
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 21...
...------- o0o -------...
Sosok kerempeng itu pun mulai mengayun langkah, meninggalkan rumah kontrakan serta orang-orang terkasihnya. Berjalan menyusuri gang sempit, melewati tempat langganan belanja Lastri di kampung tersebut ; warung milik Bariah.
"Berangkat, Mas Basri?" tanya wanita itu begitu sosok laki-laki tersebut lewat di depan warung. Basri tersenyum ramah, lalu menjawab, "Iya, Bu Bariah. Mari, Bu." Dia tidak ingin berlama-lama berada di sana. Apalagi melihat sorot mata Bariah yang aneh, seakan ingin menyelidik lebih jauh.
"Eh, Mas Bas, … emang sekarang Mas Basri kerja di mana, sih?" Bariah lekas mengejar keluar dari dalam warung.
Laki-laki itu tertegun dan spontan berhenti melangkah.
"S-saya … kerja kayak biasa, Bu, di kota," jawab Basri gelagapan. "Biasalah, Bu. Jadi kuli. He-he."
Bariah tersenyum-senyum sendiri. Ujar wanita itu berlanjut, "Lah, kalo ada lowongan kerjaan itu, ajak-ajaklah anak saya si Supri, Mas. Udah kelamaan dia nganggur. Kasihan."
Basri menggaruk kepala. Bingung mau menjawab apa, tapi berusaha tenang bersikap di depan sosok yang satu ini. Salah sedikit, bisa-bisa jadi bahan gunjingan warga sekampung Cijèngkol nanti.
Jawab laki-laki tersebut akhirnya, "O, iya, Bu. Nanti saya tanya-tanya dulu sama mandor saya. Siapa tahu lagi butuh tambahan tenaga kerja."
"Nah … 'gitu, dong," ujar Bariah senang, "tapi … ya, jangan yang berat-berat juga, Mas. Kalo bisa, sih, kerjaan yang ringan, tapi gajinya gede. Hi-hi."
"He-he." Basri ikut tertawa hambar. "Nanti saya coba tanyain, ya, Bu. Sekarang saya pamit mau—"
Tukas Bariah cepat-cepat menghampiri, "Eehhh, buru-buru amat Mas Basri ini. Saya belom beres ngomong, lho, Mas. Ih!"
Basri mengurungkan langkahnya. "Ada apalagi, ya, Bu? Saya …."
__ADS_1
"Begini, lho, Mas Basri … kalo bisa … kalo bisa nih, ya … hi-hi, kerjaan kayak Mas Basri ini. Seminggu bisa bawa duit banyak. Maaf nih, ya, Mas. Saya jadi banyak minta. Hi-hi."
"Maksud Bu Bariah ini apa, ya?" Laki-laki bertubuh kerempeng itu mulai membaui aroma tidak enak dari obrolan wanita tersebut. "Saya gak ngerti," imbuh Basri kembali, lebih berhati-hati.
"Aahhh, Mas Bas ini. Ih!" Tanpa ragu-ragu sosok janda itu menepuk lengan Basri diiringi senyumannya yang dibuat semanis mungkin. "Jangan pura-pura gak paham, Mas. Saya tahu, kok, sekarang Mbak Lastri lagi banyak duit. Itu hasil Mas Basri ngilang seminggu yang lalu itu, 'kan? Kerja apaan, sih, Mas? Hi-hi, jadi kepo saya."
Wah, gawat! Pikir Basri. Ini bukan lagi obrolan sehat. Ini jebakan.
"Eeuummm, maaf saya lagi buru-buru, Bu," ujar laki-laki itu mencoba menghindar. "Keburu siang, nanti dimarahin sama mandor saya. Maaf, ya, permisi."
"Eh, Mas Basri! Tunggu dulu, Mas!" panggil Bariah sambil melambai-lambaikan tangan. Namun suami Lastri itu tidak mau mendengar. Langkahnya semakin cepat menjauhi. "Ih, dasar! Lagaknya takut kesiangan. Padahal saya tahu, pasti dia sudah janjian sama … sama ... siapa, sih, itu? Eeummm ... oh, temen bisnisnya! Preettt! Temen bisnis? Paling juga temen begalnya. Hih! Mudah-mudahan saja kamu cepet ketangkep sama polisi, Basri! Huh!" Wanita itu menggerutu sendiri.
Tiba-tiba dari arah dalam rumahnya, terdengar seseorang berteriak pada Bariah, "Maahhh, ****** Usup udah dicuciin belom, sih? Usup mau pake tapi, kok, gak ada satu-satu acan, yak?"
Bariah mendelik marah. Dia pun segera kembali ke dalam rumah menghampiri asal suara tadi. "Heh, Supri! Ngotak dikit kamu itu kenapa, sih! Badan gede, umur udah mulai tua, kerja belom, kawin gak laku-laku, tibang mau pake cangcut doang masih nanya-nanya sama Mamah? Mikir, dong, Supri!"
Jawab Supri yang masih mengenakan handuk melilit di pinggang, "Lah, dari tadi juga Usup mah mikir, Mah. Itu ****** punya Usup ditaroh di mana, 'gitu. Makanya nanyain sama Mamah."
"Au, ah, Supri!" Bariah kesal. "Cari aja sendiri sana!"
"Masih direndem, noh, di ember, Supri!"
"Lah … kok, bisa?"
Jawab kembali Bariah makin keki, "Sengaja Mamah biarin, tuh, udah seminggu ngejogrog di rendeman. Biar kamu mikir dan belajar ngurus sendiri."
"Seminggu? Ya, ampun, Mamah! Rendeman pake dibiarin semingguan, bisa-bisa udah bau berak codot, Mah!"
"B-o-d-o a-m-a-t!" eja Bariah ingin puas.
"Mah!"
__ADS_1
"Au, ah!"
"Ih, Mamah."
"Huh!"
...------- o0o -------...
Mbah Jarwo duduk termenung di atas kursi di depan rumahnya. Sebentar-sebentar mata lelaki tua itu menyipit, menatap lurus ke depan seperti tengah berpikir-pikir.
'Lentera itu ….' membatin sosok tersebut memeras otak. 'Kenapa aku begitu tertarik dengan jenis lampu itu, ya? Hhmmm, apa mungkin itu milik si pelaku pembongkaran kuburan almarhumah Sukaesih? Siapa pun bisa saja memiliki lampu model begitu. Tapi buat apa? Hampir semua warga kampungku sudah memasang aliran listrik di masing-masing rumahnya. Lalu, fungsi lentera itu buat apa? Kalaupun sebagai alat penerangan sementara di saat mati listrik, misalnya, kebanyakan orang-orang akan memilih untuk menyalakan lilin atau juga lampu senter darurat.'
Dia mengetuk-ngetuk batok kepala dengan ujung jari telunjuk. Kembali berpikir dan berpikir dengan keras, sambil sesekali memejamkan mata dan manggut-manggut sendiri.
'Apa mungkin juga … lentera itu ada hubungannya dengan seseorang yang—'
"Assalamu'alaikum, Mbah," ucap seseorang memberi salam dan langsung mengejutkan sosok tua Kepala Kampung Sirnagalih tersebut. Dia segera menoleh, kemudian ….
"Eh, Dam! Syukurlah, akhirnya kamu datang juga," seru Mbah Jarwo begitu mengenali sosok yang baru datang itu. Sadam, orang kepercayaan Juragan Juanda. "Kemarilah, duduk di sini."
"Iya, Mbah," ujar Sadam seraya memilih kursi kosong di sebelah Mbah Jarwo. "Maaf, Mbah, saya datang agak siangan. Soalnya ada urusan dulu dengan Juragan."
"Oh, iya. Gak apa-apa. Gak masalah. Yang penting sekarang kamu sudah datang."
"Iya, Mbah," kata Sadam seraya melirik ke arah gelas kopi dan kukus pisang di atas meja di antara mereka. Seketika jakun lelaki ini pun bergerak naik, menelan ludah. "Ngomong-ngomong, ada apa, ya, Mbah nyuruh saya datang? Ada sesuatu yang penting, ya, Mbah?"
Sebelum menjawab, terlebih dahulu Mbah Jarwo menyeruput kopina dengan nikmat. Suaranya begitu menggoda, tapi teramat menyiksa bagi seorang Sadam yang hanya bisa melongo, ikut tergiur.
"Penting sekali, Dam," jawab Mbah Jarwo beberapa saat kemudian. "Ini mengenai kuburan anak majikanmu itu."
"Oohh, Sukaesih."
__ADS_1
"Ya, itu," timpal tetua Kampung Sirnagalih tersebut, kali ini sambil mencomot potongan kukus pisang tanduk atau pisang galèk. "Kamu sebagai tangan kanan Juragan Juanda, tentunya sudah ngobrol banyak dengannya, bukan?"
...BERSAMBUNG...