
Entah Dirga serius atau tidak, soal ingin menjual organ di tubuhnya. Demi kesembuhan sang ibu. Yang pasti pada sore itu, ia sudah membubuhkan tanda tangannya pada kertas persetujuan, perihal operasi yang akan dilakukan pada sang ibu.
Dirga tidak mengerti. Apakah system rumah sakit mewah ini memang begitu, atau memang sudah menjadi aturannya. Bahwa ia hanya cukup memberi tanda tangan, maka semua proses penanganan segera di lakukan.
Ah, mungkin Dirga walau di saat sibuknya. Sempat saja melihat beberapa sinetron di stasiun TV tertentu, Yang kadang, pasien harus di keluarkan dari rumah sakit karena tak punya biaya. Atau, kadang pasien di biarkan mati dengan pelan-pelan. Tanpa usaha apapun, karena keluarga pasien memang tak mempunyai uang untuk proses lebih lanjut. Bahkan, tak sekali juga Dirga melihat. Banyak keluarga yang jatuh miskin, Sudah menjual asset ina inu, untuk mengalang dana, demi lancarnya proses pengobatan yang intensif. Karena itulah Dirga berencana menjual ginjalnya.
Tetapi, Dirga merasa pelayanan rumah sakit ini berbeda. Saat ia tinggal sang ibu ngobrol dengan dokter Niken. Segala sesuatunya di persiapkan dengan matang. Sepertinya, memang sudah di siapkan sebelumnya. Dan Dirga hanya menebak. Bisa jadi ini semua adalah kerjaan Pras, suami tante idolanya.
“Maaf, Om sibuk sekali hari ini.” Sapaan tanpa permisi itu terdengar dingin. Di depan ruang operasi yang lampunya masih kedap-kedip. Pertanda operasi sedang berjalan.
“Iya Om. Dirga paham.” Jawab Dirga tak tau harus berkata-kata.
“Istirahatlah, nanti Om yang akan menjaga ibumu.” Lanjut Pras, yang melihat tampang kuyu Dirga. Jelas dimatanya, Jika lelaki muda itu tidak mandi. Pakaiannya saja masih yang kemarin saja.
“Tidak Om. Biar Dirga di sini saja.” Tolak Dirga cepat.
“Niken … “ Sapa Pras pada Wanita yang mempesonakan Dirga sore tadi di ruang dokter.
“Mas Pras. Akhirnya bertemu juga.” Sapa dokter itu terdengar riang saat bertemu dengan Pras. Niken langsung menyalami tangan Pras, terlihat sangat santun.
“Wah … makin keren saja kamu dengan jas itu.” Puji Pras menepuk bahu Niken akrab.
“Biasa saja mas.” Jawab Niken tersipu setelah mendengar pujian dari Pras.
“Nah… itu istriku.” Pras menunjuk Mutia yang sedang berjalan menuju arah mereka Tengah berkumpul.
__ADS_1
“Hai mbak … akhirnya bisa berjumpa dengan mas Pras dan istri, perkenalkan saya Niken. Adik, temannya mas Pras, waktu SMA dulu …” Akrab Niken ramah usai menyalami dan memeluk Mutia dengan akrabnya.
Mutia menebar senyum penuh kehangatan pada wanita muda bernana Niken itu.
“Niken ini, adik yang punya rumah sakit ini, mama Rara.” Pras melanjutkan perkenalan Niken yang tidak lengkap.
“Gak gitu juga kali mas, perkenalannya.” Niken terlihat makin malu. Sangat jelas jika, Niken bukan tipe orang yang sombong.
Maka menyesallah Dirga tidak menuruti perintah Pras, yang menyuruhnya pulang untuk istirahat, Dirga makin merasa jika dia hanyalah remahan rengginang dalam kaleng khong guang. Hanya memiliki casing keren, namun isinya zonk. Miskin … miskin.
“Apa kabar …?” tanya Pras kemudian.
“Seperti yang mas lihat. Aku baik mas.” Jawabnya tanpa sempat merapatkan bibirnya, selalu lebar memamerkan kerapihan gigi putih bersihnya itu.
“Harusnya sih punya,mas. Kalo ada bapaknya.” Kekeh Niken menutup mulutnya dengan satu tangan, agak merah kulit pipinya, menahan rasa sedikit malu, sebab diusianya yang sudah lewat dari kepala tiga itu. Ia memang masih sendiri alias jomblo.
“Kamu terlalu serius sekolah, sampai lupa cari jodoh.” Ucap Pras dengan nada datarnya.
“Bukannya jodoh itu bisa datang sendiri ya …? Hihihiiii…” Niken menertawai dirinya sendiri.
“Hmm … iya juga sih, dulu mas dengan Mbak mu, Mutiara ini juga. Gak pakai lama. Kenal, cocok nikah deh.” Sekilas, bayangan pertemuan pertamanya dengan Mutia pun terbayang.
Sama dengan Mutia, yang saat itu Bagai terhipnotis. Iseng ingin menggoda Pras, yang akhirnya serius jadi suami dalam waktu hanya satu bulan. Tanpa pikir panjang, tanpa ragu, juga tanpa pertimbangan akan bagaimana perasaanya pada Pras. Dia nekat saja menerima lamaran Pras.
“Maunya begitu.” Ucapnya lucu, setengah manja pada Pras.
__ADS_1
“Nah … itu tuh. Pemuda lajang, mungkin bisa diajak berumah tangga.” Tunjuk Pras asal pada Dirga.
“Dek Dirga …? Ah, dia masih bocil, Mas.” Kekeh Niken seolah mengejek Dirga.
Hati Dirga bagai di sengat kumbang, Cukup Mutia menjulukinya tengil. Masa dokter cantik ini pun menyebutnya bocil juga, Belum tau dia, kalo deket sama Dirga, dia yang akan di buat ngelahirin bocil beneran.
“Kalian sudah kenal ?” tanya Pras. Mutia masih diam. Masih kagok melihat Pras yang banyak bicara di hadapannya, pada seorang Wanita pulak.
“Ya … kenal gitu deh, kan dia nak pasienku.” Jawab Niken dengan lembut.
“Dan kamu lupa atau tidak tau. Jika pasienmu itu, adalah istrinya Darwis, teman mas mu juga.” Lanjt Pras menjelaskan.
“Oh … itu kak Larsih. Astaga … mereka pacarana sejak putih abu-abu dan akhirnya menikah juga?” Niken terperanggah. Ternyata ia bertemu dengan orang-orang di masa lalu kakaknya. Usia nya memang jauh dari Pras dan masnya itu. 13 tahun bedanya dengan sang kakak. Mungkin dia adalah hasil perbuatan kedua orang tua yang saat ngadon lupa di angkat, sehingga jadi anak di usia yang sudah tidak muda lagi. Sehingga waktu Pras SMA, ia kerap menjadi sasaran keusilan teman kakaknya, karena ia yang paling bontot dan masih sangat lucu untuk di ganggu.
“Iya … cinta mereka kadung kuat. Sehingga cepet nikah, dan tuh liat, anaknya udah hamper seusiamu.” Kekeh Pras menunjuk Dirga.
“Ga seumurann juga kali. Aku sudah kepala tiga Mas. Udah tua ini.” Urainya sambal melirik kea rah Dirga yang sedang tidak tau harus berekspresi bagaimana menghadapi situasi ini.
Mau tebar pesona, tapi belom mandi. Mau, sok-sok an, menampakkan ketampanan. Tapi tadi udah ngaco aja mau jual ginjal. Malju dank, malu ah, malu yaaah.
“Eh … mas sama Mutiara itu bedanya jauh juga look. Usia hanya angka, Niken.” Mungkin di masa lalunya, Pras memang secomel itu, atau memang Mutia yang tidak kenal tabiet suaminya. Seperti malam itu. Lagi-lagi Mutia merasa menemukan Pras yang baru. Bukan Pras yang ia kenal 17 tahun yang lalu.
Lampu emergency di depan pintu mati, tidak lagi bernayala oren. Pertanda operasi itu sudah berakhir. Dengan harap-harapo cemas. Tentu Dirga adalah orang paling resah diantara mereka. Harus terima kenyataan berhasil atau tidaknya proses pemasangan ring tersebut. Belum lagi, pikiranya yang kacau soal pembiayaan setelah operasi ini berlangsung.
Bersambung …
__ADS_1