
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 32...
...------- o0o -------...
Mbah Jarwo meminum air kopi yang tersaji di atas meja. Menyeruputnya penuh nikmat, lantas lanjut bertanya untuk kali ketiga. “Biasanya berapa lama dia pergi nguli begitu, Las?”
“Paling sekitar tiga atau empat hari, Abah. Tapi ....” Ucapan Lastri terhenti sejenak begitu kedua anaknya muncul dari luar, meminta uang untuk jajan. “Jangan jauh-jauh mainnya ya, Kak-Dek,” ujar perempuan itu usai memberikan dua lembar uang lima ribuan kepada mereka. Mbah Jarwo dan Emak Sari memperhatikan dengan saksama.
“Iya, Bu!” jawab kedua anak tersebut riang. Kemudian kembali ke luar dengan uang di tangan masing-masing.
“Tapi apa, Nak? Kamu belum nerusin omongan barusan,” ujar Emak Sari penasaran. “Si Abas udah dapetin kerjaan baru?”
Lastri tersenyum, lantas melanjutkan kalimatnya yang terpotong tadi. “Ya, begitulah, Ambu. Sudah beberapa bulan ini, Kang Basri sibuk sama kerjaan barunya.”
“Di mana?” Lanjut wanita tua itu bertanya.
Jawab Lastri, “Masih di kota. Katanya, sih, ada teman lama Kang Basri yang ngajak kerjasama, ‘gitu. Jadi mandor peternakan ayam kalo Elas gak salah inget, Ambu.”
__ADS_1
“Kayaknya kerjaan baru suami kamu itu lebih enak ya, Las? Upahnya lebih gede, mungkin?” Mbah Jarwo menerka-nerka.
Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu. Sejak awal tiba di rumah kontrakan anak-menantunya tersebut, Mbah Jarwo dan Emak Sari berkeliling melihat-lihat seisi ruangan. Banyak sekali perubahan yang terjadi di sana. Kulkas, televisi, penanak nasi, hingga kompor gas terbaru tampak megah menghiasi. Berbeda jauh dengan keadaan sebelumnya, jauh beberapa bulan yang lalu sewaktu mereka datang berkunjung. Ditambah lagi dengan pemberian uang jajan kepada Aryan dan Maryam tadi. Begitu mudah tanpa drama menyedihkan sebagaimana biasa.
“Alhamdulillah, Abah. Sedikit demi sedikit, keuangan rumah tangga kami pun jadi membaik,” jawab Lastri. “Gak kayak dulu. He-he.”
“Alhamdulillah, Nak. Syukurlah. Ambu dan Abah ikut seneng dengernya,” timpal Emak Sari seraya menarik napas dalam-dalam. Namun di dalam hati wanita tua tersebut, timbul pertanyaan lain; mengapa Basri tidak pernah menceritakan hal tersebut saat terakhir berkunjung ke Kampung Sirnagalih dulu. ‘ ... Mungkinkah anak itu belum mau bercerita karena masih menyimpan amarah terhadap bapaknya? Mungkin juga sedang mencari waktu yang tepat untuk memperlihatkan hasil dari kemandiriannya itu’.
Lain lagi dengan yang ada di dalam kepala Mbah Jarwo. Laki-laki tua malah terlihat beberapa kali memperhatikan suatu arah. Tepatnya pada ambang pintu kamar Basri dan kedua cucu kesayangan. “Kalian semua di sini baik-baik saja, ‘kan?” tanyanya kemudian disertai kelopak mata menyipit.
“Alhamdulillah, Abah. Kami betah, kok, tinggal di sini,” jawab Lastri kembali diiringi senyuman semringah. “Apalagi kondisinya gak sesulit dulu. He-he.”
“Hhmmm,” deham Mbah Jarwo tidak lepas memandang ke arah dua pintu kamar tadi. Hal yang sama pun dilakukan lelaki tua tersebut tanpa sepengetahuan Lastri dan Emak Sari sewaktu melihat-lihat tadi, yakni pada saat hendak memasuki kamar mandi. Dia mengusap pundak beberapa kali, merasakan bulu-bulu di kuduknya tiba-tiba meremang. ‘Eh, apa ini?’ tanya Kepala Kampung Sirnagalih itu di dalam hati. Kemudian menoleh ke sekeliling dengan cepat. Tidak tampak apa pun. Hening. Hanya samar-samar suara menantu dan istrinya sedang asyik bercakap-cakap di ruangan lain.
‘Sebenarnya bukan jawaban seperti itu yang aku ingin dengar, Lastri,’ membatin Mbah Jarwo waktu bertanya kondisi terakhir keluarga kecil anak-menantunya tadi. Hatinya kecil laki-laki tua itu berkata bahwa ada sesuatu yang aneh di dalam rumah kontrakan tersebut. Entahlah, dia sendiri belum bisa memastikan lebih jauh. Hanya saja auranya begitu berbeda dengan saat kunjungan-kunjungan mereka sebelum hari itu.
“Kamu yakin hanya itu yang pernah dialami oleh Iyam?” tanya Mbah Jarwo diam-diam menanyai cucu lelakinya, Aryan. Anak tersebut mengiakan dan kembali berujar, “Iya, Kek. Dek Iyam sering kebangun malem-malem dan tiba-tiba nangis ‘gitu di kamarnya. Apalagi kalo Bapak lagi gak ada di rumah.”
“O, iya? Sejak kapan?” Jiwa orang tua itu kian dibuat penasaran. Dia yakin sekali, seusia Aryan saat ini sangat diragukan jika anak tersebut tengah berbohong.
Anak sulung Basri itu berpikir beberapa saat, kemudian menjawab lugu, “Iyan gak inget, Kek. Lupa.”
__ADS_1
“Masa, sih? Cucu Kakek, ‘kan, pinter. Biasanya ingetan Iyan kuat,” kata Mbah Jarwo sedikit mendesak. “Coba inget-inget lagi, Cu. Kakek cuman pengen tahu aja, kok. Gak bermaksud apa-apa.”
Aryan kembali berpikir keras. Sampai kemudian senyumnya mengembang disertai jawaban lantang. “O, iya, Kek. Kalo gak Iyan salah, sejak Bapak lama gak pulang-pulang dulu itu!”
“Oh, ya?”
Benak orang tua itu mencoba mengingat sewaktu mendengar kabar Basri pergi tanpa pamit dari rumah. Lastri sendiri yang bercerita pada saat mengantar dan menitipkan kedua anaknya bersama Mbah Jarwo dan Emak Sari kurang dari setahun ini. ‘Ah, apakah ini hanya perasaan dan perkiraanku saja? Astaghfirullahal’adziim! Ya, Allah ... jangan sampai aku berpikir yang aneh-aneh tentang anakku sendiri! Yakinlah bahwa semua ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan si Abas.’ Hatinya berbicara hal yang sama berulang-ulang. Sampai tidak sadar, Aryan telah beberapa kali memanggil. Bahkan di sana sudah hadir Maryam mendampingi kakaknya.
“Kakek kenapa, sih? Ditanya, kok, malah bengong?” tanya anak tersebut mulai merajuk.
Buru-buru Mbah Jarwo menjawab begitu tersadar, “Eh, iya-iya, Cu. Kakek cuman ... inget sama bapakmu. Udah lama gak ketemu, jadi kangen. He-he. Eh, tadi Iyan nanya Kakek, ya? Tanya apa?”
Aryan mengulang pertanyaannya. “Kakek nginep, ‘kan?”
“Eeemmm ....” Orang tua itu berpikir-pikir.
“Soalnya Iyan kangen sama Kakek. Pengen belajar ngaji lagi sama Kakek kayak waktu Iyan dan Iyam tinggal dititip Ibu sama Kakek dan Nenek dulu,” imbuh Aryan kembali manja. Maryam ikut menimpali, “Beneran, Kek.”
“Lho, kalian di rumah, ‘kan, diajarin ngaji juga sama Ibu dan Bapak?” tanya Mbah Jarwo.
“Iyan sama Iyam mah ngajinya di mushala, Kek. Bukan di rumah,” jawab anak laki-laki tersebut. Ditambahi kembali oleh adiknya, “Iya, Kek. Gak seru, gak kayak ngaji sama Kakek. Sebelum ngaji dan sesudah ngaji, terus sholat berjamaah, deh.”
__ADS_1
Mbah Jarwo tersenyum haru. Ujarnya kemudian, “Di rumah juga, ‘kan, bisa. Minta berjamaah sama Bapak dan Ibu. Sama aja, ‘kan?”
... BERSAMBUNG...