PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 50 : GAIA SALON


__ADS_3

Sepantasnya suami istri itu, memang mestinya adalah di bumbui aroma cemburu. Apalagi dengan orang yang pernah hadir di masalalu. Tapi, Pras bukan termasuk dalam golongan itu. Ia terlalu yakin dengan hati Mutia.


“Buang energy saja cemburu dengan mantan kamu itu, Mama Ra-Ra.” Jawab Pras penuh percaya diri. Saat mereka masih duduk dengan tenang pada acara pesta yang cukup meriah.


" Huum ... Kamu memang bukan Dirga, Mas. Si tengil itu. Baru mendengar nama Dino saja, sudah mau ngamuk. Apalagi liat orangnya langsung kayak Mas Pras." Mutia bermonolog dalam hatinya sendiri. Lelah hatinya membandingkan antara suami dan brondongnya. Padahal bukan perkara mereka berbeda, tetapi sekarang Mutia sedang berada dalam titik jenuh dengan hubungannya dan suami. Yang dipicu oleh hadirnya Dirga.


[Tante sampai kapan di Bali ... ?] selalu ada obrolan ringan yang di ciptakan Dirga disela kesibukan Mutia bersama teman atau suaminya.


[Mungkin lusa udah pulang.] Balas Mutia cepat.


[Mungkin gak ya ... Nanti. Tante main ke Desa tempat Dirga KKN.] Huh. Mutia di anggap Dirga siapa sih sebenarnya?


[Ya jelas gak mungkin lah, Ga. Halu ah.]


[Bukan halu, yank. Tapi ngarep. Pake banget.] Balas Dirga bagai orang yang sedang gabut akut.


[Kalo tante ke situ. Kamu kapan tebar pesonanya. Ntar gak ada yang mau lhoo sama kamu.] Mutia melipat bibirnya. Menahan rasa malu bercampur senang bisa terus berinteraksi dengan kekasih hatinya.


[Sorry ya tebar pesona. Aku dah punya pacar lhoo] Balas Dirga penuh percaya diri.


[Oh ya .... Kenalin ke tante donk.] Mutia membalas candaan Dirga.


[Ngapain kenalan. Kan pacar Dirga itu tante.]


[Huuuus .... Jangan serius. Tante istri orang lho.] Mutia mengingatkan.

__ADS_1


[Nasib ... Nasib. Telat lahir sih akunya.] Dirga mengakui sendiri jika Mutia lah kekasih yang di akuinya. Juga seolah kesal sebab tak bisa memiliki sang tante. Makin parah saja.


Mutia bagai memiliki dunia lain sekarang. Hanya asyik mengetik layar pipih di tangannya. Sedangkan Pras sejak tadi hanya diam, dan sesekali melirik aktivitas sang istri. Tanpa mau menegur atau bertanya. Apa gerangan urusan Mutia yang sejak tadi seolah tak kelar-kelar dengan benda mati yang dapat menghubungkannya dengan siapa dan di mana saja.


"Mas ... Sungguh tidak merasa cemburu dengan Dino?" ulang Mutia saat mereka kini sudah berada di kamar. Akan beristirahat. Sebab pesta telah usai.


"Apa manfaat dari rasa cemburu itu?" Pras bertanya balik.


"Memang unfaedah sih Mas. Tapi konon katanya, orang yang cemburu terhadap pasangannya ialah, mereka yang sungguh cinta, sayang dan sangat takut kehilangan pasangannya. Apalagi sama mantan, karena mantan adalah orang yang pernah dan lebih dahulu p singgah di hati seseorang." Seperti biasa, Mutia selalu berhasil memaparkan narasi yang tidak pendek.


"Kan cuma singgah. Tidak menetap." Liburan kali ini, ternyata cukup bermanfaat. Sehingga Pras lumayan bisa di ajak berinteraksi langsung tanpa perantara


"Iya siih ... Tapi dulu aku dan Dino cukup lama lho pacarannya, ketimbang kita yang hanya hitungan bulan langsung nikah." Pancing Mutia sungguh berharap Pras cemburu pada Dino.


"Penting lama pacaran tapi tidak menikah atau sebentar pacaran tapi langsung nikah?" Pras menatap dalam wajah istrinya.


"Kenapa ... Sekarang mau pacaran lagi sama mantan?" Pras meraih kepala Mutia, lalu mengecup puncak kepalanya.


"Hah ... Ya gak lah Mas. Ngapain pacaran sama mantan. Dia udah jadi sampah. Masa, aku mungut yang udah bekas." Mutia yakin, hatinya tak tertarik lagi pada Dino. Lelaki yang pernah mengecewakannya.


"Tuh ... Kan ngerti." Lanjut Pras mengeratkan pelukannya pada Mutia.


"Kita semua udah tua. Bukan jamannya untuk buang waktu untuk cemburu atau apapun. Radit tuuh yang sekarang udah mulai suka-sukaan sama lawan jenis." Lanjut Pras yang kemudian memejamkan mata, dan tidak menggubris pertanyaan Mutia tentang putra sulung mereka.


"Mas ... Mas. Ngapain juga aku ngarep Dino balik atau deket lagi sama aku. Kalo Dirga udah lebih dari segalanya untukku sekarang. Hanya ... Gak Good Rekening siih, ah brondong ku. Sedang apa dia sekarang?" Lagi. Mutia terjebak rindu pada Dirga, tepat saat ia berada dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


Mutia memilih luar kamar dan menghadap lurus ke atas tempat tidur yang di tempati oleh Pras. Mungkin saja sewaktu-waktu suaminya itu bangun. Maka kemungkinan kepergok dari belakang saat ngobrol via phone, akan kecil kemungkinannya.


Bermodal alat bantu dengar, hingga tengah malam Dirga dan Mutia bercengkrama. Kadang bertukar cerita, kadang menyanyi bersama, derai tawapun tak terelakkan dari keduanya. Sama, dengan suara yang di buat seminimal mungkin. Agar tidak mengganggu orang lain yang beradaa di dekat mereka.


Dan sesungguhnya. Pras tidak sedang tidur nyenyak. Ini bukan yang pertama bagi Pras, mendapati istrinya terlihat dan terdengar asyik bercanda dengan benda pipih yang kini makin akrab dan makin sering di tangannya.


Hanya Pras bukan tipe suami yang ingin ikut campur banyak dengan urusan orang lain, tak terkecuali istrinya.


Di mata Pras, Mutia tetaplah istri yang baik, hangat juga makin greget. Apalagi uruasn melayaninya di ranjang. Lalu apa alasan Pras curiga apalagi cemburu. Bukankah di setiap malamnya. Hanya dia satu-satunya pria yang sebelum tidur selalu memeluk istrinya. Dan selalu Pras yang menyelimuti Mutia saat wajah wanitanya terlihat lelah bekerja sepanjang hari.


Tak ada alasan bagi Pras untuk berprasangka buruk terhadap wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu.


"Mama Ra-Ra ... Bangun. Teleponmu berdering sejak tadi." Pras sudah lebih dahulu bangun dari Mutia.


Ya iyalah Mutia terlambat bangun. Setelah lama ngobrol dengan Dirga, tentu saja ia tak bisa langsung tidur. Butuh beberapa menit bahkan jam untuknya mencerna ulang sambil senyum, akan tiap obrolan manisnya bersama Dirga. Tak lupa nama 'dedeg' ia ganti dengan 'Gaia Salon'. Bertujuan sama dengan pelaku perslengkian di seluruh bumi. Agar kehidupan selalu aman dan sentausa. Meminimalisir kecurigaan pasangan, jika tiba-tiba melihat nama kontak yang sedang melakukan panggilan. Sama kan, Sinta jadi Sinto. Garam jadi gula, Jeni jadi Joko. Wajar saja Dirga jadi Gaia.


"Hallo ... Iya Ga. Ada apa?" Mutia dengan mata yang masih kalat, menerima panggilan dari Dirga. Sebab ponselnya sudah di sodorkan oleh suaminya.


"Ayank baru bangun?" kekeh suara segar di seberang gawai.


"Iya ... Salon gimana?" Walau mata Mutia hanya terbuka sebelah, tapi tidak dengan otaknya. Ia segera bersandiwara seolah yang menelpon adalah karyawan salonnya.


"Ada Om Pras ya ...?" Dirga tanggap dengan isi respon sang tante.


"Iya ... Besok mungkin ibuk baru bisa pulang Ga. Hari ini mau di ajak beli oleh-oleh dulu sama bapak." Ujar Mutia sambil melempar senyum pada suaminya. Yang tentu saja percaya jika yang menghubungi istrinya adalah karyawan di salonnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2