
Mutia tidak tersinggung dengan semua yang kakak perempuannya sampaikan. Sebab semuanya benar. Tidak mungkin Dirga bertahta indah dalam hatinya tanpa ijin, dan tetiba parkir bebas aja disana. Kalau bukan karena dirinya sendiri yang memberi akses. Sejak awal juga sebenarnya Mutia tidak terniat untuk selingkuh. Beda jauh dengan teman-temannya yang menganggap selingkuh itu seperti makanan lezat yang sayang untuk tidak dicicipi. Dan benar saja, pergaulan memang dapat merusak tatanan prilaku sesrorang.
Pertemuan Mutia dengan para saudaranya yang masih di jalur bersih dan benar mungkin sedikit terlambat. Karena bagaimanapun Mutia sudah main hati dengan Dirga. Tetapi sulit pula di salahkan. Mengapa Mutia bisa sebaper itu. Semua tak lepas dari prilaku Dirga yang hingga kini tak jelas apa maksudnya begitu menginginkan Mutia.
Jika Dirga ingin memanfaatkan Mutia dari segi keuangan. Tetapi mengapa selama mereka dekat Dirga tak pernah sekali pun menikmati uang Mutia. Yang artinya, Dirga tidak sedang ingin jual diri demi uang, pada Mutia. Tetapi, jika ia sungguh tulus menyukai Mutia. Apa manfaat untuknya. Untuk seorang Dirga yang baru berusia dua pulu dua. Itu cukup aneh harus stuck pada wanita empat puluh tahun, sudah bersuami dan punya anak dua.
“Maaf … jika aku tidak suka dengan jalan yang kamu pilih untuk mengatasi rasa bosanmu dengan alur rumah tanggamu. Sebab banyak cara untuk bahagia selain dengan jalan berselingkuh. Seindah-indahnya kebersamaanmu dengan Dirga, percayalah. Tak seindah segala sesuatu yang pernah Pras berikan untukmu. Jika kamu membandingkan Dirga dan Pras dari segi tampilan, Dirga tentu menang banyak. Aku mengakui, anak itu tampannya kemana-mana. Jika kamu bilang dia manis, karena dia adalah lawan bicara yang imbang. Itu adalah tabiat lahiriah. Sama seperti Pras yang memang dari dalam kandungan ibunya memang sudah seperti itu.” Alifa bicara panjang dan pelan, ingin berusaha menarik kembali sang adik ke jalan yang benar.
“Aku sudah sering memikirkan hal itu. Sebelum kami menjalani hubungan konyol ini. Tetapi Dirga selalu menang, dan Mas Pras selalu kurang di mataku.” Jujur Mutia berkata dengan mata sembab. Dengan ekspresi itu. Alifa yakin, jika Pras masih ada dalam hati adiknya. Mutia tidak sedang serius, menggilai brondong itu.
“Kamu mau di Rukiyah, Mut? Sebab … Dirga mu itu, tampilannya saja manusia. Aslinya setan.” Uwaaaau, Alifa begitu keras kali ini.
“Hah …?” Mutia terperangah mendengar kaliamat yang baru saja sampai di kupingnya.
“Segala seuatu yang manis itu, kerjaannya setan. Kisah klaisk lah itu. Persis seperti manisnya buah yang sudah di larang untuk di makan, tetapi akhirnya tetap di petik oleh Hawa dan berakhir dosa. Semua terjadi sesuai versinya masing-masing.” Alifa mengilustrasikan pada Mutia.
__ADS_1
“Hmm … terima kasih sudah mengingatkan.” Hanya itu jawaban Mutia untuk merespon segala petuah dari sang kakak. Entah seberapa kuat Mutia bertahan dalam rasa selanjutnya tanpa Dirga.
Dan dalam kebersamaannya dengan saudaranya. Yang pasti hingga liburan itu hampir usai. Dan Pras sudah terlihat tampak lagi di kota mertuanya. Ponsel Mutia tidak pernah hidup. Cukup mudah bukan untuk sungguh-sungguh putus dari si brondong, kekasih virtualnya Mutia itu.
“Kenapa ponselmu tidak pernah aktif, mama Ra-ra?” tanya Pras ketika mereka di dalam kamar hanya berdua saja. Saat Pras baru tiba di malam hari, karena menggunakan pesawat sore. Sebab, Pras juga penasaran setelah ia kembali ke kota mereka. Indah bilang ponsel istrinya tak pernah aktif.
“Biar fokus liburan sama anak-anak saja.” Jawab Mutia pendek. Tidak seperti biasanya yang selalu panjang dan lebar. Itu di sebabkan karena suasana hatinya yang sungguh sedang di landa rindu parah dengan Dirga yang dalam batin Mutia, pasti sedang di landa galau sedunia, akibat terputusnya akses akan kabar berita darinya. Menurut Mutia aja sih, gak tau aslinya gimana.
“Setidaknya … sesekali berkabarlah.” Lanjut Pras lagi.
“Ya … walau kadang lewat Indah. Setidaknya jika kadang mama mengirim chat, tetap aku baca.” Jawab Pras mulai bisa membela diri.
“Di read saja gak di bales itu, hanya bikin luka tapi gak berdarah Mas. Perinya sama. Aku kayak orang cinta sendiri. Tapi yang di harapkan gak ngerespon.” Mutia memang sudah sangat berniat ingin terus menunjukkan isi hatinya pada sang suami.
“Udah … jangan kayak ABG baru jatuh cinta. Ngapain chatting kalo isinya hanya gombal. Yang penting selama ini aku gak pernah macem-macem dengan wanita lain.” Pras langsung merengkuh tubuh Mutia, menenggelamkan kepala istrinya di depan dadanya, Pras hanya pendiam, tapi juga punya rasa rindu pada wanitanya yang sudah berhari-hari tak bersamanya. Untuk itu saat weekend ia segera menyusul anak dan istrinya lagi.
__ADS_1
Mutia kena mental. ‘yang penting selama ini aku gak pernah macem-macem dengan wanita lain’ Apa kabar hati Mutia yang sudah pernah oleng. Terlampau terbuai dengan rayuan gombal brondong ketceh itu. Mutia menangis di dada Pras. Ia merasa bersalah dengan suaminya. Ia mengaku terlalu baper oleh tingkah Dirga padanya.
Namun, tangisan dalam diamnya Mutia itu dapat di rasakan oleh Pras. Ia mengira, jika Mutia sungguh sangat tersiksa oleh sikapnya selama ini. Pras tau ia bukan pria romantis, yang selalu melimpahkan istrinya dengan segala kejutan manis, obrolan hangat dan hadiah-hadiah mewah. Tapi, itulah gaya Pras yang selalu mendatar. Butuh waktu baginya untuk berproses merubah semuanya.
“Maaf …” Ucap Pras sambil mengelus pucuk kepala Mutia yang masih terbenam di dadanya. Dengan gerakkan pelan Mutia menggelang. Yang Pras kira Mutia tidak memaafkannya.
“Sejak kita baru kenalpun, aku memang begini. Kita memutuskan menikahpun tanpa ada kata kiasan cinta yang berlebihan. Saat itu kita hanya saling sepakat untuk selalu sama-sama. Dan maaf, hingga sekarang aku tetap begitu. Apa aku harus berubah?” Pras mengakui ia bukan tipe pria yang sering menghamburkan kata cinta pada Mutia sejak jadi pacar hingga jadi istri.
Mutia menggeleng, masih dalam dada suaminya.
“Aku tidak tau caranya untuk berubah, dan harus seperti apa. Namun, jika berubahpun, aku tentu perlu waktu untuk keluar dari sesuatu yang sudah jadi kebiasaanku.” Rupanya Pras pun ingin menjadi sepeti yang Mutia inginkan, tetapi tak tau. Perubahan seperti apa yang istrinya inginkan. Bukankah selama tujuh belas tahun ini, mereka baik-baik saja.
“Tidak Mas. Tidak ada yang perlu mas rubah.” Jawab Mutia pelan.
“Tapi aku tidak suka kamu sedih. Aku tidak mau melihat ada airmata keluar olehku.” Haaah… siapa bilang Pras tidak peka. Ia hanya tak pandai mengungkapkan tafsirannya. Sayang Pras tidak tau,jika airmata itu bukan karena dia, tapi karena Dirga.
__ADS_1
Bersambung …