
Hai readers ... maaf selalu bolong update.
Ga terniat sebenarnya, beberapa minggu lalu memang ada musibah, anggota keluarga ada yang meninggal.
Eh, keterusan absen, karena ada kegiatan penunjang karier di dunia nyata juga.
Jadi ... mohon dimaafkan.
***
Hanya jantung Larsih yang sakit. Tapi tidak dengan ingatannya. Ia masih sangat ingat betul bagaimana putranya dan istri sahabatnya itu berpelukan, saat ia pura-pura tidur di rumah sakit sebelumnya.
Rasa malu, takut dan tak nyaman tentu menjalar di hati sang ibu. Tatkala putra sulung kebanggaannya, bertingkah luwes memeluk seorang wanita yang bahkan layak menjadi ibunya.
"Maaf bu, Dirga tidak punya pilihan kecuali menurut pada Om Pras." Jawab Dirga lesu. Sungguh iapun tidak mau berhutang budi juga dana pada seorang Pras, yang notabene suami kekasih hatinya. Tetapi ia tak mampu,
"Jujur sama ibu, kamu punya hubungan apa dengan istri Pras?" Suara Larsih di buat setegas mungkin, agar anaknya tahu, jika dia sedang tidak bercanda.
"Tidak ada bu, Dirga hanya sebatas mengenal tante Mutia dengan baik. itu saja." Bohong Dirga.
Larsih memegang jantungnya. Walau hatinya tak percaya, tapi ia memilih percaya pada Dirga.
"Dirga, kita memang orang tak mampu. Tapi jual diri itu sangat tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun. Untuk itu, ibu mohon padamu. Jika kamu bohong pada ibu. Ada Allah yang lebih tau, apa sesungguhnya yang kamu perbuat, tanpa sepengatahuan ibu." Suara Larsih melemah. Ia sungguh terbeban akan hubungan putra sulungnya tersebut. Bagaimanapun, insting seorang ibu memang kuat. Dan setelahnya, kondisi ibu Dirga menurun.
Secepat kilat Dirga melakukan panggilan pada tim medis, untuk mengetahui keadaan terbaru sang ibu. Pikiran Dirga sungguh kacau.
Merasa bersalah telah membohongi ibunya, jugha malu akan ketiadaberdayaannya, saat melihat sang ibu terkulai lemah. ingin berteriak, untuk apa. ingin bersungutpun tidak berguna. berlalri ke mushollapun, Dirga merasa dirinya sangat hina dan papa.
"Ibu drop, tante." chat Dirga yang tidak tau berbagi beban pada siapa selain pada Mutia. Ia tak punya dana untuk mengobati ibunya sendiri. Semi jual diripun dilakukannya. lalu, pantaskah ia menginjakkan kakinya ke tempat suci, untuk sekedar duduk di atas sajadah, sedamgkan ia merasa sudah ban yak dosa yang ia lakukan bahwan dalam keadaan sadar.
Tidak ada balasan dari Mutia. Hanya di read, centang dua berwarna biru, Artinya pesan itu sudah terbaca, hanya memang sengaja tidak di balas oleh Mutia.
__ADS_1
"Keluarga pasien Larsih ..." suara lembut seorang wanita menyapa Dirga yang dari tadi momdar mandir di depan pintu ruang rawat bu Larsih.
"Iya ..." Jawab Dirga menatap asal suara.
"Bisa ikut saya ke ruangan." Pinmyanya dengan lembut.
Untuk beberapa detik, Dirga di buat susah bernafas. Menatap takjub dengan makhluk cantik yang mengajaknya menuju ruanganmya. Jas putih yang ia kenakan, tentu jelas menunjukkan profesi wanita yang tidak tua namun juga tidak bisa di katakann belia.
"I ... Iya. Siap dokter Niken." Niken. untaian aksara itu yang sempat dirapal oleh Dirga pada sisi kanan jas putih wanita cantik itu/
Tik
Tok
Tik
Tok
Dirga berjalan mengikutinya, persis tiga langkah di belakang wanita yang tubuhnya proporsional, kulit sawo matangh, ramput hitam tergerai, juga wangi. Tentyu saj aitu wangi parfum mahal. Entahlah, spesies wanita macam ini, apa kentu tnya juga sewangi parfum ya.,,. sebab liat dia kibas rambut saja wanginya makin menjdai-jadi. Semerbak.
"Anda siapanya?" tanya dokter itu sembari menunjuk kursi di depan mejanya untuk mempersilahkan Dirga duduk.
"Saya anak bu Larsih, dokter." Jawab Dirga yang sudah berhasil menyatukan nyawa, pikiran dengan tubuhnya. Yang sempat terberai akibat pesona dokter cantik itu.
“Maaf, bapak ada? Maksud saya suami pasien…” Jelas dokter itu, masih dengan suara yang sangat amat lembut dan pelan.
“Bapak sudah meninggal, dokter.” Jawab Dirga.
“Ups … Maaf. Jadi memang anda yang bertanggung jawab untuk penanganan pasien?” tanya dokter itu menatap Dirga.
“Dirga, dokter. Nama saya Dirga, bukan anda.” Ah, Dirga masih sempat saja memeprkenalkan diri, di saat yang tidak di pinta.
__ADS_1
“Oh … iya maaf. Jadi Pak Dirga yang bertanggung jawab sepenuhnya ya?” tanyanya lagi.
“Gak… panggil Pak juga dokter. Kesannya say atua banget.” Dirga kambuh cengngegesanya.
“Oh … iya, Dek Dirga. No debat !!!”
“Saya hanya ingin memastikan, jika dek Dirga yang bersedia menandatangani surat persetujuan, operasi pemasangan ring pada jantung pasien. Dan ini sifatnya emergency. Tidak dapat di tunda lagi. Sebab akan membahayakan kondisi beliau.” Kali ini, dokter Niken agak kehilangan kelembutannya. Merasa jika lawan bicaranya mulai tidak serius dengan maksud pembicaraan mereka.
“Iya … dokter. Berkas mana yang harus saya tanda tangani. Juga tolong siapkan peralatan, atau pemeriksaan untuk saya juga.” Jawab Dirga dengan ekspresi berubah agak masam.
“Dek Dirga sakit juga?” tanya Niken serius. Menatap intens kea rah Dirga yang ia lihat baik-baik saja.
“Pemeriksaan itu dilakukan tidak hanya untuk yang sakit kan, dokter?” tanya Dirga pada Niken.
“Iya … pemeriksaan Kesehatan sebaiknya dilakukan secara berkala. Untuk meminimalkan sakit penyakit yang mungkin di idap. Dari gejala ringan, hingga menjadi parah. Akan susah sembuh jika sudah di fase itu.” Niken menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
Dirga mengangguk-angguk setuju.
“Dek Dirga ada keluhan apa?” Naluri seorang dokternya pun segera meluap. Juga agak penasaran, melihat kondisi Dirga yang tampak sehat walafiat itu.
“Keluhan say aini miskin dokter. Dan untuk mensukseskan kesembuhan ibu saya, melalui jalur operasi itu. Tentu akan memakan uang yang sangat banyak. Dan, semuanya pasti bisa teratasi, jika saya menjual salah satu organ saya. Mungkin satu ginjal saya, bisa membuat ibu sembuh. Dan juga tidak membuat saya cepat mati, saat menjalani hidup dengan satu ginjal.” Entahlah apakah Dirga, sebelum bicara itu sudah berpikir dengan otaknya. Atau hanya dengan dengkulnya saja.
“Bercanda kamu …” tangkis Niken setelah mengurut dadanya sendiri.
“Apa saya terlihat sangat lucu atau sudah setara dengan para pelakon stand up comedy, dokter?” Dirga bertanya dengan nada penuh percaya diri.
“Bisa obrolan ini lebih berfaedah? Ini gak penting sekali.” Niken menggeleng-geleng kepalanya. “Jual ginjal kok sudah kaya mau jual gorengan saja.” Suaranya kecil, berharap tidak terdengar oleh Dirga.
“Mengapa dokter bingung? Ginjal saya akan berfaedah lhoo. Kalo untuk membantu menyembuhkan ibu. Ketimbang untuk beli ponsel apel tergigit doang. Itu baru unfaedah.” Lagi-lagi Dirga ngobrol makin absurd.
Mungkin Dirga memang sedang dalam pikiran yang tidak baik-baik saja. Sehingga ia benar-benar sedang kehilangan akal sehatnya.
__ADS_1
Bersambung…