Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 73


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 73...


...------- o0o -------...


Tubuh Basri terkapar dalam balutan hawa dingin menggigilkan. Hanya beberapa saat, sampai kemudian melenguh lemah menahan rasa sakit yang mendera sekujur badan.


“Aaahhh ... uuhhh,” erang lelaki ceking itu bergerak-gerak menggeliat. Kemudian mencoba membuka kelopak mata perlahan-lahan. Samar-samar seperti melihat ada bias sinar temaram di sana. ‘Ya, Tuhan! Sakit sekali seluruh persendian badanku. Ini ... ini ... sekarang aku ada di mana pula?’


Basri berusaha membuka mata lebar-lebar. Memerhatikan sekeliling yang rasanya tidak begitu asing. Hamparan tanah lembap tempat dimana dia terkapar lemah, dinding daun ilalang kering, serta langit-langit beratap rumbia. Sedikit dia dapat melihat, sorot kecil cahaya di atas sana yang berasal dari sinar matahari. ‘Sial! Apa sekarang sudah berganti pagi? Ini ... ini ... seperti tempat ... Ki Jarok,’ membatin lelaki tersebut di tengah usahanya hendak bangkit, menopang pada pijakan sikut lengan. ‘Ya ... ini gubuk dukun tua itu! Ah, syukurlah ... aku sudah berada kembali di sini. Uuhhh ... sakit sekali pinggangku ini! Ah, Tuhan!’


Susah payah Basri terduduk dengan getar tubuh menahan rasa nyeri dan terjangan semilir dingin angin yang mengujam kulit.


“Aahhh ... di mana Ki Jarok? D-dia ... d-dia ....” Mata laki-laki itu tiba-tiba lekat menatap sesosok manusia yang tergolek tidak jauh darinya. Tepat berada di depan bekas pedupaan yang sudah padam, tidak lagi mengepulkan asap putih sebagaimana semalam. ‘Ki Jarok? Astaga ... diakah itu?’


Memang benar, sosok tersebut tidak lain ada Ki Jarok. Dukun tua itu tergolek di atas hamparan tembikar yang biasa dia gunakan untuk duduk di depan kepulan dupa. Sama-sama dalam keadaan polos seperti halnya Basri saat itu.


“Ki! Aki! Bangunlah!” panggil lelaki ceking itu bermaksud hendak membangunkan Ki Jarok. Ditunggu sekian lama, tubuh itu tidak juga bergerak. Kemudian Basri beringsut sedikit demi sedikit untuk mendekat sambil menahan rasa ngilu di badan. Ditepuk-tepuknya tubuh tua tersebut sembari kembali menyebut-nyebut namanya. “Ki Jarok! Ki Jarok!”


“Uummhhh ....” erang Ki Jarok kemudian. Menggeliat perlahan.


“Apa yang terjadi sama Aki?” tanya Basri diliputi rasa heran.

__ADS_1


Dukun tua tersebut belum mau menjawab. Dia mulai membuka mata dan mengangkat kepala perlahan-lahan. “Eh, Basreng! Sudah bangun juga rupanya kau, Anak Muda!” ujarnya begitu menatap lama sosok yang berada di sampingnya. “Uuhhh ... sial! Rasanya pinggangku sakit sekali!”


‘Apa yang terjadi pada Ki Jarok? Mengapa dia pun terbangun dalam keadaan bugil?’ membatin Basri dibalut berbagai pertanyaan dan rasa heran. ‘Jelas-jelas sukmaku semalam dibawa oleh anak buah makhluk jahanam cabul itu. Lantas, apa yang terjadi setelah itu? Apakah dukun peot ini ....’


“Heh, Basreng! Apa yang kaulihat dariku?” sentak Ki Jarok mengejutkan. “Cepat kaupakai pakaianmu sebelum aku muntah melihatmu!”


“Aki sendiri telanjang,” balas Basri tidak mau kalah. “Apa yang sudah Aki lakuin sama saya?” tanya laki-laki bertubuh ceking ini, langsung disambut delik geram mata tua Ki Jarok. “Kaupikir aku yang berbuat itu padamu, hah?! Sembarangan! Jangan kurang ajar kau, Anak Muda!” sentak dukun tua tersebut. “Tua-tua begini aku masih menyukai perempuan muda, Basreng. Kauingat itu!”


Cepat-cepat Basri meraih onggokan baju pangsi hitam di lantai tanah yang dia lepas semalam. Masih dengan kondisi tubuh lemah dan sakit di beberapa bagian. “Uuuhhh ... apa ini?” tanyanya meringis kesakitan begitu merasakan sakit dan perih di bagian belakang pinggang. “Luka? Bekas apa ini? Auuhhh ... sakit sekali.”


Ki Jarok melirik sejenak ke arah Basri yang tengah memeriksa bekas luka yang dia maksud barusan. “Bagaimana malammu tadi, Basri? Kaumenikmati bercinta semalam penuh dengan Ratu Galimaya? Hik-hik!”


“Bagaimana Aki tahu?” tanya Basri terkejut.


“Tunggu ....” Basri mendekati sosok Ki Jarok. “Jadi semalam itu yang Aki maksud ritual tahunan yang harus saya lakuin? Cuman memenuhi hasrat cabul makhluk jejadian itu? Hanya itu?”


“Jaga mulutmu, Basri!” sentak Ki Jarok disertai tatapan tajam. “Setidaknya ... dialah yang selama ini telah menjaga dan membantumu untuk meraih kekayaan. Itu yang harus kauingat!”


“Hanya itu?”


“Menurutmu?” Balik bertanya Ki Jarok. “Hik-hik ... ada hal lain yang kelak akan segera kauketahui. Tidak berapa lama lagi.”


“Apa itu, Ki?” Basri penasaran.


“Nanti kau akan tahu sendiri, Basri,” jawab dukun tua itu menegaskan. “Kau tidak dengar kata-kataku barusan?”

__ADS_1


“Tentu saja aku dengar, Ki,” kata lelaki bertubuh kurus kering itu sembari meringis-ringis menahan rasa perih di pinggangnya. “Ada banyak hal yang belum saya pahami. Salah satunya tentang kejadian semalam itu.” Dia menatap lekat-lekat Ki Jarok. “Saya ... melihat ada Sukaesih di sana, Ki.”


Sejenak, Ki Jarok tampak terkejut. Tapi buru-buru dia mengalihkan pandangan dari tatapan Basri. Merapikan kembali pakaian yang baru dikenakan sambil memutar badan, menyamping di sisi lelaki ceking tersebut.


“Saya tidak tahu pasti, apakah benar itu dia atau cuman seseorang yang mirip Sukaesih?” Bertanya-tanya sendiri Basri tanpa memedulikan apakah dukun tua itu mendengarkannya atau tidak. “Waktu saya panggil namanya ... Kesih ... Sukaesih ... dia menyahut dan sempat berkata-kata gak jelas. Tapi aku yakin sekali kalo dia itu adalah—”


“Jangan percaya apa yang kaulihat di sana, Basreng,” tukas Ki Jarok tiba-tiba. “Bisa jadi apa yang kausaksikan itu hanyalah tipuan mereka saja. Dunia mereka adalah dunia kegelapan. Dengan mudah para penghuninya mengubah rupa seseorang seperti halnya yang kaulihat semalam itu. Lagipula, bukannya Sukaesih itu sudah mati? Kau sendiri yang menggali kuburan dan mencuri tali mayat perempuan itu. Iya, ‘kan?”


Basri mengangguk. “Saya tahu itu, Ki. Saya masih ingat jelas. Tapi ... mengapa harus ada sosok lain yang diserupakan dengan Sukaesih, Ki?”


“Sudahlah. Tidak usah kaupikir macam-macam. Itu urusan mereka sendiri. Yang penting kau sudah menunaikan kewajiban ritual tahunanmu. Itu saja yang harus kauingat. Jangan yang lain!”


‘Ritual macam apa itu? Hanya sekedar memenuhi hasrat cabul makhluk perempuan jejadian itu. Huh, apa bedanya dengan apa yang pernah aku lakukan bersama Lilis beberapa bulan lalu?’ membatin Basri di dalam hati. Tidak berani mengucapkan secara langsung karena takut kembali disentak Ki Jarok seperti tadi. ‘Sialnya, semalam aku nyaris tidak bisa berhenti sama sekali untuk melayani Ratu Galimaya. Benar-benar menguras tenaga dan seluruh tubuhku dibuat seperti remuk tak tersisa! Dasar ... makhluk cabul!’


“Aahhh!” Basri mengerang kesakitan saat hendak bangkit berdiri. “Sakit sekali, Ki, pinggang saya.”


Ki Jarok menoleh, lantas lekas mengambil sesuatu dari dekat pedupaan. Sebuah bungkusan dari dedaunan besar yang dilipat sedemikian rupa. “Oleskan ramuan ini, Anak Muda. Besok lukamu itu akan segera mengering rapat,” katanya seraya menyodorkan obat yang dimaksud.


“Apa ini?” tanya Basri.


“Jangan banyak tanya! Oleskan saja pada lukamu!”


“Maksud saya ... luka di pinggang saya ini, Ki,” ujar lelaki ceking itu menjelaskan. “Seingat saya, semalem luka ini belum ada.”


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2