PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 38 : LUPA HARI


__ADS_3

Pesta telah usai dengan baik, tamu banyak hadir dengan persediaan makanan yang masih melimpah. Sebab acara itu memang di buat untuk porsi besar dan melebihi dari estimasi. Hasan tak mau malu akan hal sepele dalam acaranya.


Hiruk pikuk pesta sudah usai, tapi tidak dengan resahnya hati Mutia, yang bahkan belum tiba di rumahnya saja sudah kembali merindukan sosok brondong trendynya. Yang malam itu hanya terbalut dalam kemeja biasa lengkap dengan rompi yang terlihat sama dengan Timn ya. Tidak ada yang istimewa dari tampilan itu, bagi orang awam. Hanya seseorang akan selalu terlihat memikat di mata orang yang menaruh minat berlebihan pada seseorang tersebut. Dan Dirga sudah jadi yang terspesial dalam hati Mutia.


Dalam perjalanan pulangnya bersama Pras, Mutia menutup matanya, berharap segera sadar jika Dirga sudah tak dapat di lihat secara kasat mata. Namun ia gagal mengusir bayangan Dirga yang selalu tampak jelas di pelupuk matanya. Bahkan di setiap helaan tarikan nafasnya, Mutia merasa jika Dirga ada disana, membersamainya. Percuma memejamkan mata, sebab justru sentuhan tangan Dirga tadi terasa masih hangat menjamah setiap inci tubuhnya, dan itu membuat hatinya berdesir-desir kembali.


Mutia lebih lama membersihkan tubuhnya, memilih mandi malam itu. Masih berharap ritual itu dapat membasuh bekas sentuhan kekasihnya. Tapi, justru bulu-bulu halusnya meremang. Mutia semakin rindu.


Pras sudah berada di atas tempat tidurnya, dengan pakaian piyama berkancing depan. Menggulir benda pipih, sekedar memandangi beberapa foto acara tadi, berharap kantuk segera datang. Agar mentari siap menendang bulan yang sedang melakukan tugasnya di angkasa raya. Tapi tidak bisa, Pras gagal. Karena Mutia bahkan tidak menggunakan pakaian tidur, saat tubuhnya dingin dan wangi yang masih hanya menggunakan handuk setelah dari kamar mandi tadi, menemaramkan cahaya di kamar meraka. Dan segera mengambil posisi duduk di atas perut suaminya.


Tangan Mutia lincah memisahkan kancing dan lubang piyama yang Pras gunakan, kode keras bagi seorang Pras. Mutia sangat menginginkannya malam ini. Lalu … apakah Pras merasa perlu goyah akan kesetiaan sang istri. Bahkan saat ia melihat istrinya hanya berduaan di rooftop bersama lelaki muda, tapi ketika mereka tiba di rumah tetap dia lah kuda dan Mutia penunggang hebatnya malam itu.


Betapa malangnya nasib Pras, di mana dengan segenap hati mempercayai sang istri adalah wanita setia. Tak henti ia bersyukur bahwa saat mereka tak lagi muda. Namun sang istri selalu memiliki semangat yang tak surut bahkan lebih terasa makin genit menggoda dan melayaninya. Apa alasan Pras untuk curiga. Saat ia hampir kewalahan di jamu sang istri yang terlihat energik. Sayang, Pras hanya dapat merasakan. Tapi tak pandai menembus hati sang istri. Hati Mutia yang sedang di penuhi bayangan Dirga, dengan bantuan temaram cahaya kamar. Ia bekap bibir Pras dan membayangkan jika lawannya sekarang adalah si dedeg tengil.


“Apa Salon mu perlu di tambah pilihan treatment atau apa untuk semakin mendukung agar lebih maju?” Pagi itu Pras dan Mutia bangun lebih pagi, dan saat Mutia aakan beranjak bangun, Pras menarik tangan Mutia, lalu seakan meminta istrinya bisa tidur lebih lama berbantal lengannya.

__ADS_1


“Heem … gak tau.” Nyawa Mutia belum sepenuhnya menyatu, setelah terberai antara mimpi dan kenyataan. Ia sadar semalam baru saja bercinta dengan luar biasa, setelah melakukannya dengan Pras tapi rasa Dirga. Jahaad.


“Bukannya semalam kamu akan bekerja sama dengan pihak EO itu, mungkin ada yang perlu di upgrate agar bisa lebih mendukung kerja sama itu.” Lanjut Pras yang ternyata cukup jauh berpikir, akan hubungan Mutia dengan pihak EO semalam.


“Ga ada yang perlu di Upgrate untuk mendukung kerjasama itu, cukup hatiku yang sudah terikat tanpa surat dengan salah satu karyawan EO itu.” Jawab Mutia dalam hati. Gak mungkin lah Mutia sejujur itu pada Pras, bukankah ia masih yakin akan menghabiskan sisa waktu hidupnya bersama suami sahnya ini.


“Lalu bagaimana bentuk kerja sama kalian?” Pagi ini Pras cukup banyak bicara pada Mutia yang masih berbantal lengannya yang terbuka.


“Paling Hanny yang ikut ke lokasi pemotrertan, untuk memastikan dandanan yang sudah di buatnya tetap rapi dan tidak pecah saat keringat datang.” Jawab Mutia memeluk tubuh Pras. Yang hingga usia kepal 5nya memang masih bagus. Tidak kendur hanya memang tidak terlalu terbentuk lagi ototnya. Tapi untuk ukuran pria OTW tua seusia Pras, bentuk tubuhnya tidak jelak, masih masuk jajaran pria pandai mempertahankan bentuk tubuhlah.


Pras hanya mengangguk.


“Mama Ra-Ra … bahagia dengan pekerjaan ini?” mungkin efek tunggangan kuda semalam yang membuat Pras pagi ini terdengar ingin memastikan perasaan istrinya. Atau ia merasa terganggu dengan ucapan Berto soal perasaan wanita yang harus ia tanyakan secara langsung pada Mutia.


“Sangat amat bahagia, mas. Terima kasih ya.” Jawab Mutia mengecup pipi Pras. Senyum Pras melebar dengan sendirinya. Tanpa jawaban atas ucapan terima kasih dari sang istri.

__ADS_1


Mutia beringsut dari atas pembaringan akan menyiapkan sarapan dan memastikan anak-anak mereka sudah bangun.


“Kemana …?” tanya Pras menahan tangan Mutia, seakan tak mau kebersamaan mereka di atas tempat tidur itu segera berlalu.


“Siapin sarapan dan anak-anak ke sekolah, Mas.” Jawab Mutia akan bangkit dari posisi tidur dalam pelukan suaminya.


"Hari ini hari Minggu. Apa kamu sudah lupa hari?" mendadak pipi Mutia memerah akibat rasa malu yang menyerangnya.


"Hah ... Sepertinya gempa semalam sungguh membuat otakku geser Mas." Tawa Mutia mengakui jika kini ia makin tidak fokus akan hari-hari yang ia lalui.


"Heem ... Jangan-jangan kamu juga lupa siang ini putri mbak Widya bertunagan." Lanjut Pras, yang seperti kesambet burung beo pagi ini. Banyak bicara.


"Ya Ampuuun ... Tesy tunangan itu minggu ini? Bukan minggu depan, iish. Ini tanggal berapa sih?" Mutia sungguh lupa daratan sepertinya. Ia terlalu sibuk dengan brondongnya, hingga lupa acara penting dalam keluarga. Tesy adalah putri Mbak Widya kakak dari suaminya. Bagaimana ia bisa lupa akan agenda besar itu. Tentu saja di sana nanti ia akan bertemu mertua dan sanak saudara suaminya.


"Apa kesibukanmu di Salon sungguh sudah merenggut waktumu?" tanya Pras membelai rambut Mutia dengan pelan dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Bukan salon Mas yang membuat aku sibuk. Tapi brondong tengil itu yang sudah memporakporandakan hati dan pikiranku." Sungut Mutia dalam hati.


Bersambung ...


__ADS_2