Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 99


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 99...


...------- o0o -------...


"Baguslah," ujar Ki Jarok, lantas menaburkan bubuk getah bening ke dalam pedupaan. Seketika ruangan sempit, pengap, dan temaram itu pun dipenuhi asap putih menyendatkan. "Kupikir kautidak bodoh-bodoh amat, Basrèng. Otakmu pasti encer waktu sekolah dulu."


'Terserah elu, deh, Aki-aki!' membatin Basri keki.


"Makasih, Ki."


"Hik-hik."


'Sialan, malah ngetawain dia. Dasar, Bujang Lapuk! Huh!' gerutu laki-laki cungkring itu tambah kesal.


Seharian penuh, Basri dibimbing Ki Jarok menjalani ritual demi ritual disertai ujian pelafalan mantra-mantra. Tidak butuh waktu lama, hampir separuh perjalanan prosesi mereka telah dilewati dengan lancar. Hingga akhirnya, sosok dukun tua itu memberikan kabar penting sekaligus puncak dari semua ujian yang akan dijalankan Basri.


"Kudengar di sebuah kampung di bawah sana, ada seseorang yang baru saja dikuburkan, Anak Muda," kata Ki Jarok terlihat serius. "Namanya Kampung Sirnagalih," ungkapnya menambahkan.


"Kampung Sirnagalih?" Seketika alis Basri merangkak naik beberapa inci. "Itu—"


"Ya, di Kampung Sirnagalih," tukas Ki Jarok disertai anggukan beberapa kali. "Seorang perempuan bernama Sukaesih atau Kesih, masih perawan, dan mati karena bunuh diri."


Tidak sadar, laki-laki ceking itu berseru kaget, "Astaghfirullahal'adziim!" Dukun tua itu tersurut ke belakang dengan mata membulat galak memelototinya. "Eh, maaf, Ki. Saya gak sengaja ngucap begitu."


Dia baru mau melanjutkan penuturan usai menambahkan bubuk getah bening ke atas bara pedupaan. "Uhuk! Uhuk!" Terdengar batuk berat disertai mata merah berair begitu kepulan asap memerihkan itu menyerbu wajah tuanya. "Kautahu apa itu artinya, Anak Muda?" tanya Ki Jarok setelah sibuk mengucek-ngucek perih matanya.


"Arwahnya gak bakal diterima, Ki, karena mati dengan cara bunuh diri dan kondisi keimanannya termasuk kaf—"


"Bukan itu maksudku, bodoh!" sentak dukun itu marah.


"Eh … salah, ya, Ki? Duh, maaf. Soalnya setahu saya, sih, begitu."


"Diam!"

__ADS_1


Eh, iya. Maaf, Ki."


"Dengarkan!" titah Ki Jarok dengan suara menggelegar. "Yang kumaksud itu adalah … kematian perempuan itu sangat memenuhi syarat-syarat atas keinginanmu itu, Basri! Paham kau?" Basri mengangguk. "Bagus! Gali dan ambil tali mayat perempuan itu padaku!"


"Haahhh?!" Basri melongo terkaget-kaget.


"Ya! Gali kuburannya tepat pada tengah malam dan bawa talinya padaku sesegera mungkin malam itu juga," ungkap Ki Jarok menegaskan. "Ingat, harus kauambil dengan gigimu sendiri, Basri!"


"Haahhh?!"


"Jangan pernah kaulepas sejak kauambil dari leher mayat itu! Jika tidak, kautidak akan mendapatkan pengaruh apapun dari tali mayat itu!"


"Ya, Allah!"


"Heh!" Mata tua dukun itu berkilat merah.


"Eh, maafin saya, Ki. Kelepasan ngomong," ujar Basri seraya menghaturkan sembah maaf untuk kesekian kali pada Ki Jarok. Kemudian termenung selama beberapa waktu. Berpikir keras. Mungkin bagian ujian inilah yang menyebabkan kaum pemuja duniawi itu mundur, mengurungkan niat semula dan mencoba menggunakan jalan lain ; yang lebih mudah serta tidak menyiksa diri.


Rencana Basri hendak membongkar kuburan Sukaesih terkendala. Beberapa malam dia mengendap-endap mengawasi titik tujuan, makam itu selalu ramai dijaga oleh warga yang mengaji di sana. 'Sial! Kalo begini terus, kapan aku bisa mengeksekusi mayat si Kesih itu?' rutuk laki-laki tersebut kesal.


"Bagaimana ini, Ki?" tanya Basri pada Ki Jarok usai menuturkan hasil pantauannya. "Di kuburan perempuan itu selalu ada orang yang ngaji sampe Subuh."


"Maksud Aki?"


Ki Jarok mengibaskan rambut putih panjangnya sebelum menjawab, lantas berucap penuh keyakinan, "Ini rezekimu. Lakukanlah malam nanti. Akan kubantu kau dari sini. Hik-hik."


Basri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Apa yang akan Aki lakuin?" tanyanya penasaran.


"Hik-hik."


'Sialan! Malah nyengir dia!'


...-------------------- o0o --------------------...


“Satu-satunya cara agar kau bisa mendapatkan lagi apa yang kau inginkan itu adalah ... kau harus melakukan ritual itu dari awal, Basri,” jawab Ki Jarok akhirnya.


“Dari awal?”

__ADS_1


“Ya, dari awal,” jawab Ki Jarok kembali. “Itu pun kalau kau sanggup.”


“Gak ada cara lain, mungkin, Ki?”


“Kau memintaku atau memerintahku, hah?!” bentak Ki Jarok menggelegar.


Basri langsung ketakutan. “I-iya, Ki. S-saya sanggup ngelakuinnya. S-saya siap, apa pun yang Aki perintahkan pada saya.”


Benar dugaan Basri sebelumnya, pasti itulah cara yang harus dia tempuh. Mengulangi serangkaian ritual tersebut dari awal. Membongkar kuburan di tengah malam dengan rasa ketakutan yang teramat besar. Sebagaimana awal dia melakukannya pada kuburan Sukaesih ....


...-------------------- o0o --------------------...


Sejenak laki-laki kurus itu terdiam membeku pada posisi duduk bersila; merapatkan kedua telapak tangan di dada, memejamkan mata rapat-rapat, kemudian mulai merapal kalimat-kalimat tertentu dengan bahasa yang aneh dan tidak dipahami. Setelah itu, dengan tubuh gemetar terselip rasa takut, dia mulai menggaruk-garukan cakarnya pada permukaan tanah kuburan dengan sekuat tenaga. Begitu seterusnya tiada henti dan tanpa bantuan alat apapun.


"Harus kaukerjakan dengan kedua tanganmu sendiri, Basri," ucap seorang tetua yang dia kenali dan membantunya mengurus prosesi ritual tersebut, beberapa waktu lalu sebelum malam itu. "Jangan menggunakan alat apapun, termasuk saat kau mengambil tali mayatnya. Ingat itu!"


"Bahkan untuk hal terakhir tadi, harus dengan tanganku juga, Ki?" tanya laki-laki kerempeng bernama Basri tadi terkejut.


"Ya."


"Lalu?" tanya Basri was-was.


Sosok di depannya itu tidak serta-merta menjawab, malah asyik mengekeh sendiri sembari mengusap-usap janggut putih panjangnya.


"Hik-hik!"


Basri merutuk sendiri sambil terengah-engah kelelahan, lantas menghentikan sesaat penggaliannya untuk mengambil napas panjang, "Dukun jahanam! Apa harus sesulit ini Ki Jarok menyuruhku menggali kuburan Kesih? Belum pula nanti! Sialan!"


Laki-laki itu kembali menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya melalui mulut. Begitu dia lakukan hingga beberapa kali untuk mengurangi rasa letih. Setelah itu lanjut menggali kuburan tadi dengan cakar jemari. Kali ini lebih kuat dan cepat bagai kesetanan.


'Aku harus cepat-cepat menyelesaikan kerjaan ini sebelum mendekati waktu janari nanti,' membatin Basri dengan bias rasa takut, diam-diam mulai menjalari kisi-kisi hatinya. Sementara ceruk makam sudah mulai terbentuk. Hampir setengahnya digali. Meninggalkan timbunan baru di sekeliling samping kuburan.


Bukan hal mudah, memang, menggali kembali gundukan makam yang sudah berusia hampir sepekan. Tanah padat disertai kerikil dan batu-batu besar, itu yang acap kali menyulitkan Basri lekas mencapai dasar kuburan. Rasa perih tidak lagi dipedulikan, menghunjam ujung kuku dan ruas jemari yang terluka. Entah tergores atau terkoyak. Laki-laki itu sendiri tidak dapat memastikannya di bawah bayang-bayang kegelapan. Namun yang tertentu, resapan deras air hujan sebelumnya benar-benar membantu menggemburkan.


Beberapa waktu kemudian ….


Trak!

__ADS_1


Ujung kuku Basri seperti menyentuh sesuatu. Cepat-cepat dia kembali mencakari tanah, hingga benda yang tadi perlahan-lahan menampakkan bentuknya. Seperti batang-batang bambu yang berderet miring, memanjang tertancap ke bawah.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2