PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 57 : BIASA SAJA


__ADS_3

Mutia memang sangat meminimalisir obrolannya dengan Pras. Namun hal itu tidak kentara sebab sejak mereka jadi pengantin baru hingga kini. Keduanya memang jarang terlihat bercengkrama. Berbeda dengan interaksi Mutia dengan kedua iparnya yang tergolong humble dan banyak bicara. Sehingga mereka memang terlihat lebih akrab dengan Mutia.


Tetapi tidak dengan suasana malam itu. Sebab Mutia terihat lebih asyik dengan ponselnya. Bahkan terlihat bisa senyum sendiri dengan benda mati tersebut. Hal itu sudah di perhatikan oleh Alifa dan Safira sejak kemarin. Tetapi mereka hanya saling kode untuk kepo.


Hingga di sore esoknya, Safira berhasil merebut ponsel Mutia yang tidak sempat terkunci. Dan terbongkarlah semua obrolan terakhir Mutia dengan sebuah kontak bernama Gaia Salon di dalam benda pipih tersebut.


“Eeeh …. Bunda sudah mengidap penyakit pikun ya?” Tiba-tiba bunda mereka sudah muncul di dekat mereka.


“Hah … bunda kenapa?” Alifa berdiri mendekati bundanya.


“Kok … anak-amak bunda treak-treak kaya jaman putih abu-abu sih?” sindir sang bunda yang rambutnya sudah tidak hitam, tetapi coklat hasil pewarnaan orang di tempat perawatan rambut.


“Mutia Bun … Mutia niih yang treak tadi.” Alifa menjawab, membuat Mutia tidak berani lagi berdiri, dengan keras ia dudukan p4ntatnya di kursi. Menahan rasa dongkol karena ponselnya di rebut oleh sang adik.


Ceklek …


Pintu kamar terbuka, dan Safira pun keluar dengan eksperis biasa dan tampak tidak mendapatkan informasi apa-apa dari ponsel itu.


“Niih … “ Safira meyerahkan ponsel Mutia yang sudah dalam keadaan terkunci dan hanya bisa di buka dengan sidik jari telunjuk Mutia.


“Jadi … teriakan tadi. Karena ponsel Mutia di ambil Safira? Huuuh … kalian ini sudah punya anak bujang kok masih berkelakuan kayak orang baru bujang juga.” Bunda menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berlalu.


Alifa memainkan alisnya ke arah Safira. Tetapi sang adik hanya menggendikkan bahunya.


“Mama … kita nonton bioskop bareng yuuk, biar seru.” Ajak Nicke anak Alika. Cucu pertama bunda mereka yang sekarang sudah duduk di kelas XI sekolah menengah atas.


Seketika atmosfir tegang tadi berubah menjadi keriwehan dalam rangka mempersiapkan diri mereka akan keluar bareng, sudah mirip pasukan seRukun tetangga. Mutia ingin tinggal, karena sudah janjian akan VCan dengan Dirga. Tetapi, bukankah momen bersama saudaranya pun jarang terjadi.


[Dedeg sayang … jangan hubungi tante dulu ya. Tante lagi quality time bersama saudara tante dulu.] Ketik Mutia di perjalanan menuju bioskop.

__ADS_1


[Biasa aja kali yank. Serep tugasnya emang saat genting aja] Balas Dirga cepat.


[Jangan marah gitu. Tante rindu kamu kok.] Balas Mutia dengan lincahnya.


Saat ponsel iu masih menyala, dengan cepat tangan Alika merebut lagi benda pipih tersebut. Bukan hanya menyala, tapi itu masih dalam room chat Mutia bersama Dirga. Mutia ingin berteriak lagi. Tapi, malu dengan Raisa dan keponakan lainnya yang berada di mobil yang sama.


Jangan tanya apa yang Alifa baca. Semua jelas dan dapat ia simpulkan. Jika Gaia salon itu adalah kekasih gelap adiknya. Dengan sabar Mutia menahann diri, untuk tidak berupaya meminta ponselnya kembali dari tangan Alika. Saat kakaknya menscroll semua obrolan dalam room itu. Safira hanya sesekali melirik ke arah Alifa di sampingnya. Sebab ia perlu konsentrasi karena bertindak sebagai supir hari itu.


“Kenapa mama dan tante ga ikut nonton. Seru tau kalo kita bareng …”


“Mama dan tante tunggu kalian di luar saja. Kami gak kemana-mana. Oke?” bujuk Alifa pada anaknya sebagai komandan pasukan persepupuan. Dan akhirnya setuju. Hanya mereka para bocil yang masuk dalam ruangan dingin berlayar suoer besar di dalam sana. Ia, Mutia dan Safira memilih café yang lumayan nyaman untuk ketiganya duduk nongkrong bertukar cerita.


“Siapa sih namamya … ?” Alifa sudah tidak sabar mendapatkan konfirmasi dari Mutia. Mulutnya manyun manyun ke arah ponsel Mutia.


“Gaia Salon itu …” Timpal Safira yang juga lebih dahulu tau akan obrolan mesra dan selalu ada dalam urutan teratas menghubungi Mutia.


Mutia masih diam. Bingung rasanya. Saat dua saudara perempuanya mungkin akan menginterogasinya.


“Sudah lama …?? Alifa yang sedikit serius dan tegas menginginkan jawaban.


“Gak sih … baru-baru aja. Gak ngapa-ngapain juga. Sekedar temen chat, biasa aja.” Mutia membuang muka. Menghindar tatapan penuh selidik dari Alifa.


“Semua hubugan luar biasa juga berawal dari yang biasa. Lalu terbiasa.” Jawab Alifa mengaduk minuman di depannya.


“Aku masih bocil di sini, boleh ga ikutan gak sih?” Safira ingin mengubah suasana tegang antar mereka bertiga di pojokan tempat minum tersbeut.


“Bocil dari mana, anakmu tuh yang bocil.” Kekeh Alifa yang ternyata masih bisa tertawa. Dan dia ternyata tidak sedang serius menghadapai Mutia.


“VC dia sekarang … ku mau kenalan.” Wuuush … itu perintah dari Alifa.

__ADS_1


“Hah …? Mutia bingung. Tidak dapat clue apakah itu serius atau bercanda.


“Buruan …” Alifa menyodorkan ponsel Mutia agar adiknya itu melakukan panggilan video call dengan Dirga.


“Kenapa kayak kebo bengong …? Biasa aja kan?” tantang Alifa. Oh … mungkin ini memang tantangan. Untuk pembuktian jika hubungannya dengan Dirga biasa saja.


Mutia melakukan panggilan sesuai permintaan Alifa, dengan dada yang berdegub lebih kencang. Mutia pasrah saja apapun nanti kalimat sapaan yang Dirga suarakan di awal panggilan.


“Hai tante Mutia.” Sapa Dirga agak bingung menerima panggilan dari wanita yang tadi bilang tidak bisa di ganggu dulu.


“Ga … ini ada yang mau kenalan.” Jawab Mutia membuat ponselnya lebih jauh agar wajah Alifa dan Safira ikut terlihat di layar.


“Astagaaa… kenapa ada tiga bidadari di layar ponselku. Cantik-cantik semua siih.” Celetuk Dirga merespon penampkan tiga saudara itu.


“Astagaa … ini wallpaper kok bisa bicara.” Safira bersemangat sekali ikut memuji kesempurnaan wajah brondong manis di layar ponsel Mutia.


“Haaaiii … aku Alifa. Kakaknya tantemu ini.” Alifa justru lebih dahulu memperkenalkan dirinya. Sambil menunjuk ke arah Mutia yang hanya diam menikmati wajah tampan di layar kaca.


“Oohh… hai tante Alifa.” Sahut Dirga sopan. Dan tentu dengan senyuman semanis madu, untuk menebar pesonanya


“Hallooo… aku Safira. Si paling bontot. Ku paling muda dari antara mereka dan yang paling cantik. ” Sapa Safira sok imut. Membuat Mutia seolah be te melihat perkenalan kedua saudaranya tersebut via benda pipihnya.


“Lagi di mana …?” tanya Alifa kepo. Kamera ponsel itu, segera Dirga balik arahnya. Demi mendapatkan pemandangan pedesaan yang masih sangat asri dan sejuk di pandang mata.


“Ku lagi di desa. Sedang KKN.” Jawab Dirga jujur.


“Owh … masih kuliahan.” Celetuk Safira lagi.


“Bebeph Dirga antarkan aku ke PKM donk. Sakit perut niih.” Karena kamera itu posisi terbalik, sehingga sejak bagi ketiga wanita di seberang layar, melihat cewek muda berjalan mendekati Dirga.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2