PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 30 : POSESIF


__ADS_3

Akhir-akhir ini Mutia tidak bisa berpikir dengan benar. Otaknya terlalu mengikuti kata hatinya. Dan keadaan dalam hatinya sekarang sedang dalam kerusakan yang mulai parah. Mutia memang tetap memperhatikan Radit dan Raisa, tapi tidak seintens dulu. Kunjungan ke kamar anak-anaknya yang biasa ia lakukan sejak setelah makan malam, untuk mendengarkan curhatan mereka dengan aktivitas seharian, kini berangsur berkurang durasi. Sebab banyak waktu Mutia habiskan di dalam kamar, berdalih lelah pulang dari salon. Padahal hanya demi meladeni call si brondong.


Besar kecil urusan dan segala isi di hatinya ia bagikan pada si ketceh itu. Berasalasn merasa nyaman. Sebab lawan bicara selalu nyambung ketika di ajak ngobrol. Hal itu membuat Pras semakin menduduki ranking terbelakang dalam hatinya. Raisa dan Radit memang tidak protes. Justru merasa jika pengawasan sang mama, melonggar. Dan mereka merasa sedikit bebas karena kurang di awasi.


Mutia pun sebenarnya tidak bisa sebebas itu melakukan panggilan dengan Dirga. Yang memang hampir tiap malam. Sebab Pras memang semakin jarang pulang tepat waktu. Juga lebih sering melakukan perjalanan bisnis, yang membuat Mutia makin leluasa melancarkan aksi pertukaran ceritanya pada Dirga. Pras mengira, dengan pertemuan mereka yang jarang tersebut, membuat Mutia lebih beringas di atas ranjang dalam hal melakukan hubungan suami istri. Padahal, hanya Mutia yang tau. Siapa kini yang ada dalam setiap hembusan nafasnya. (Ingat ...! Kejahatan terjadi bukan karena niat. Tetapi karena ada kesempatan. 😂)


Mutia sudah berada di atas kuda besi yang di kendari oleh Dirga. Komitmen kontak fisik mereka sudah terskip dengan sendirinya. Apalagi di atas motor yang melaju di aspal hitam. Dirga menarik tangan Mutia agar melingkari perutnya dengan erat. Tidak ada jarak antara punggung dan perut Mutia. Semua bagian tubuh bagian depannya tertempel, tak terpisahkan. Pipi Mutia sengaja ia sandarkan pada punggung kekasih gelapnya. Sedangkan tangan yang terkunci di atas perut Dirga sesekali ia elus, dan ia angkat untuk ia cium-cium, selama berkendara. Mutia merasa kehidupannya sudah kembali pada masa 20 tahun silam, saat memiliki kekasih bernama Dino. Jangan tanya hatinya. Degupan itu sungguh membuatnya berdesir-desir mewakili rasa bahagia tak terkiranya.


“Ga … tante udah capek. Ini sudah gaun ke lima yang tante coba. Semua jelek di matamu.” Mutia bagai seorang model sejak tadi menggonta ganti pakaian yang akan ia gunakan untuk ke pesta malam nanti. Dan kali ini Dirga sebagai pengamat busana yang akan ia gunakan. Sebelum menaiki motor Dirga untuk ketempat tujuan. Mutia sempat mengirim chat pada sang suami.


“Mas … aku ke butik beli gaun untuk nanti malam. Sampai ketemu di rumah pukul 6 sore. Anak-anak, siang ini tolong di jemput. Pak Biran masih sakit.” Begitu isi chat Mutia. Yang include. Dari ijin keluar membeli baju. Selain sebagai informasi juga ada kalimat perintah, agar Pras ambil alih urusan anak-anak mereka.


“Ibuk Mutia, sudah saya transfer 5 juta atas perintah Pak Pras. Katanya ibuk ada perlu.” Itu isi chat Indah untuk Mutia. Iya … uang 5 juta itu banyak untuk selembar pakaian. Tapi cara Pras memberikan padanya itu yang membuat Mutia jengkel. Mengapa harus selalu Indah yang menjawab semua chatnya. Apa sulitnya sedikit ada waktu untuk membalas chatnya.

__ADS_1


“Ibuk … Raisa dan Radit. Nanti saya yang jemput dari sekolah mereka, karena saya sekalian pulang makan siang di rumah.” Isi chat kedua ini makin membuat Mutia malas untuk menjawabnya.


Mutia merasa urusan rumah tangganya dengan Pras sudah terlalu di campuri banyak oleh Indah, Mutia makin kesal di buat Indah. Itu hal yang membuatnya tidak bersemangat memilih pakaian yang akan ia gunakan. Fokusnya pecah, karena pikiran yang tiba-tiba tidak membuat hatinya nyaman. Egois kan.


Indah yang hanya menjalankan tugas sang pimpinan, harus di cemburui Mutia. Dengan alasan Indah terlalu ikut campur urusan rumah tangganya. Lalu bagaimana dengan Dirga yang kini bahkan tau jadwal PMSnya kapan, akibat info yang di sampaikan oleh Mutia. Saking tak ada tujuan obrolan mereka yang kesininya makin unfaedah.


Mutia memaksa Dirga untuk membeli pakaian atau apapun yang ia inginkan. Bukankah Pras sudah memberinya uanga 5 juta, untuk keperluan hari ini. Untuk mengompensasi perasaan kesalnya. Mutia memindahkan energi kesal itu pada sang kekasih. Dengan ingin memanjakan Dirga dengan uang yang suaminya berikan.


“Gak mau tante … Dirga gak mau tante kasih apa-apa. Dirga cuma butuh waktu dan perhatian tante saja.” Tolak Dirga saat Mutia memaksanya untuk memberli beberapa lembar kemeja. Dan tangan Dirga melingkar di pinggang Mutia, sebagai balasan atas pelukan Mutia selama berada di atas motor yang ia kendarai tadi. Mesra. Yess, dan ini memang tak pernah Mutia dapatkan dari Pras. Mana Pras mau memamerkan kemesraan mereka di tempat umum. Padahal mereka pasangan halal. Apa kabar dengan pasangan haramnya ini, yang sesekali bahkan mencubit pipinya saat saling bicara.


“Mutiaraaaa …” istri Hasan histeris saat melihat Pras dan Mutia memasuki ballroom tempat acara mereka berlangsung.


“Heeeiii … apa kabar say.” Mutia menyambut kegembiraan Vena istri sultan itu tak kalah antusias.

__ADS_1


“Makin cantiik iih, iri deeh. Pak Pras … pinter banget sih bimbing istri. Sampe bisa makin cantik gini, boddy mu makin keren loooh. Sumpah.” Puji Vena, mereka memang lama tidak bertemu. Mungkin setahun lebih. Karena Mutia memang jarang ikut saat pertemuan reuni kecil dengan para sahabat suaminya tersebut.


“Hallo …” Suara bariton terdengar menyapa dari belakang tubuh Vena. Itu Hasan, sang empunya hajat. Setelah berjabat tangan dan berpelukan pada Pras. Hasan pun melakukan hal yang sama pada Mutia. Mereka sudah seperti saudara. Cipika cipiki itu lumrah, bahkan di lakukan di hadapan pasangan masing-masing.


“Nah … itu pak dosen juga datang bawa pawangnya.” Seloroh Hasan menunjuk Berto yang datang bersama istrinya.


“Waaaaw … siapa sih bintang tamunya malam ini. MbakMutia deh kayaknya ...?” Teriak Nabila, istri Berto yang langsung berhambur memeluk Mutia.


“Ngaco banget sih. Bintangnya ya Bang Hasan dan Vena dong ah.” Lerai Mutia dari pelukan Nabila, berganti ke pelukan Berto. Semua terlihat biasa saja. Bahkan Pras ikut tersenyum melihat ke akraban yang terjalin antara sahabatnya dan istrinya, juga para istri sahabatnya. Nabila dan Vena pun melakukan hal yang sama dengannya. Sebab demikianlah tradisi yang mereka ciptakan sejak lama. Lalu mereka pun melanjutkan obrolan di sebuah meja bundar yang sudah di tata dengan rapi.


Adegan drama lama tak bertemu tadi, bagi para pelaku adalah hal biasa sebab memang kerap melka lakukan. Sehingga tidak akan ada hati yang tersakiti di antara pasnagan halal itu. Tapi tidak dengan hati seorang pria yang menggunakan rompi batik yang sama dengan kru lainnya. Itu adalah Dirga.


Dirga yang malam itu ternyata berugas sebagai pengawas jalannya acara malam itu mewakili Even Organizernya. Hatinya emosi. Tersulut, dan terbakar. Saat pipi Mutia bersentuhan dengan pria yang bukan suami kekasihnya. Sungguh posesif si tengil itu.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2