
Mutia memang tak pernah mendengar kata sanjungan, larangan, bantahan juga pernyataan cinta bertubi-tubi dari seorang Pras. Sehingga ia hanya mengira saja semua yang ia lakukan itu benar, menurut versinya. Dalam urusan apapun. Untuk perihal kadar cinta suaminya padanya, mungkin tipe Pras memang begitu. Tak pandai mengungkapkan perasaan. Tapi upaya nya untuk selalu menjadi suami yang mencukupi kebutuhan lahir dan batinnya, cukup lah untuknya. Menurut Mutia, mungkin itu adalah bentuk tanggung jawab dan rasa sayangnya pada sang istri dan anak-anak mereka, mungkin.
Sehingga walau dalam keremangan hati dan perasaan Pras yang terlihat abu-abu. Mutia sudah sangat berusaha mengerti dan memahami kekurangan suaminya tersebut. Memprmosikan jabatan suami melalui Nunuk, adalah salah satu usaha yang dapat ia lakukan, agar sang suami mendapatkan posisi terbaik di perusahaan yang sudah sejak puluhan tahun tempatnya mengabdi.
Mutia memang selalu bilang jika ia sayang pada Pras sebagai suaminya, dan tiap hari selalu belajar untuk mencintai pria yang bahkan sudah menjadi ayah dua anaknya. Padahal, dengan usahanya mempromokan jabatan untuk suaminya. Sudah bagian dari rasa yang lebih dari sayang pada Pras. Hanya Mutia tidak menyadari juga tak mengakuinya saja. Jika Pras adalah orang istimewa dalam hatinya.
Mobil yang Mutia kendarai bersama Cia, sudah singgah di depan ruko Salonnya. Salonnya itu tutup pukul 7 malam. Dan saat mereka tiba di depan, sudah hampir pukul 8 malam. Jadi suasana sudah sangat sepi, sebab karyawannya sudah menutup ruko tersebut. Tetapi, belum Mutia turun dari mbil. Matanya hampir keluar saat melihat lelaki yang mengaku sakit dan di antarkannya obat juga bubur siang tadi. Sudah terlihat berdiri di depan bangunan itu.
“Dirga …?” ucapnya dengan nada suara agak nyaring. Dengan kepala yang ia keluarkan sedikit melalui jendela yang ia buka.
“Kenapa ponsel tante mati ?” Dirga tidak menunggu nanti. Ia segera berjalan mendekati mobi Mutia, persis di dekat wajah Mutia yang tersundul keluar tadi.
“Hah … ?” Mutia pura-pura terkejut.
“Mungkin kehabisan daya.” Lanjut Mutia bohong.
“Aku masuk duluan ya, Mut.” Cia tak ingin turut campur. Memilih pamit masuk ke ruko yang sudah menjadi tempat tinggalnya adalah yang harus ia lakukan. Mungkin memang ada sesuatu yang penting antara tante dan brondongan itu.
__ADS_1
Mengangguk dan melempar senyum tipis pada Cia, tanpa di perintah Dirga sudah mengambil posisi di sebelah kemudi. Menggantikan Cia tadi.
“Kamu masih sakit Ga, kenapa keluar?” Mutia menempelkan dahinya pada kening Dirga. Dan itu masih terasa hangat, pasti pemuda tanggung itu belum sembuh benar.
“Iya … memang. Dan gua makin sakit saat ponsel tante mati.” Dirga bicara dengan suara datar.
Mutia menghidupkan mesin, membawa kendaraan roda empat itu untuk geser dari depan rukonya. Tak nyaman rasanya berlama-lama parkir di depan situ. Ada Cia di dalamnya yang pasti akan penasaran sedang apa dia dan Dirga berudaan dalam mobilnya.
“Emangnya ponsel tante harus on 24 jam?” Mutia melanjutkan obrolan itu, saat posisi mobil sudah di atas jalan raya. Tujuannya ialah kost Dirga. Ia merasa perlu mengantar brondng ini segera pulang dan istrirahat.
Mutia hanya diam. Tidak mau menjawab saran Dirga yang ia juga akan lakukan hal itu, jika daya ponselnya sungguh habis.
“Terakhir ponsel itu aktif. Setelah tante tanya ‘dia siapa’ dan ku balas ‘siapa’ … lalu ponsel tante off. Tante marah sama Aline. Tante curiga sama cewek yang ada di kamar kost Dirga … ya kaan?” Tanpa di minta Dirga sudah menjelaskan jika nama wanita muda, spek idaman itu adalah Aline. Mutia masih diam saja. Menunggu brondonnya itu melanjutkan ucapannya.
“Waktu tante call, Dirga di toilet. Lagi boker. Beneran gak tau di kamar ada siapa. Masa iya… Dirga harus keluar tuk cari tau ada siapa di depan pintu. Dan nemui tante yang tiba-tiba datang.” Ujarnya terdengar kesal.
“Tante pasti sudah mikir macam-macam kan soal Aline. Dia itu anak ibu kost, sudah terbiasa keluar masuk kamar Dirga, antarkan pakaian bersih. Ibu kost punya usaha loundry. Sekarang Dirga makin banyak tugas kan dan Job lancar, jadi pakaian Dirga sekarang di binatu saja.” Dirga terdengar masih ingin mejelaskan pada kekasih beda usianya itu. Dirga peka sekali, saat tau ponsel Mutia mati, setelah chatting saja, ia terlihat merasa perlu meluruskan dan menjelaskan sampai terang. Melakukan konfirmasi. Huh … dapat lagi kan perbedaannya dengan si Pras. Boro-boro menjelaskan sesuatu, ngomong aja jarang.
__ADS_1
“Tante ga percaya, kalo Aline anak ibu kost? Ayok kita ke sana kenalan.” Tantangnya berani. Membuat hati Mutia mendadak percaya saja dengan penjelasan kekasih gelapnya itu.
“Penting banget ya … tante kenalan sama dia. Kenapa?” Akhirnya Mutia bicara. Seolah hatinya baik-baik saja. Padahal, ia memang empat suudzon pada Dirga.
“Tante … itu pacar Dirga. Gueh gak cuma suka tante, tapi sayang juga. Gue gak mau tante salah kira. Bisa saja kan tante cemburu, sama Aline. Saat ingin jenguk pacar. Yang keluar malah cewek lain dalam kost ku.” Dirga cenayang yah, kok tau kalo tadi tante cembokur.
“Cemburu …? Kamu kejauhan mikirnya. Tadi itu siang Ga. Supir yang biasa jemput Raisa sedang ijin. Jadi tante harus cepat jemput dia dari sekolah. Lalu beda jam dengan Raditkan. Raisa tante antar ke rumah, lalu Radit kemudian. Tante ngurir banget sejak siang, sampe ga sempat lagi pegang ponsel. Sampai waktunya tante ngeGym, ponsel masih ada di dasboard dalam keadaan mati. Ini tuh ga ada hubungannya dengan cewek yang ada dalam kostmu.” Cihuuuuy … Mutia udah makin pintar mengarang cerita, demi menyelamatkan diri. Gengsi lah dia, jika ketahuan sempat cemburu dan insecure dengan si Aline tadi.
“Oh …. Syukurlah kalo tante ga salah sangka. Tan, Dirga serius sayang tante. Dirga udah nyaman sama tenate. Jadi Dirga gak mau kita salah sangka atau gimana. Pikiran Dirga gak bisa tenang.” Akunya jujur.
“Maaf ya, buat kamu overthingking.” Senyum Mutia terkembang dengan sedikit menleh pada wajah tanpan kekasih ketcehnya itu.
“Kita kemana? Ga jadi pulang ke kost?” tanya Dirga yang mengira akan di antar pulang oleh tante imutnya itu.
“Kita makan dulu. Biar pulang nanti kamu tinggal makan bat dan istirahat.” Tegas Mutia. Pacaran sama emak-emak ya gitu. Perhatiannya full, apalagi urusan memenuhi gizi bocah yang lagi sakit. Gak usah tanya gimana perasaannya, sembuh adalah target utamanya. Sehat ialah impiannya.
Bersambung …
__ADS_1