PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 85 : SEHAT


__ADS_3

Lampu emergency telah padam, yang artinya operasi telah usai. Beberapa detik kemudian pintupun terbuka. Tampak sosok pria tinggi berpakaian serba hijau, hingga kepala pun bertutup kain berwarna hijau. Sembari melepas sarung tangan karet yang tadi melekat pada tangan kanan dan kirinya.


Dirga adalah satu-satunya orang yang paling resah, akan keadaan ibunya. Banyak hal yang membuatnya tidak bisa tenang. Selain kesembuhann ibunya yang sangat ia inginkan, juga masalah biaya yang pasti tidak kecil itu.


“Bagaimana keadaan ibu saya, dokter?” Dirga mendekati pria yang masih mengenakan masker di wajahnya tersebut.


“Operasi berjalan lancar. Kita hanya menunggu pasien sadar dari biusnya, setelah itu jika pasien minta pulang ke rumah pun, sudah boleh.” Ucapnya sambil tersenyum, deretan gigi rapinya terlihat, sebab ia bicara sambil melepas penutup hidung dan mulutnya.


“Serius …?” Dirga muda, lagi awam. Mana ia tau ujaran itu, sungguhan atau hanya bersyandah.


“Bisa serius, bisa juga bercanda, dek Dirga.” Niken yang segera menanggapi pertanyaan Dirga tadi.


“Anak pasien …?” tanya dokter yang baru keluar tadi, mengarah pada Niken, teman sejawatnya.


“Hmm… iya.” Jawab Niken dengan anggukan. Sambil menyodorkan tissue pada pria tinggi gagah tersebut, kulitnya putih matanya kecil. Pasti dia bukan asli Indonesia.


“Pantas lebih panik dari yang lain.” Jawab pria itu menyambut tissue yang di sodorkan.


“Operasi ibumu berlangsung sangat baik. Semoga pemulihannya juga cepat. Nanti akan ada obat-obatan yang masih harus di konsumsi. Dan setelah ini, ibumu sudah bisa beraktivitas normal seperti biasa. Jika beliau memang tidak ada penyakit penyerta lainnya.” Kali ini dokter itu menjelaskan lebih detail.


“Oh, terima kasih penjelasannya dokter.” Jawab Dirga lega.


“Mari, saya permisi. Nanti perawat yang akan memindahkan pasien ke kamar sebelumnya.” Pamit dokter itu sopan pada Dirga.


“I … iya. Silahkan.” Dengan cepat Dirga memindahkan posisinya yang tadi sempat menghalangi jalan keluar dokter tersebut.


“Neng … ga mau temenin abang makan? Habis kerja lhoo ini.” Goda dokter itu pada Niken. Terlihat jika mereka memiliki hubungan yang sangat dekat.

__ADS_1


“Uh … maaf ya. Neng lagi ada tamu. Jadi mau reunian dulu.” Kekehnya menjawab permintaan dokter tadi dengan gaya bercanda.


“Jangan suka reunian, Neng. Nanti bisa CLBK looh.” Ejeknya sambil berlalu dan menganggukkan kepalanya pada Pras dan Mutia, Yang sedari tadi tidak ikut bicara.


“Segala CLBK …” Tawa Niken berderai. Ingin membela diri tapi percuma. Sebab Langkah dokter itu besar-besar. Sehingga posisinya sudah kian jauh dari tempat mereka berdiri.


“Maaf ya mas … dokter itu memang suka bercanda.” Ujar Niken takut Pras dan Mutia salah paham.


“Tidak masalah. Sepertinya kalian akrab.” Pras menebak-nebak.


“Yaaah … teman seangkatan yang pastilah akrab.” Jawab Niken cepat.


“Kenapa tidak di jadikan teman hidup?” kejar Pras dengan nada bercanda tapi wajah yang datar.


“Suami orang, Mas.” Kekeh Niken tanpa beban.


Obrolan itu terhenti, karena posisi mereka menghalangi perawat yang sedang berusaha mengeluarkan bu Larsih dan blankarnya, dari dalam ruang operasi, menuju kamar rawatnya. Sehingga mereka harus bergeser untuk memberi jalan untuk lewat.


Niken adalah dokter spesialis penyakit jantung. Karena keinginannya melanjut,an pendidikan itulah yang membuatnya lebih memproritaskan studi ketimbang jodohnya. Niken terlalu serius dalam hal menggapai cita-cita. Karena dendamnya dengan penyakit mematikan itu. Yang telah merenggut nyawa ibunya, sebelum ia puas memiliki ibu. Itu adalah obsesi Niken menjadi seorang dokter ahli jantung.


Tidak sekali sang kakak, memintanya untuk menunda pengambilan studi. Untuk sejenak berhenti untuk membina rumah tangga. Tetapi jawaban Niken, jika seseorang sungguh mencintainya. Maka orang itulah yang akan bertahan untuk menunggunya selesai berjuang.


Niken bukan tak punya kekasih, Ia juga seperti orang normal. Yang menjalani Pendidikan juga sambil menikmati warna warni asmara. Hanya jika ia rasakan hubungan itu sudah mengganggu waktu belajarnya. Dan pasangannhya mulai menuntutnya harus ini dan itu, yang menyita waktunya. Niken segera angkat tangan dan meminta putus.


Alhasil di saat cita-citanya kini telah tergapai, cintanya yang justru terpental. Sepertinay ia satu-satunya dokter berstatus jomblo dirumah sakit tempatnya bekerja sekarang. Parahnya, ia justru merasa senang. Saat dokter lain bisa meminta cuti karena anak sakit, atau sekedar liburan Bersama anak-anak dan pasangan. Yang membuat mereka meninggalkan tugas. Niken tidak mengalami hal tersebut.


Hari berlalu. Larsih tampak telah siuman. Keadaannya tentu terasa lebih baik dari hari kemarin. Tidak terasa lagi nyeri dan ngilu di dada seperti hari-hari yang telah lewat kemarin.

__ADS_1


“Dir … ibu merasa sangat sehat hari ini. Apa kita sudah boleh pulang?” tanya Larsih pada Dirga yang masih berselonjoran di atas sofa memainkan ponselnya.


“Kata dokter kemarin sih, boleh. Tapi …?” kalimat Dirga menggantung. Bingung dia haruskah berbagi resah pada sang ibu perihal dana operasi ibunya yang pasti mahal tersebut.


“Tapi apa …?” tanya Larsih sambil berusaha untuk duduk.


“Yang menentukan ibu bisa pulang atau tidak itu dokter, bu. Bukan Dirga.” Jawabnya beralasan. Padahal ia baru saja menscroll goegle perihal biaya pasang ring yang ternyata ada di kisaran 75 jutaan bahkan lebih. Uang dari mana si brondong miskin itu uang segitu.


“Huum … kira-kira. Berapa ya Dir. Biaya opeaqrsi kemrin. Ibu punya sedikit tabungan. Tapi, tidak ada ATMnya. Nanti kamu ke bank dulu, ambilkan bukti pengambilan. Wakilkan ibu untuk mengambilnya.” Lanjut Larsih pelan. Ternyata walau tinggal di desa dan hidup pas-pasan. Lasrsih tertap punya tabugan, walau nominalnya tidak seberapa.


Tok ... tok ... tok.


“Permisi … apa kabarnya hari ini?” Wanita cantik, Anggun dan wangi memasuki ruang rawat beserta beberpa perawat dengan catatan rekam medis yang mereka sudah himpun sejak kemarin pasca operasi.


“Ba … baik dokter.” Jawan Larsih agak terbata. Ia tak pernah berjumpa dengan dokter ini sebelumnya. Sebab saat Niken menanganinya, ia selalu dalam keadaan tidak sadar.


“Wah … sudah bisa duduk. Ini duduk sendiri kan?” ucapnya ramah sambil menatap Dirga yang baru saja mebuat posisi selonjornya tadi, menjadi duduk dengan benar di sofa.


“Iya dok. Rasanya saya sangat sehat hari ini.” Jawab ibu Dirga dengan wajah sumringah menatap dokter ramah dan cantik itu.


“Sykurlah … sudah mau pulang mbak?” tanya Niken membaca catatan rekam medik Larsih.


“Apa boleh secepat ini?” tanya Lasrih bersemangat, Tanpa menyadari jika doter itu sangat sok akrab dengannya, bahkan memanggilnya Mbak.


“Apa mau satu minggu lagi di sini? Boleh, bagus lagi. Jadi Mas Juanda akan semakin kaya dan mas Pras menadi bangkrut.” Kekeh Niken berkelakar.


“Juanda …? Ulang Larsih menatap lekat pada Niken yang sedang senyum lebar menatapnya.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2