
Mutia tak punya nyali untuk mengangkat wajahnya. Jika bercermin, mungkin keindahan warna kulit wajahnya sudah mirip pelangi yang warna warni. Mewakili rasa yang terlukis dalam hatinya. Warna pelangi itu tidak hanya cerah, tetapi kelabu juga. Iya kelabu. Sekelabu hati Mutia untuk memberi jawaban atas pernyataan Dirga padanya barusan.
“Pliis, ijinin Dirga ngekost bentar lah, tante. Jangan di tolak.” Kalimat itu tegas dan maksa banget kan.
“Gak gini juga bercanda sama emak beranak dua Ga. Tante punya suami. Rumah tangga tante baik-baik saja. Tante bukan istri yang kurang kasih sayang. Suami tante itu pria sempurna dalam hal memperlakukan tante. Pliis, jangan jadi perusak rumah tangga tante.” Ganti Mutia yang meminta pengertian Dirga.
“Dirga ga mau jadi perusak rumah tangga tante dan Om pras. Dirga cuma mau di bagi dikiit, kasih sayang tante. Kalo suami tante udah limpahin kasih sayang buat tante. Dirga cuma mau di bagi kasih sayang itu dikit. Jadilah penyemangat Dirga, Tante Mutia.” Pintanya lagi, terus meminta agar Mutia bersedia jadi orang yang spesial di hatinya.
“Kamu salah orang Ga. Tante bahkan ga punya apa-apa untuk di bagi ke kamu. Sana sama mbak Nunuk. Dia punya segalanya.” Itu penolakan ya Gaes. Otak Mutia masih waras untuk berusaha menjaga keutuhan rumah tangganya.
“Dirga ga butuh materi Tante. Dirga butuhnya perhatian. Pliis.” Masih maksa.
“Cari saja cewek seusia kamu. Berpacaranlah dengan wanita yang wajar. Yang bukan istri orang, bukan juga kekasih orang.” Saran Mutia masih menjaga kewarasannya.
“Cewek seusia Dirga itu pasti selalu menuntut untuk di perhatikan. Sedangkan yang Dirga butuh sekarang adalah perhatian. Dirga ga bisa kasih perhatian pada orang lain, sebab Dirga sedang butuh dorongan untuk maju sekarang.” Dirga bagai orang frustasi. Tapi, jangan lupa. Dirga itu masih keturunan Kapiten Pattimura yang selalu pantang mundur, si paling pemberani bawa golok kesana sini, walau di akhir bulan. Sebab hanya dia yang selalu jadi si paling setia ada di dalam dompet emak-emak. Apaaa coba?
“Maaf Ga … tante bukan istri jablay. Tante bilang sekali lagi. Rumah tangga tante baik-baik saja. Dan tidak pernah terbesit dalam niat sekalipun untuk mendua. Kamu salah orang Ga.” Tegas Mutia dengan kecambuk hati yang tidak baik-baik saja.
Apa yang mulutnya ucap tidak singkron dengan isi hatinya. Dirga itu sudah hampir satu purnama mengganggu kehidupannya. Chatting unfaedah Dirga itu membuatnya tersenyum sendiri bahkan rindu, jika si ketceh itu terlambat menghubunginya. Tapi, ia tetap berusaha untuk tidak goyah selagi mampu. Mutia itu munafik. Bilang tidak di mulut, tapi gatal di hati.
“Jadi usaha pedekate yang Dirga lakukan selama ini sia-sia, Tan? Sungguhkah kecaperan Dirga selama ini ga buat hati tante luluh?” Dirga masih menatap bola mata Mutia. Ia ingin memastikan kesungguhan pada manik mata si tante yang dia bilang imut itu.
__ADS_1
“Usaha macam apa yang sudah kamu lakukan …?” Mutia seolah tak sadar jika selama ini Dirga memang sudah berhasil merusak tatanan sarap otaknya.
“Jika menyeting hati, semudah menyeting jam monolog. Untuk apa Dirga repot menyampaikan perasaan ini pada tante Mumut. Tapi semua rasa ini datang sekehendaknya sendiri. Bodoh. Iya Dirga bodoh tan. Kenapa memilih wanita beranak dua yang usia pernihakanya sudah 17 tahun. Jatuh hati pada istri orang, meminta perhatian seorang istri solehah, yang masih sangat ingin menjaga marwahnya.” Kali ini tidak dengan nada lantang. Lebih pada pelan mengiba. Seolah merasa salah telah jatuh hati pada orang yang salah.
“Tante tak punya alasan untuk menerimamu Ga.” Jawab Mutia yang masih sadar posisinya sebagai istri orang.
“Sama, Tan. Dirga juga ga punya alasan, mengapa suka sama tante.” Seolah senasib, Dirga mengasihani dirinya. Demi menarik simpatik Mutia, agar permintaannya di terima.
Mutiara menengadahkan kepalanya. Menghirup udara sebanyak mungkin, memperbanyak asupan oksigen masuk kedalam otaknya. Agar bisa berpikir lebih cerdas.
“Gimana kalo kita coba pelan pelan Tan. Dirga janji ga akan main fisik. Sekarang Dirga siap mengarap Skripsi. Tapi butuh moodbooster, jadilah penyemangatku.” Oops, anak ini kembali melesat bahkan berkolabrasi dengan kalimat janji untuk tidak main fisik. Iya … kamu bisa tidak main fisik, tapi apa kamu bisa jamin tidak main hati. Dan efek itu akan lebih parah dari kontak fisik.
“Tante ga punya apa-apa untuk jadi penyemangat mu Ga.” Mutia masih menolak.
“Iya … tapi sudah termiliki.” Jawab Mutia. Preeet. Yakin?
“Bagi dikit aja tan.” Telunjuk dan ibu jarinya hampir rapat. Menandakan ia sungguh hanya minta 0,02 gram saja hati seorang Mutia.
“Gak bisa Ga.” Tegas Mutia.
“Di coba dulu, baru bilang gak, Tan.” Pemaksa. Iya, Dirga itu pemaksa ulung.
__ADS_1
“Gimana …?”
“Dirga ga minta macam-macam. Cukup tante punya telinga tiap aku curhat, dan sesekali memberi ide juga ingetin Dirga jika lupa dengan tanggung jawab prioritas Dirga sebagai mahasiswa semester akhir.” Tegas Dirga tak main-main.
“Hanya itu kan … tidak lebih?” Mutia mulai melemah. Bosan ia terus menolak Dirga. Toh, ia tidak meminta apa apa yang kedengaran merugikan.
“Iya tante. Dirga ingin memiliki figure yang menyayangi Dirga.” Fix, Dirga yang jablay nih.
“Tante boleh minta satu hal …?” Mutia mulai melakukan negoosiasi terhadap lawan bicaranya.
“Apa itu …?” Dirga tak mau kehilangan kesempatan. Firasatnya bilang, jika sebentar lagi proposalnya goal.
“Tolong rahasiakan hubungan kita nanti dari teman-teman tante.” Ini lah alasan terbesar Mutia sulit menerima Dirga. Urusan Pras akan tau, itu baginya masalah kesekian. Tetapi, saat Nunuk, Shane dan Vinsha tau jika kini ia ikut tercemplung dalam zona perslengkian. Bisa jadi mereka akan merayakan dengan besar-besaran. Nasi tumpeng, nasi liwet, nasi mawut sampai nasi goreng. Kira-kita semua akan hadir lengkap dalam sajian ucapan syukur para sahabat gesreknya itu. Atas pencapaian Mutia yang akhirnya mengikuti jejak mereka, berselancar di dunia pengkhianatan. Brengs3k.
“Siap … ada lagi?” Senyum samar sudah tercetak di wajah tampan nan menawan itu. Bagaimana Mutia bisa menolak permintaan si ketceh ini. Iman setebal apa yang bisa ia pertahankan, melihat wajah mengiba ini seolah tulus memintanya untuk menjadi yang terindah dalam hatinya.
“Ada …” Mutia tampak berpikir sejenak, sehingga kata itu tergantung dalam jeda beberapa detik.
“Apa …?” tanya Dirga tak sabar. Sambil berharap syarat selanjutnya bisa ia kabulkan demi mendapatkan hati seorang emak beranak dua, Gilak emang.
“Jangan serius menaruh hati pada tante. Carilah kekasih yang sesungguhya. Yang kelak akan kamu ajak berdampingan kepelaminan menuju bahtera rumah tangga sesungguhya. Kamu hanya ingin di temani bukan untuk di miliki oleh tante, Ga!” tegas Mutia dengan suara lantang.
__ADS_1
Bersambung …