
"Juanda ...?" Larsih merasa sangat familiar dengan nama itu. Walaupun sudah sangat lama. Tapi ia masih ingat. Jika dulu pernah akrab dengan orang bernama demikian.
"Iya ... mbak. Mas Juanda Sutekno. Teman mbak SMA dulu. Sama dengan Mas Pras juga." Ujarnya mendekat seolah akrab.
"Maaf ... dokter ini siapa?" Larsih sudah ingat dan dapat mebayangkan wajah Juanda. Tapi untuk wanita cantik berjas putih ini, ia tidak dapat mengenalinya sama sekali.
"Mbak... saya Niken. Adik Mas Juanda." Niken mengulurkan tangannya untuk berjabat tangann.
"Masya Allah. Kamu bocah centil minul minul itu? si tunggal bontot?" Larsih membelalakan matanya sempurna. Tidak mengira, jika lawan bicaranya adalah bocah kecil yang sering di buat menangis oleh kakak - kakaknya. Tiap mereka berkumpul di rumah Juanda. Dan memang benar, alm Darwis dulu memang kerap kali mengusili bocah itu. Sebab ia memang sangat caper, jika teman kakaknya datang. Ia selalu suka pamer maiananya, lalu menangis jika mainan tersebut di rebut atau di sembunyikan oleh para remaja laki-laki itu.
"Iya, mbak. Benar sekali. Itu saya." Kekehnya memeluk larsih, seolah rindu.
"Tidak mengira bisa jumpa denganmu. Wallah... kamju sudah jadi orang hebat sekarang. Bisa manjangin umur mbak." Larsih mengusap lengan Niken dengan peenuh rasa bangga.
"Biasa aja mbak. Tuhan yang ijinkan mbak di rawat di sini, saya hanya kebetulan yang di gunakan Tuhan." Jawabb Niken sangat rendah hati.
"Apa kabar Mas Mu?" tanya Larsih penasaran akan kabar sahabat suaminya tersebut.
"Mas Juanda, sedang cuti. menghadiri wisuda putrinya di luar negeri." Jawabnya singkat. Sementara para perawat sudah ia berikan kode untuk melanjutkan tugas tanpa dia.
"Ya ... gak heran. waong kalian memang kaya sejak dala kandungan tho. Yo beda dengan kami, orang biasa. Tamat SMA aja udah sokoor." Lanjut Larsih tanpa malu.
"Ih ... jangan begitu mbak. Kita sama saja." lanjut Niken merapikan anak rmbut Larsih yang tak beraturan.
"Lah ... kalo anaknya uanda sudah wisuda. Anakmu piye? Udah berapa, kelas berapa?' cecar Larsih sok akrab. Merasa jika lawan bicaranya bukan oranbg yang pelit dalam hal memberi informasi.
"Huum... pertanyaan yang sama. Seperti Mas Pras kemarin di depan ruang operasi. Saya belum punya nanak mbak. gak ada bapaknya ... hihihiii ..." tanpa malu, Niken nyengir kuda mengakui kejombloannya.
__ADS_1
"Ah ... moso. Ayu gini kok blom nikah tho? Ketinggian sekolahmu... jadi laki-laki keder duluan." Jawab Larsih asal-asalan.
"ya gimana donk mbak. Udah cita-cita." jawabnya gemes dengan Larsih yang sudah seperti saudara sendiri.
"Iya juga sih. Ya udah kalo bingung, tuh. Sama anak lanang mbak saja. Tapi ... ya ga sepadan sih sama kamju yang sudah sukses dan cantik ini. Anak mbk masih bau kencur." Entah itu promosi atau penghinaan untuk anaknya sendiri.
"Ha ... ha ... kemarin Mas Ptras juga nawarin dek Dirga, Mbak" kekeh Niken sambil menatap Dirga yang tidak siap di promosikan oleh ibunya, bahkan di depan oranbg yang bersangkutan.
"Dek Dirga ...?" ulang Larsih agak bingung. dengan panggilan Niken pada anak sulungnya itu.
"Iya ... kemarin dia bilang usiaya lebih muda dari saya, di panggil Pak Dirga. Tidak mau, ya saya panggil adek saja. Kan saya lebih tua dari dia, mbak" Jelas Niken panjang kali lebar.
"Permisi .. dokter kita harus visite ke pasien selanjutnya." Seorang perawat masuk ruang rawat Larsih. Sebab sejak tadi mereka agak kesusahan menunggu Nikentemun kangen dengan ibunya Dirga.
"Oh iya. Maaf mbak. Nanti lepas dinas saya ke sini lagi. Kalau mau keluar hari iji. Bisa saya buatkan rekomendasi dan resep obat jalannya." Ujar Niken agak terburu-buru.
"Ibu kenapa sih, nawarin Dirga kayak pisang goreng sama dokter itu." Dengan nada suara di buat agak marah, Dirga mendekati sang ibu.
"Dirga sudah bilang, aku dan tante Mutia tidak ada apa-apa." Dirga terus saja membantah.
"Berani sumpah?" tantangnya dengan suara lantang menghadap Dirga.
“Wah … yang sudah sehat. Ngobrolnya semangat sekali.” Tiba-tiba Pras dan Mutia sudah di ambang pintu. Entah, apa yang di bicarakan ibu dan anak tadi, sempat di dengar mereka atau tidak.
“Pras … terima kasih banyak untuk semuanya. Masalah biaya, nanti aku cicil ya. Ini semua pasti mahal.” Larsih segera melupakan obrolannya bersama Dirga.
“Sudahlah. Jangan mengungkit soal biaya. Rumah sakit ini milik Juanda, kita banyak dapat diskonm kok. Tenang saja, tidak akan mebuatku langsung bangkrut.” Jawab Pras santai.
__ADS_1
“Mbak Mutia, maaf. Saya banyak merepotkan kalian.” Lanjut Larsih pada Mutia.
“Jangan di pikirkan mbak. Yang bpenting mbak sehat. Selanjutnhya jaga Kesehatan supaya tidak kambuh lagi.” Jawab Mutia lebih tenang dari Pras. Sementara ponsel di tanganya sudah bergetar. Sebab si brondong itu sudah mengirim chat padanya.
“Ayank sempat dengar tadi aku dan ibu bicara apa?” Chat Dirga yang ebenarnya takut. Obrolan terakhirnya di dengar Pras.
“Tidak. Kami benar baru tiba, dan mas Pras sengaja tidak mengetuk, sebab yakin pintu itu tidak terkunci.” Balas Mutia dengan cepat.
“Oh syukurlah.” Balasnya cepat.
“Memangnya bicara soal apa?” penasaran Mutia.
“Mau tau banget?” Dirga berusaha menggoda Mutia
“Ga, biasa aja.” Balas Mutia singkat.
“Huh … mau tay banget donk. Soal kita, ayank.” Balas Dirga yang masih suka mengunakan panggilan itu saat mereka berchat ria,
“Bodo …!” Balas Mutia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Pertanda apapun lanjutan pertanyaan Dirga, ia tidak lagi meladeni.
“Pras … tenyata ini Rumah Sakit milik Juanda. Huh .. kalian sudah menjadi oranbg hebat semjua, berbeda dengan kami yang memilih menikah muda.” Seolah menyesal Larsih setengah curhat pada Pras.
“Sudah terjadi, jangan di bahas lagi.” Singkat dan datar, Pras sudah Kembali kee sifat aslinya.
“Dan ternyata Niken yang dulu bocah, gemesin. Eh … sudah jadi dokter saja. Ahli jantung lagi. Hebat sekali.” Celetuknhya tak mengharap untuk di jawab.
“Maaf mbak. Tadi kami mampir ke bagian perawat. Sepertinyta mbak sudah di ijinkan pulang hari ini. Tetapi, jika mau nambah hari, agar keadaan semakin fit pun boleh.” Mutia mewakili suaminya untuk menyampaikan hal yang perawat sampaikan.
__ADS_1
“Dengan senang hati jika boleh pulang hari ini, tapi untuk pulang langsung ke desa, sepertinya akan kesorean tiba di sana.” Ucap ibu Dirga menimbang-nimbang.
Bersambung …