
Hubungan Mutia dan Dirga itu kesininya memang makin tidak benar. Sudah semakin ceroboh tak dapat memfilter, sedang berada di mana dan lagi ngapain saja. Mereka sepertinya memang sedang di landa mabuk asmara stadiun lanjut. Kalo Dirga sih mungkin wajar, di usia itu memang masa puncaknya ingin tau dan juga sudah matang. Tetapi tidak dengan Mutia. Ia ibarat bunga sudah hampir layu. Mestinya dia bisa berpikir lebih jernih untuk menolak.
Tapi, Wanita berusia 40m tahun itu, justru merasa senang dan berasa di awang-awang saat berat badannya tidak ringan, bahkan berlebihan. Dan jauh dari kata proporsional kala itu. Tetapi justru mendapatkan gacoan, tampan juga muda.
Dirga bahkan sudah menjadi target kompetisi teman-temannya, untuk di dapatkan. Dan kini, brondong itu malah terlihat sangat bucin dengannya. Jelas saja, Mutia tidak mau melepaskan kesempatan tersebut. Ia bahkan buta dengan sekitar, tak menyadari bisa saja nanti ia hanya di manfaatkan oleh si tengil itu. Walau sejauh ini Mutia tidak pernah merasa di rugikan secara materi. Sehingga ia tak peka dengan wanita yang kerap datang menemui Dirga itu adalah orang yang selalu sama. Mutia memilih percaya dengan Dirga, jika Aline hanya anak ibu kostnya.
Lalu bagaimana dengan bibir Dirga yang ketemu dengan bibir Aline di antara kaca jendela mobil Mutia. Apakah Mutia masih percaya jika Aline tidak memiliki hubungan spesial dengan brondong yang ia anggap sebagai pacarnya itu. Tolong, kasih masukan untuk Mutia, itu gimana kalo kaca sebelah kiri di pencet aja dari pencetan sentral, biar naik sendiri. Biar misahin bibir yang tetiba ketemuan tanpa prolog.
“Turun …!!!” Bentak Mutia nyaring dan mengejutkan. Membuat Dirga menoleh ke arah asal suara. Dan yang ia dapati hanyalah sisi kiri wajah kekasihnya.
“Kalo mau mesum, sana di kamar kost kamu. Dirga…!!!” Suara itu bahkan terdengar bergetar. Menahan kesal, marah dan sebagainya.
“Punya telinga …?” Akhirya Mutia menoleh ke arah Dirga yang mematung. Sementara Aline yang ada di luar hanya bingung, melihat raut wajah marah wanita di belakang kemudi. Kulit mukanya memerah, sorot matanya tajam. Ia tak pandai berakting. Mutia gagal menyembunyikan paras marahnya pada lelaki muda yang baru saja mengecup bibirnya, memainkan lidahnya dengan lincah dalam ronnga mulutnya tadi. Tapi sekarang benda kenyal itu justru sudah bertabrakan dengan bibir wanita lain bahkan di depan matanya.
“Jangan sampai tante yang mengeluarkanmu secara paksa.” Mutia menyandarkan kepalanya pada kursi. Dengan suara melemah, tak sanggup lagi mengeluarkan energi untuk melampiasakan rasa marahnya.
Ceklek.
__ADS_1
Dirga mengunci jendela dan menaikkan kaca mobil kembali.
“Tante … jangan marah. Dia cuma fansnya Dirga.” Buseet, itu Brondong masih membela diri dan tak mau mengaku jika Aline adalah kekasihnya.
“Maaf … tante ga bisa jaga emosi. Mungkin terlanjur memiliki rasa yang berlebihan padamu. Tak seharusnya tante cemburu. Tante yang ga tau diri.” Ada buliran bening membasahi pipi Mutia. Br3ngsek.
“Wajar tante cemburu. Hanya Dirga yang memang ga bisa jaga sikap di depan tante.” Ujar Dirga memberanikan meraih tanga kekasih beda usianya tersebut.
“Kamu yakin … ga punya perasaan lebih sama dia Ga?” Mutia sepertinya ingin memastikan hubungan Dirga dan Aline.
“Apa … tante merasa perlu kita bilang ke dia sekarang, kalo tante adalah kekasihku?” waw … ini bukan brondong trendy lagi, gaes. Tapi brondong nekad.
“Tante percaya sama Dirga kan?” Dirga hanya ingin tau, sedalam apa Mutia percaya padanya.
“Ini bukan perihal percaya. Tetapi jika dia kekasihmu pun. Itu adalah hal yang wajar.” Mutia turun dari sisikanan mobil, kemudian berputar menuju pintu sebelah kiri mobilnya yang di sana masih ada Aline menunggu dengan tatapan bingung.
“Maaf ya … tadi suara tante agak keras. Ini tempat umum, sebaiknya kalian lebih bijak mencari tempat untuk melakukan hal semacam itu.” Dengan suara tegas Mutia menyampaikan hal itu pada Aline dan Dirga yang sudah ia bukakan pintu mobilnya agar turun. Dirga tak punya pilihan, selain turun. Dan patuh pada Mutia yang Aline tau adalah tante, saudara ayahnya.
__ADS_1
Meninggalkan senyum hambarnya pada Aline dan Dirga yang masih terlihat bengong. Sebab keduanya memiliki jalan pikiran masing-masing untuk menafsirkan arti ledakan yang Mutia lemparkan tadi, namun kemudian membaik sendiri.
Mutia sudah dengan gerak cepat menyiapkan pakaian dan semua persiapan untuknya dan Pras yang mendadak melakukan perjalanan dinas itu. Dan ini adalah pengalaman pertama Mutia, di ajak pergi oleh Pras sambil bekerja. Mereka pernah liburan bersama anak-anak. Tapi tak pernah berduaan seperti ini. Bisa di katakan ini seolah bulan madu. Bulan madu yang mendadak atau mendadak bulan madu. Ah entahlah. Yang pasti, sekarang pikiran Mutia sedang tidak berbunga-bunga.
Tiba-tiba di ajak berlibur ke Bali, Pulau Dewata nan indah itu adalah impina hampir semua insan di dunia. Entah itu gratisan atau bayar sendiri. Bali tak pernah gagal untuk memanjakkan mata setiap orang untuk selalu terpesona dan membuat orang berdecak kagum akan pesonanya. Bisa berangkat bersama pasangan halal alias suami, hem. Tentu akan menjadi momen terindah yang sulit untuk di lupakan. Bisa jadi setelah kembali nanti, rasa cinta yang meluntur bisa kembali berwarna juga menguat.
Tapi entah dengan Mutia. Pikiran Mutia yang sudah bercabang dua. Apalagi perpiosahannya dengan Dirga tadi tidak seromantis yang ia kira dan bayangkan. Tidak sesuai ekspetasinya. Yang mengira. Hari ini akan menjadi hari yang tak terlupakan, saat ia bak seorang ibu yang akan melepas anaknay berangkat KKN. Memastikan bawaannya. Dari pakaian, obat juga persediaan lainnya. Dan mungkin yang Mutia bayangkan adalah ada beberapa potongan adegan romantis sebelum mereka berpisah agak lama./ Sebagai obat anti rindu kala nanti lama tak bertemu.
“Maaf Pak Yudho baru pagi ini memberi informasinya.” Pras dengan gaya bahasa datarnya berbicara saat mereka sudah dalam pesawat. Mutia hanya melemparkan pandnagannya keluar jendela. Melihat proses evakuasi barang pada pewasat di sebelah burung besi yang akan siap terbang itu.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Pras lagi, saat memnyadari jika raut wajah Mutia tidak bahagia. Padahal ia kira semua wanita itu sama. Suka akan kejutan, seperti yang Indah sampaikan padanya.
“Pak … Istri Pak Yudho ulang tahun di Bali. Apa bapak tidak berminat ikut. Bukankah istri bapak sangat dekat dengan Ibu Nunuk. Ambillah waktu cuti untuk bisa libur bersama ibu, Pak. Apalagi akhir-akhir ini bapak terlampau sibuk.” Saran Indah pagi itu.
“Apa perjalanan ini tidak terlalu mendadak untuk istri saya ?” tanya Pras seperti orang bodoh.
“Justru wanita itu suka dengan kejutan yang sifatnya mendadak seperti itu pak. Hanya istri tidaj normal yang tidak bahagia saat tetiba di ajak liburan oleh suami.” Kekeh Indah membayangkan, jika dia lah yang diajak suaminya pergi ke pulau Dewata tersebut.
__ADS_1
Bersambung ….