka sudah di perjalanan menuju Kota.


"Gak ada sih. Stok bahan saja ada yang kurang. Salesnya terlambat mengantar. Makanya mereka minta, aku yang langsung menghubungi ownernya." Horeee... Mutia makin pintar bohongnya. Makin krearif dan bervareatif ya, ide-ide dalam otak si tante yang belajar nakal.


"Maaf ... Ini masih efek dari kita mendadak liburan ya?" Ampun, kenapa kesininya Pras jadi makin sering minta maaf. Kan Mutia jadi makin merasa bersalah. Mutia hanya mengelus tangan Pras, seolah memaafkan dan tidak menyalahkan suaminya. Maniisnya.


Sementara di sebuah perkampungan yang di datangi kurang lebih 60 orang mahasiswa. Yang disebar di beberapa Desa. Mereka adalah mahasiswa/mahasiswi yang sedang berada dalam proses belajar di kehidupan nyata. Untuk melakukan beberapa penelitian yang mungkin bisa di angkat, dan menginspirasi tugas akhir mereka nantinya.


Mereka tidak hanya berlatih bersosialisasi dengan warga setempat, bahkan dengan teman satu angkatan pun. Mereka wajib berbaur. Di sini kadang muncul cinta lokasi antar sesama mahasiswa, sebab mereka berada dari beberapa jurusan berbeda. Wajar saja, ada yang baru saling kenal. Tetapi tidak dengan Inge. Walau mahasiswa baru, tapi ia sudah curi start kenal dengan Dirga.

__ADS_1


Berto yang pagi itu mengantar Inge ke desa tersebut, dan benar saja. Ia adalah peserta KKN susulan. Yang telat datang, tapi terlihat spesial. Sebab di antar langsung oleh dosen pembimbing.


"Dirga ... Kamu Dirga kan. Titip Inge yak. Tolong di bantu dan buat satu kelompom saja dengan tim kalian." Ini perintah langsung dari Berto Dospem di kelompom Dirga.


"Mampus aku" Batin Dirga berontak.


"Kamu siapanya Pak Berto?" Cintya ketua kelompoknya Dirga langsung kepo pada Inge. Tepat setelah punggung Berto sudah jauh dan masuk ke mobilnya.


"Keponakannya." Jawab Inge santai.


"Jumlah kami dalam kelompok ini 8. Kalo tambah kamu, jadi 9. Dan itu kelebihan. Mending kamu pindah kelompok deh." Sepertinya Cintya tak suka Inge.


"Loe gak denger tadi Om Berto dah nitip gue sama Dirga. Kalo gue pindah kelompok, kami harus tetep satu paket." Inge bar-bar kan. Mana dia perduli dengan Cintya yang bukan siapa-siapanya itu.


"Emang ... Dirga siapamu?"Cintya penasaran donk. Sudah berupaya keras membuat daftar agar dia bisa satu kelompok dengan Dirga. Pria idola kampus yang juga jadi targetnta di masa KKN ini.


"Pacar gue ... Kenapa?" tantang Inge membuat hati Cintya agak rusak.


"Heh ... Cewek Gilak. Hati-hati kalo bicara. Sesuai fakta donk." Gusar Dirga, saat mendengar pengakuan Inge pada ketua kelompoknya.


"Heeey ... Jangan bilang gue cewek gila donk. Nanti malah kamu lhoo yang tergila-gila sama gue. Cup." Pipi kiri Dirga sudah di kecup saja oleh Inge, dengan cueknya.


Memberi tatapan kagum para kaum Adam yang satu kelompok dengan mereka. Belum seminggu loooh, eh si Dirga udah dapat ciuman di pipi saja. Oleh anak baru. Gimana dua bulan.


"Ciiieee yang pesonanya kemana-mana. Belom apa-apa aja udah ternoda tuh pipi. Hati-hati ... Pulang KKN. Skripsimu gak goal, malah perjaka mu yang ilang. Wkwkwkwkk." Teman-teman Dirga sudah menertawakan nasib Dirga yang sudah di perlalukan semena-mena oleh Inge.


"Sudah ku bilang dia cewek gilak." Gerutu Dirga, yang segera berlalu meninggalkan beberapa teman yang terlihat masih mengelompok.


"Dasar cewek gatal." Dengus Cintya yang tidak bisa menahan rasa emosi yang tiba-tiba muncul di hatinya.


Haloo ... Apa kabar hatinya, yang sudah ekian lama mengincar Dirga, tapi saat ada kesempatan dekat. Udah di sosor orang aja. Asing lagi.


Ngajak gelut?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2