
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 89...
...------- o0o -------...
“Tenanglah, Lis,” ucap Basri kembali seraya merapatkan tubuhnya mendekap Lilis. “Itu cuman mimpi doang, kok. Gak ada yang perlu ditakutkan. Nyatanya ... sekarang kamu ada di sini ‘kan sama saya?”
“Saya takut banget, Kang.”
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan erat, hingga kemudian saling melepas diri.
“Kamu belum menghabiskan makanmu, Lis.”
“Saya gak laper, Kang,” jawab Lilis lirih. “Tolong ... beri saya pelukanmu kembali, Kang. Saya masih merasa takut.”
Basri tersenyum. Segera dia raih tubuh perempuan itu dan menariknya kembali ke dalam pelukan. Beberapa waktu kemudian, perlahan-lahan gerakan-gerakan kecil itu mulai beraksi. Memberi kode bahwa satu sama lain sedang menginginkan hal yang serupa.
Usapan demi usapan yang kian bergerak lincah, saling menyentuh lembut mengundang sensasi khusus di pori-pori. Darah seketika mengalir lebih cepat, dipompa degup jantung yang kian meronta.
“Aku mencintaimu, Akang ....” bisik Lilis lembut seraya menjulurkan ujung lidahnya menyentuh daun telinga lelaki tersebut. Panas sekaligus menimbulkan desiran lain yang kian menggelora. “Aku jatuh cinta sama Akang ....”
Basri melenguh pelan disertai pejaman mata. “Aaahhh .... saya juga suka sama kamu, Lis. Aahhh ... sshhh!”
Perlahan-lahan perempuan itu mendorong kuat tubuh Basri hingga terlentang jatuh dalam kekakuan. Lantas duduk menggunting tepat di atas panggul disertai gerakan-gerakan erotis layaknya penari striptis di panggung eksotis.
Rayuan demi rayuan kian terobral bebas dari bibir Lilis, melenakan pertahanan kewarasan laki-laki seorang Basri hingga lupa akan sosok-sosok lain di rumah yang kini tengah berada dalam kondisi nestapa.
Ya, tentang Lastri dan kedua anak mereka; Aryan dan Maryam.
Di saat bersamaan, ketiganya terkurung di dalam bingung dan tersiksa laksana berada di antara dua pijakan bara. Berharap kehadiran Basri yang tidak kunjung datang serta sulit untuk dihubungi. Semua menjadi gelap gulita. Tidak tahu apalagi yang mesti diperbuat. Terkecuali memutuskan pergi dari rumah kontrakan detik itu juga, daripada bertahan dalam ketakutan mencekam.
__ADS_1
Sementara jauh dari ketiga sosok tidak berdosa tersebut, sang Arjuna malah asyik kemasuk memadu kasih dengan perempuan lain bernama Lilis. Malam yang seharusnya dipergunakan Basri untuk memejam mata, nyatanya berulangkali mereka habiskan untuk berkasih-kasihan mesra. Lelah hanyalah berupa rasa sesaat, tersamar oleh gelora syahwat yang kian membakar jiwa.
Benar-benar memabukkan!
“Lilis, ke mana perempuan itu?” gumam Basri kembali bertanya-tanya bingung. “Apakah ....” Mata lelaki itu tiba-tiba tertuju pada onggokan tas ranselnya yang tergeletak di sudut kamar. Dalam kondisi miring dan ritsleting terbuka.
Bergegas dia mendekat dan memeriksa.
“Astagaaa!” pekik Basri kaget dan mulai panik sendiri. Isinya dalam keadaan acak-acakan. “Jangan-jangan ....”
Seketika raut pucat menggayuti sekujur wajah. Kerongkongan mendadak mengering dan ruang bernapas berubah menyempit.
“Jimat itu! Jimat itu!”
Seisi tas ransel dikeluarkan semua. Diangkat tinggi-tinggi dan dibalikhamburkan sedemikian rupa sampai semua yang ada di dalam terkuras habis. Tetap saja, benda yang dimaksud Basri tidak kunjung ditemukan.
“Anjing!” umpat lelaki itu dengan segenap amarah memenuhi jiwa. “Perempuan setan itu pasti yang melakukan ini semua! Bangsat! Haram jadah! Gua harus segera nyari betina itu sekarang juga! Dasar anjing!”
Cepat-cepat Basri mengenakan sisa pakaian seadanya. Hanya berupa celana jin kotor dan kemeja yang penuh bercak darah kering bekas semalam. Kemudian bergegas mengait tas ransel ke punggung dan menyelinap keluar kamar.
‘Anjing! Perempuan itu pasti sudah kabur jauh!’ gerutu Basri seketika merasa sangat membenci sosok perempuan tersebut. ‘Gilanya lagi, semua perbekalan uang gua ludes dibawa betina ****** itu! Gak terkecuali HP gua juga! Bangsat!’
“Bapak mau ke mana?” tanya petugas resepsionis tadi begitu melihat Basri hendak beranjak meninggalkan tempat.
Lelaki itu bingung. “Saya mau keluar dulu sebentar, mencari-cari perempuan itu tadi. Nanti kembali lagi, kok,” ucapnya berbohong, padahal khawatir karena uang sewa kamar belum dibayarkan.
“Tunggu, Pak!” Petugas tadi menahan. “Bapak mau pergi? Silakan diurus dulu biaya-biaya administrasinya, Pak.”
“Enggak, kok. Saya bukan mau pergi, tapi cuman mau nyariin perempuan tadi itu. Semua uang saya ada sama dia,” balas Basri berkilah. “Saya pasti balik lagi, kok.”
Tentu saja petugas tadi tidak mau memercayai begitu saja. Apalagi melihat penampilan Basri yang lusuh serta tas ransel di punggung.
“Mohon maaf, Pak. Tapi kami harus ....”
__ADS_1
“Maaf, saya harus keluar sekarang juga. Urusan ini nanti akan saya selesaikan. Oke?”
“Tunggu, Pak!” teriak petugas resepsionis itu refleks. Namun Basri tidak mau memedulikannya. Dia bergegas pergi. “Sekurity! Satpaammm! Kejar orang itu! Dia mau kabuurrr!”
Mendengar teriakan petugas tersebut, spontan Basri pun turut berlari ketakutan. Secepat mungkin dia menghindar dan berusaha menjauh. Sampai kemudian, kejar-kejaran pun terjadi.
“Woy ... tunggu! Jangan lari!”
Langkah Basri malah kian dipercepat. Dia berlari bagai kesetanan dan ingin segera menyelamat diri sejauh mungkin dari petugas keamanan yang mengejarnya.
Situasi benar-benar mencekam. Basri tidak tahu lagi apa yang mesti dia lakukan, terkecuali berlari dan berlari secepat mungkin. Rasa benci dan dendam pada sosok Lilis benar-benar kian membesar. Perempuan itu telah membawa semua barang-barang berharganya. Uang, HP, seperangkat pakaian pangsi yang menyimpan benda Jimat Tali Mayat, serta surat-surat kendaraan bermotor.
“Sial! Sial! Sial!” Basri berulangkali memaki tiada henti. “Kenapa gua gampang percaya sih sama si Lilis? Astaga ... bangsat banget! Seharusnya gua curiga sejak pertama kali dia muncul. Kenapa sampai tahu dimana gua berada. Tapi ini ... aarrggg! Anjing!”
Satu-satunya harapan sekarang adalah menuju rumah kontrakan Juned, tempat dimana selama Basri pergi ke lereng Gunung Halimun, menitipkan kendaraan bermotornya di sana. Memang lumayan jauh, tapi tidak ada pilihan lain. Mau menghubungi ponsel Juned, tidak ada alat komunikasi. Nomornya pun tidak ingat. Bagaimana lagi? Basri cuma bisa melangkah lunglai di antara dera rasa lelah dan lapar.
Lebih dari setengah hari lelaki itu berjalan terhuyung-huyung. Sisa tenaga yang ada pun rasanya sudah nyaris habis. Perut perih minta diisi, sementara sepeser pun uang tidak dimiliki. Akhirnya hanya bisa pasrah, berjalan dan berjalan menuju rumah kontrakan temannya, Juned.
“Cari siapa, Mas?” tanya seseorang begitu menjelang petang Basri tiba di depan pintu rumah kontrakan Juned.
“Saya temannya Juned, Pak,” jawab Basri dengan nafas tersengal-sengal dan beraroma busuk sekali. “Junednya ada gak, ya?”
Sosok lelaki tua berkumis putih yang bertanya pada Basri barusan menjawab, “Ooohh, nyari Juned? Kebetulan, saya ini pemilik rumah kontrakan ini dan tadi menjelang siang, Juned pamit pergi dari sini, Mas.”
“Pergi? Pergi ke mana?” tanya Basri lesu.
“Waahhh, saya gak tahu perginya ke mana, Mas. Tapi yang pasti, sejak hari ini, Mas Juned yang menempati kontrakan ini ... sudah gak akan lagi tinggal di sini, Mas.”
“Maksud Bapak?”
“Mas Juned sudah gak ngontrak lagi di sini, Mas. Pindah, tapi saya gak tahu pindahnya ke mana.”
“Haahhh?!” Basri terkejut lirih. “T-tapi ....”
__ADS_1
“Sebagian barang-barang Mas Juned memang masih ada di sini, Mas,” imbuh lelaki tua pemilik rumah kontrakan tersebut menjelaskan. “Tapi sebelum pergi, Mas Juned bilang ... biarin aja di dalam. Katanya sih, buat saya saja, Mas. He-he.”
...BERSAMBUNG...