PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 13 : MASIH KUAT IMAN


__ADS_3

Sepintar pintar menyimpan bangkai, pasti tercium juga. Sama seperti pintarnya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga. Persis seperti hati Mutia yang sepertinya sudah On The Way ke kegoyahan yang haqiqih.


Awalnya Mutia bersikeras ingin cuek saja dengan gaya pergaulan Nunuk, Vinsha dan Shane yang salah. Ia mencoba untuk tetap bersyukur dengan keadaan rumah tangganya yang tak renggang juga tak begitu rapat. Baginya memiliki suami seperti Pras itu sudah cukup. Cukup membahagiakan dalam versinya sendiri. Pras yang tidak pernah terlambat memberinya nafkah lahir dan batin. Memiliki dua anak yang penurut dan juga hangat. Baginya itu adalah rumah tangga idaman semua orang.


Tetapi itu dulu. Saat ia menutup akses untuk orang lain. Tapi tidak dengan sekarang. Kini Mutia punya Dirga yang sangat over perhatian dengannya. Mutia dan Pras itu serumah, maka wajarlah mereka sangat jarang chatting, toh sepulang kerja mereka bisa berjumpa. Dan Mutia kadang seperti wartawan tanpa redaksi melempar beberapa pertanyaan tentang kegiatan sehari itu. Walau di jawab dengan tidak panjang dan lebar. Lebih mirip dengan soal mencongak saja, atau benar salah. Bukan jawaban essay yang membutuhkan narasi panjang juga bertele-tele.


Panggilan suara hanya terjadi, saat Pras tiba di luar kota. Jika sedang melakukan perjalanan bisnis. Itupun, jika Mutia saja yang menghubunginya terlebih dahulu. Saat sudah tiga haripun, kadang Mutia yang harus bertanya.


“Mas … kapan pulang?”


“Mungkin besok. Jadwalnya berubah.” Jawabnya pendek bahkan tanpa panggilan mamah, sayang atau apalah yang mencirikan rasa sayangnya pada sang istri.


“Mas ga kangen …?” pancing Mutia.


“Kangen.” Nada itu datar. Jika salah dengar, bisa-bisa seperti sebuah pertanyaan, yang mengherankan.


“Kenapa ga bilang, kalo kangen …?” rengek Mutia. Wajarlah, istri ingin merasa di rindukan oleh suaminya sendiri. Walau Cuma di gombalin, setidaknya bisa lah untuk modal mimpi saat tidur sendiri.


“Kalo ku bilang juga, ga bakalan bikin kamu muncul di sini.” Masih dengan nada plat. Iya, Pras itu suka aksi ketimbang narasi fiksi.

__ADS_1


“Heem .. ya udah deh. Sampai jumpa di rumah Mas.” Mutia kehilangan gairah. Bermaksud bisa ngobrol lama di pojokan kamar. Seperti kebiasaan suami teman-temannya yang lain. Tapi, yaah. Itulah rumah tangga Mutia.


Tapi sekarang Mutia punya alat pembanding. Dan parahnya Pras dan Dirga itu bagai langit dan bumi. Dari segi usia, Pras itu sudah kepala 5 sedangkan Dirga masih 22 tahun. Ya jelas beda donk. Pras itu pelit bicara, sedangkan Dirga hampir ga bisa berhenti bicara. Ga usak bahas soal ketampanan mereka. Sebab itu relatif. Pras mungkin juga pernah tampan di usia 22 tahunnya, seperti Dirga. Dan diusia itu Mutia belum kenal Pras. Tapi Radit, putra sulung mereka juga OTW jadi Brondong ketceh. Bisa jadi itu di dapat dari gen sang ayah, yang pasti pernah tampan di masa lalunya.


[Tante ngeGym … buat apa sih, rajin bener?] chat Dirga saat raganya tak bisa selalu dekat dengan ibu beranak dua itu.


[Be-Te aja, di rumah sendirian. Anak-anak selalu punya jadwal les tambahan. Dan Om Pras mu itu, jarang pulang sore. Selalu setelah petang.] Balas Mutia jujur.


[Bukan mau kurus kan?”] tanyanya iseng.


[Ngapain tante kurus, kalo gendut gini aja di sayang suami.] Mutia tidak pernah menunjukkan sisi buruk rumah tangganya pada brondong resek ini. Ia masih berusaha menunjukkan bahwa ia adalah istri yang selalu di bahagiakan suaminya, dan Pras sosok suami yang membanggakan.


[Ya iyalah …] Balas Mutia cepat.


[Dirga ga boleh nyempil dikiiit gitu di hati tante.] Dada Mutia bergemuruh, apa siih ini bocah. Menjijikan. Itu awalnya, saat Mutia belum terbiasa dengan gombalan Dirga. Tapi entah selanjutnya.


[Maaf … ga ada lowongan. Sana, sama mbak Nunuk. Di hatinya bukan hanya tempat kecil untuk kamu nyempil. Tapi kamu bakalan jadi tamu VVIP di hatinya.] Mutia mengulum senyumnya. Iya, Mutia harus tetap merahasiakan chat tak berujungnya dengan Dirga dari Shane dan lainnya. Gak tau kenapa? Hatinya bilang … biar dia nikmati sendiri dulu saja perasaan aneh ini. Dan chat iseng Dirga ini.


“Chatting sama siapa siih, ku perhatiin. Akhir-akhir ini tu ponsel lebih sering di tangan deh timbang di dalam tas. Kepo donk.” Itu Vinsha. Yang diam-diam sering perhatikan wajah Mutia yang kadang tersipu sendiri, lalu berusaha membuang muka, agar rona bahagianya tak terlihat teman di sekitarnya.

__ADS_1


“Perasaan mu aja Vin.” Jawabnya memasukan ponsel ke dalam tasnya. Lalu mulai berlatih lagi.


Berat badan Mutia sekarang sih emang hanya turun 3 kilogram, gak begitu signifikan dan belum kelihatan. Hanya Mutia memang sudah mulai merasa jika ia lebih percaya diri sekarang, karena merasa tubuhnya jauh lebih fit dari sebelumnya. Yang kemarin jalan di pasar tradisional saja, kadang bisa ngos-ngosan, tapi tidak dengan sekarang. Sehingga, melatih otot dan berolah raga itu. Bukan tentang agar menjadi kurus. Tetapi membuat bugar dan sehat. Kata orang sih kurus hanya bonus.


“Haay … Dirga. Kemana aja lama tidak kelihatan.” Shane bersorak nyaring saat melihat sosok brondong itu berjalan ke arah mereka, tepat di belakang tubuh Mutia. Dan Mutia reflek langsung membalik tubuhnya, ingin segera melihat pemuda yang hampir tiap hari memenuhi layar ponselnya.


“Halloo … tante-tante. Iya… Dirga banyak tugas. Capek lho ga bisa bagi waktu buat olah raga.” Jawabnya santai dan hanya menganggukkan kepalanya pada Mutia. Kemudian berjalan bersisian dengan Mutia menuju tempat latihan. Sembari berbisik.


“Tante Imuut … makin fresh dan cantik.” Pelan sekali kalimat itu ia ucap saat mereka berdua seolah berseberangan. Karena Dirga sengaja memotong jalan, menuju alat treadmill untuknya melakukan pemanasan terlebih dahulu.


Mutia tak sempat membalas ucapan Dirga. Karena tangannya sudah di tarik Ozzi agar memulai latihan bersamanya. Dan Dirga sempat melihat tangan Mutia yang di pegang tutornya. Agak kesal wajahnya. Tetapi berusaha tenang dan acuh saja, dan melanjutkan latihannya sendiri. Walau dengan perasaan tak senyaman ketika datang, penuh semangat karena sudah bisa datang ke tempat tongkrongan emak beranak dua itu.


“Dirga … kapan punya waktu luang? Mungkin kalian perlu survei ke Villa yang akan di gunakan untuk acara anak tante nanti.” Nunuk sudah datang dengan dua botol air mineral yang kemudian ia sodorkan untuk Dirga.


“Huum … nanti Dirga kasih info ya tan. Sekalian nyesuaikan jadwal Desti juga.” Jawab Dirga yang merasa jika ajakkan itu berkaitan dengan jobnya bersama Desti.


“Bisa ga sih … ga ajak Desti. Kamu aja cukup kok.” Nunuk itu egois. Jika sudah mau sesuatu, mana mungkin mau berbagi dengan orang lain. Hal itu yang membuat Mutia harus berpikir berkali-kali untuk menanggapi rayuan gombal Dirga, yang seolah sedang menginginkan dirinya, bukan Nunuk.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2