PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 63 : RINDU DALAM HATI


__ADS_3

Mutia sekeluarga sudah kembali ke kota asal mereka menetap. Ia tak lagi mogok bicara seperti niatnya, pada Pras seperti saat ia memutuskan untuk ke rumah sang bunda.


Liburan semester anak-anak sudah usai. Mirip dengan hubungan Mutia dan Dirga yang sepertinya benar telah berakhir. Sebab, Mutia memang membuat ponselnya almarhum. Bahkan sudah sepekan mereka kembali tinggal di kota pun, Mutia tidak berminat untuk mengaktifkan kembali ponselnya.


“Ini apa …?” tanya Mutia pada Pras saat ia baru saja pulang dari Salonnya sore itu, dan Pras sudah terlebih dahulu pulang darinya. Dan melihat sebuah paper bag di atas meja riasnya.


“Sejak dari rumah bunda, aku tidak pernah melihatmu memegang ponsel. Apakah rusak?” tanyanya dengan nada datar seperti biasa.


“Huuum … “ Mutia hanya berdeham. Bingung juga harus menjawab apa. Dan merasa tidak penting juga untuk mengaktifkan benda canggih tersebut. Ia berada dalam satu rumah bersama anak dan suaminya. Dengan saudaranya, ia bisa menggunakan ponsel Raisa, atau tidak saling berkabar sama sekali.


Hampa …


Jangan tanya.


Mutia sudah sangat amat berjuang, berperang dengan batinnya. Untuk melawan rasa rindu menggebu. Hanya sekedar ingin tau, si Dirga lagi ngapain di sana. Tetapi, ia sedang janji pada dirinya sendiri. Untuk tidak memanjakan rasa yang tak pantas untuk di pertahankan. Sampai kapanpun, Mutia tidak bisa jadi masa depan Dirga kan?


“Maaf … lagi-lagi aku memutuskan tanpa bertanya dan persetujuanmu.” Ucap Pras mengangkat paperbag dan menyodorkan isinya pada Mutia. Sebuah kotak dengan desain yang Mutia dapat tebak isinya. Sebuah alat komunikasi, yang di bagian belakangnya bahkan bergambar buah apel tergigit.


“Hah …?” Mutia kaget mendapat sebuah benda mati itu dari suaminya, tanpa di minta. Juga tanpa persetujuannya, seperti yang Pras ucap tadi.


“Buat mama Ra-Ra.” Ujarnya pelan.


“Aku tidak sedang ulang tahun, Mas.” Mutia sedikit bingung.


“Tidak usah menunggu hari spesialkan. Karena sudah lama mama gak pegang ponsel. Ku kira rusak.” Simpulnya sendiri.


“Oh … tidak. Masih bagus kok.” Bantah Mutia.


“Oh … ya ga papa. Jadi punya dua.” Lanjut Pras lempeng.


“Makasih ya Mas.” Jawab Mutia kemudian. Sambil membuka benda canggih itu dengan perasaan bersalah semakin dalam.

__ADS_1


Iya … Pras salah apa sih. Dia itu baik, pake banget. Romantis juga, hanya gak kentara. Liat istri lama gak pegang ponsel aja langsung di beliin ipon, coba. Masa sih Mutia masih tega berslengki ria. Emag si Brondy udah pernah kasih apa.


“Hape mu kenapa sih Mut?” Shane agak meradang sudah dua pekan tanpa tau kabar sahabatnya. Sehingga hari itu ia memutuskan untuk datang ke Salon Mutia.


“Kenapa?” tanya Mutia pura-pura linglung.


“Kamu udah lama gak aktif.” Lanjut Shane.


“Oh … nomorku rusak.” Jawab Mutia pelan.


“Kok bisa …? Trus punya yang baru? Masa gak bisa di urus siih?” Penasaran Shane. Tapi Mutia hanya menggendikkan bahunya. Dan tidak bisa menolak, saat Shane meminta nomor barunya.


‘Mungkin saat hatiku masih sayang


Salahku memutus cinta


Dan kini ku mnyesal


Penggalan backsong mengalun di ruang perawatan Salon yang Mutia miliki. Membuat Mutia sedikit tersinggung, dan kembali terganggu dengan potongan kebersamannya dengan Dirga. Fix, itu si tengil cukup meresahkan. Dan sungguh pernah sudah berada dalam hati seorang Mutia.


“Kesambet apa sih, kok diem?” tanya Shane menyenggol Mutia.


“Biasa aja.” Jawab Mutia yang sungguhterlihat kaku merespon kehadiran Shane.


“Minggu depan kita sudah mulai sibuk ke Villa Nunuk ya …. Nia sama calonnya mau Pre- wed. Kamu tau sendiri, Nunuk cerewet nanyain kamu. Soalnya Cuma kamu yang paling jarang ngumpul sekarang.” Shane mengingatkan.


“Oh … udah makin deket ya acaranya.” Jawab Mutia masih tidak fokus, karena suasana hatinya sungguh sedang tidak baik-baik saja. Kepikiran Dirga lagi, gegara lagu doang.


“Iya … bulan depankan. BTW, mbak Nunuk sekarang lagi happy lho.” Cerita Shane sambil menatap Cia, yang sejak tadi ada di antara mereka dalam ruang tunggu VIP, setelah ia dan Mutia menghitung laba dan ketersediaan stok bahan di salon mereka. Dan Cia paham, dengan tatapan Shane padanya. Berarti, obrolannya dengan Mutia, tidak boleh ia dengar. Cia segera keluar dan menutup kembali pintu khusus itu.


“Mbak Nunuk lagi happy? Bukannya tiap hari dia emang selalu bahagiakan? Uang melimpah gitu, apa sih alasannya galau.” Mutia mulai konek dengan obrolannya bersama Shane, saat mereka hanya berdua saja dalam ruangan itu.

__ADS_1


“Standar bahagianya Mbak Nunuk kan bukan uang, Mut.” Kekeh Shane mengingatkan.


“Truuus?”


“Pacar baru donk.” Derai tawa Shane memenuhi ruangan kecil yang mereka tempati.


“Huuh … gak aneh. Biasa aja.” Jawab Mutia ikut tertawa.


“Tapi kali ini, katanya kek dapat durian runtuh, ha … ha … ha.”


“Lebay banget kalian.” Kilah Mutia.


“Dirga, Mut. Akhirnya … dia bisa deket sama tuh brondong.” Haaaiiissh … jantung Mutia meletup-letup saat runggunya mendengar nama mantan kekasihnya di sebut.


“Owh … akhirnya Mbak Nunuk yang menang kompetisi terbuka kalian.” Sempurna, Mutia ternyata semakin pintar berakting. Tidak ada perubahan raut wajah akibat kekagetannya. Saat mendengar kedekatan Dirga dan Nunuk. Ia bahkan masih sangat ingat, jika Dirga memang pernah mereka jadikan sebagai bahan taruhan.


“Kompetisi itu udah lama kami batalkan. Soalnya pada jalan di tempat Mut. Dirga sempat ilang, ga bis adi hubungi. Dan … hey, siapa dia, sepenting itu harus kami cari-cari. Kan brondong gak Cuma dia kaliii…” Jawab Shane berbagi informasi.


“Nah … apalagi itu oarang pernah ilang, trus hebat dong. Mbak Nunuk yang bisa dapetin.” Lanjut Mutia. Yang aslinya kepo tingkat nasional, pengen tau banget. Gimana caranya Dirga bisa dekat dengan Nunuk.


“Yaah … gak ada tantangannya sih. Saat kami tidak lagi berkompetisi. Tetiba tuh Brondong call Nunuk. Sebel aku. Kenapa ga hubungi akui aja, coba.” Shane merasa nyaman berbagi cerita pada Mutia siang itu.


“Ya kalii … sejak awal, Dirga emang naksir mbak Nunuk.” Mutia menelan air liurnya sendiri. Bibirnya berkata demikian. Tapi tidak hatinya. Ada yang perih dalam kalbunya. Ada luka tak berdarah di sana.


“Gak jelas sih.” Shane menyeruput orens jus di depannya.


“Udah jadian mereka?” Mutia merasa perlu memastikan. Sekiranya ia tau, bahwa hanya dia yang sempat gila menahan rasa rindunya pada si tengil nan ketceh itu. Mutia sempat sakit untuk menahan diri untuk tidak menghubungi Dirga, ia pernah terluka melewati hari tanpa canda tawa bersama pria kesayangannya. Sampai akhirnya, ia terbiasa tanpa kabar dan tanpa perhatian si tamvan itu. Tapi, jika semudah itu, Dirga berpaling bahkan dengan Nunuk. Fix, Mutia hanya main hati sendiri.


“Belom sih. Hanya beberapa hari lalu. Dirga ada call dia. Sekedar bilang. Kalo dia lagi sibuk KKN di sebuah desa. Dan … sebenarnya. Minggu depan kita gak ke Villa. Tapi ke desa tempat Dirga sednag KKN itu.” Ucap Shane pelan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2