
Mutia tak sempat bertegur sapa dengan wanita muda bernama Desti, yang ia kenal sebagai teman kerja Dirga. Dan saat melihat kehadiran Desti, mendadak pikiran Mutia menjadi sedikit terganggu. Bisa jadi kan, Mutia jadi curiga, mungkin nanti akan ada Dirga pulak hadir di Butik yang sama dengannya.
“Iya haloo … udah di mana? Ku share lok aja.” Desti melewati tubuh Mutia agak cepat sambil menelpon seseorang yang sepertinya akan datang ketempat yang sama dengannya. Desti hanya menganggukan kepalanya sedikit saat dekat dengan tubuh Mutia. Dan Mutia pun hanya tersenyum hambar, kemudian merapatkan dirinya dengan Vinsha. Agar kemudian badannya lah yang di ukur, dan selesailah kepentingannya di dalam Butik tersebut.
“Heeii … tumben sama suami?” tegur Vinsha sambil tubuhnya yang sedang di ukur.
“Iya … Mas Pras yang jemput aku di Salon tadi. Katanya dia juga mesti pake pakaian baru, suami kalian?” Tanya Mutia sambil melihat sekeliling.
“Ya sama sih, tapi. Kamu tau lah suamiku sibuk. Mungkin nyusul aja.”Jawab Vinsha dengan santai.
“Perasaan aku aja apa ya … kok hari ini rame banget Butik ini.” Lagi, Mutiabertanya.
“Gimana gak rame, semua yang bertugas di acara nanti kan semua di traktir Mbak Nunuk buat pakaian di sini. Sampai mereka EO juga dia yang buatkan seragam. Gak habis pikir akunya, itu si Mbak Nunuk.” Lanjut Vinsha memberi informasi.
“What … sergam EO, mbak Nunuk yang buat. Berarti akan ada Dirga juga donk di Butik ini.” Pikiran Mutia kembali ramai.
“Wah … Keenakkan donk Tim EO kali ini. Pake baju seragaman gratis.” Jawab Mutia menangggapi informasi darei Vinsha.
__ADS_1
“Orang kaya mah bebas, kali Mut.” Celoteh Vinsha dengan senyum lebarnya.
“Dirga … kok baru tiba. Kesasar?” Suara cerah ceria Nunuk terdengar dari asalnya berdiri. Dan di depan pintu Butik itu memang benar. Sudah berdiri sosok seorang Dirga yang terlihat senyum kaku pada Nunuk dan Shane yang tadinya akan berjalan mendekati Mutia dan Vinsha, tetapi singgah di tengah karena melihat kehadiran Dirga di sana. Sekarang giliran Mutia yang sedang di ukur badannya. Sehingga ia bisa saja tidak ikut nimbrung dengan para sahabat hebringnya itu, dalam hal menyambut kedatangan Dirga. Lebih tepatnya, sengaja menghindar. Dengan pura-pura fokus dengan kegiatan yang ia lakukan bersama pertugas yang sedang mengukur dan mencatat ukuran tubuhnya.
“Oh … gak, tan. Kebetulan tadi mampir dulu ke suatu tempat.” Jawab Dirga dengan senyum mempesonanya. Iya, senyum tampannya sudah kembali. Dirga sudah dapat menguasai performnya. Selalu terlihat profesional di antara para buaya betina.
“Eh .. Ga. Ini lho tante Mutia mu. Yang kamu cari-cari waktu kami ke desa tempatmu KKN.” Shane menarik tangan Dirga agar posisi mereka dekat dengan di mana Mutia berada. Jangan tanya suasana hati Mutia. Jelas saja terjadi huru-hara di sana. Dirga pernah jadi yang terindah kan, dalam hatinya.
“Ya ampuun. Volume suaranya bisa di kecilin gak ya. Segala, Dirga nyari aku saat mereka ke desa KKN Dirga. Pliiis deh. Di sini kan juga ada Mas Pras.” Batin Mutia meronta. Serba salah rasanya. Saat suami VS brondong sedang ada di tempat yang sama. “Oh … Tuhan. Ini kah yang di katakan indahnya selingkuh. Kok gak tentram yaak.” Lagi, Mutia membatin. Kecemasannya hanya ia wakilkan dengan senyum seadanya, saat matanya bersitatap dengan si brondong trendy tersebut.
“Hai tante Mutia, apa kabar … ?” Dirga pun segera memainkan perannya. Entah, sandiwara mereka berdua ini sudah masuk jilid berapa. Yang pasti, Nunuk, Shane dan Vinsha memang sedang dengan begitu cermat melihat interaksi pasangan eh, mantan pasangan terlarang tersebut. Dan … sukses. Terlihat biasa saja. Seperti pertemuan orang yang sudah kenal, namun tidak akrab.
“Ga … kebetulan. Yang ukur baju cowok ada di lantai dua. Kamu susul mereka yang sudah di sana ya.” Perintah Nunuk pada Dirga yang sesunguhnya masih celingukan, antara masih mau dekat Mutia, tapi juga terlihat sekali ingin menciptakan jarak dan ingin terkesan natural di dekat Mutia.
“Oh … iya.” Jawab Dirga tanpa pamit pada Mutia, sudah berlalu menuju lantai atas.
Dan di belakang tubuh Dirga yang sedang berjalan itu, Nunuk , Shane dan Vibsha saling cubit dan senggol. Jelas sekali, jika pertemuan Mutia dan Dirga bahkan Pras di Butik itu adalah settingan mereka bertiga. Nunuk bahkan relka mengelontorkan dana bersar dalam hal pembuatan seragam Tim EO yang sebenarnya bukan dari bagian tanggung jawabnya.
__ADS_1
Tetapi, demi melihat ekspresi Mutia dan Dirga saling berjumpa. Bahkan dengan Pras sekalipun. Nunuk sanggup melakukannya. Entah ini ide siapa. Yang pasti, memang semuanya terlihat wajar bahkan menguntungkan pihak EO yang bekerja sama dengan Nunuk kali ini.
Mata tiga serangkai itu, hampir keluar. Saat melihat Pras baru saja keluar dari bebrapa pajangan pakaian tidak jauh dari mereka. Artinya Pras sedang berada di lantai yang sama dengan mereka. Dan sejak tadi Pras pun berada dekat dengan mereka. Terutama saat Mutia dan Dirga tadi sedang bertegur sapa. Mereka mengira, Pras sudah lebih duluan ke lantai atas.
“Oh … khusus pria di atas ya?” tanyanya pada tiga serangkai itu. Dan, itu berarti, memang sejak tadi ia sedang kebingungan mencari di mana tempat para pria mengukur badan. Dan itulah jadinya jika malu bertanya, sesat di Butik deh. Bonus nguping.
“Kamu …?” sapa Pras pada Dirga yang lebih dahulu sampai di area pengukuran badan mereka.
“Oh … Om Pras. Silahkan Om duluan.” Dirga memberi kesempatan pada Pras untuk lebih dahulu mengukur badannya.
“Terima kasih.” Jawab Pras datar dan maju selangkah mengikuti permintaan petugas yang sedang melakukan pekerjaannya.
Dengan demikian, Dirga lebih punya waktu banyak untuk memandang wajah dan tubuh Pras dengan detail. Jujurly, ada rasa sedikit iri dalam hati Dirga. Saat melihat sosok seorang Pras. Yang menurutnya lebih beruntung dari dirinya. Perihal, mengapa pria setengah abad ini yang lebih dahulu bertemu dengan Mutia. Walau secara fisikly Mutia tidak lah cantik pake bingit. Tapi, rasa konyol yang ia simpulkan cinta itu, siapa sangka akan hinggap pada wanita beda usia itu dengannya. Sebenarnya, Dirga yang telat lahir, atau Mutia yang kecepetan ada di dunia sih. Tapi yang pasti emang Dirga yang tidak normal. Kenapa juga bergaulnya sama emak-emak beranak dua. Berani jatuh cinta pulak. Kayak perawan udah gak produksi lagi aja.
“Iya … ada apa?” Sapa Dirga pada ponselnya yang berbunyi dalam sakunya.
“Hah … kok bisa?” lanjutnya setelah terjeda mendengarkan lawan bicaranya di ujung gawai.
__ADS_1
Bersambung …